IMF Sebut Ekonomi Gelap, Indonesia Terancam Disalip Vietnam dan Filipina

Mahasiswi Aktif S1 Pendidikan Ekonomi 2020 Universitas Negeri Malang
Tulisan dari Natalia Putri Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar terbaru dalam sektor ekonomi datang dari sebuah proyeksi ekonomi yang dikeluarkan oleh IMF. Proyeksi tersebut menuju pada kondisi ekonomi pada tahun depan, di mana kondisi ekonomi pada tahun 2023 akan menghadapi beberapa tantangan.
Proyeksi ini juga dilandaskan pada krisis ekonomi akibat Covid-19 dan juga karena invasi antara Rusia dan Ukraina. International Monetary Fund (IMF) menyatakan bahwa kerugian yang dialami akibat dari adanya resesi ini mampu mencapai 4 triliun pada 2026. Kemudian dari sisi pertumbuhan ekonomi, pada 2023 diproyeksikan pertumbuhan global mencapai 2,9%.
Untuk menghadapi gelapnya pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan oleh IMF, Indonesia harus mengejar target pertumbuhan ekonomi pada nilai rata-rata global. Hal tersebut harus dilakukan agar mendorong upaya yang selama ini dilakukan pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045.
Perlu diketahui bersama, rata-rata pertumbuhan ekonomi global adalah sebesar 6%. Pelaksana tugas (Plt) Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Vivi Yulaswati menjelaskan "Untuk mencapai target negara maju, Indonesia menghadapi tantangan berat". Tantangan yang dihadapi tersebut salah satunya adalah dampak adanya pandemi Covid-19, sehingga Indonesia sulit menyentuh angka 6%.
Hal yang terjadi jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mencapai angka 6%, maka potensi untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 akan disalip oleh Filipina dan Vietnam. Vivi juga mengatakan bahwa “Kedua negara ini masing-masing diprediksi akan menjadi negara maju pada pada 2037 dan 2043. Kalau kita tidak beres juga untuk pertumbuhan beberapa negara tetangga, seperti Vietnam dan Filipina bisa mendahului Indonesia masuk sebagai negara maju di 2037 dan 2043”.
Menanggapi hal tersebut, maka dibutuhkan berbagai upaya dan strategi yang harus dilakukan pemerintah agar mampu menembus angka 6% untuk pertumbuhan ekonominya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Pencapaian Target SDGs
Seperti yang kita ketahui bersama, tujuan dari adanya program SDGs ini antara lain menempatkan penciptaan kesempatan kerja sebagai pusat dari pembuatan kebijakan ekonomi dan rencana pembangunan, tidak hanya akan menghasilkan peluang kerja yang layak namun juga pertumbuhan yang lebih kuat, inklusif, dan dapat mengurangi kemiskinan.
Sampai saat ini tahapan pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) sudah di depan mata, dan tentunya RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) sampai 2045. Sehingga dengan adanya hal tersebut, maka dapat membantu dalam rangka pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6%.
2) Ekonomi Digital
Hal lain yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah dengan meningkatkan potensi ekonomi digital. Pada tahun 2021 nilai ekonomi digital Indonesia sebesar US$ 70 miliar, di mana nilai ini merupakan nilai tertinggi di Asia Tenggara. Di samping itu nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai US$ 146 miliar pada tahun 2023, di mana pangsa pasar ekonomi Indonesia di Asia Tenggara adalah 40%.
Ekonomi digital ini dapat ditingkatkan dengan melakukan sosialisasi kepada para penduduk usia produktif, di mana mereka pastinya mempunyai potensi dan juga pengetahuan mengenai digitalisasi. Jadi, pemerintah bisa melakukan pengembangan ekonomi digital dengan melibatkan potensi pada anak-anak bangsa ini.
3) Penyusunan RUU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan)
Kementrian Keuangan sedang bekerja sama dengan DPR RI untuk melakukan pengembangan dan penguatan sektor keuangan melalui RUU P2SK. Diharapkan dengan adanya RUU ini dapat menghasilkan sektor keuangan yang dalam, inovatif, dan efisien. Sehingga target Kementerian Keuangan yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara high income pada tahun 2045 dapat terwujud.
4) Pemulihan Ekonomi Nasional
Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai upaya dan strategi dalam menghadapi kondisi pasca pandemi. Salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional adalah dengan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Selain itu, pemulihan ekonomi nasional dilakukan dengan mengambil kebijakan fiskal dan moneter yang komprehensif. Pemerintah juga mengalokasikan dana APBN untuk pemulihan ekonomi sebesar Rp 695,2 triliun.
Upaya dan strategi yang telah disebutkan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga nantinya pemerintah dapat mencapai target pertumbuhan senilai 6%. Melihat hal tersebut, maka diharapkan pertumbuhan ekonomi meningkat dan target untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 dapat tercapai.
