Etika dan Strategi Bisnis Ajaran Rasulullah SAW

Halo, saya seorang mahasiswa yang saat ini sedang menjalani pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tulisan dari Akbar abianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam ajaran agama Islam telah dijelaskan bahwa berbisnis adalah sebagian dari mencari rezeki. Akan tetapi, bagaimanapun sebuah etika jika dilihat dari konteks ajaran Islam. Tentu saja bagaimana agama Islam merupakan agama yang kompleks, semua bentuk bisnis tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Sebuah etika atau perilaku moral seseorang dalam dunia bisnis bisa dikatakan sebagai buah di dalam keimanan yang berdasarkan pada sebuah keyakinan tentang kebenaran Allah SWT.
Setiap manusia pasti membutuhkan finansial guna mencukupi sebuah kebutuhan hidupnya sehari-hari. Oleh karenanya, manusia berusaha memperoleh finansial dengan cara berbisnis. Bisnis yang dilakukan di era sekarang sangat jauh berbeda dengan bisnis yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW zaman dulu.
Nabi Muhammad SAW adalah pedagang sejati, beliau memberikan ajaran bagaimana melakukan perdagangan dengan benar dan profesional. Dua belas tahun usia Muhammad, ketika pertama kali mendapat pengalaman istimewa dalam berpetualang. Sejak itulah Nabi Muhammad SAW melakukan semacam magang yang berguna kelak ketika beliau mengelola bisnis sendiri.
Perilaku Nabi Muhammad SAW sebagai pelaku bisnis sangat menarik untuk dibahas yang mana Nabi Muhammad SAW menjalankan tugasnya sebagai contoh teladan yang baik dalam segala hal, salah satunya perihal aktivitas ekonomi.
a). Prinsip berbisnis (Etika bisnis) Nabi Muhammad SAW
1). Kejujuran
Penjual dilarang membohongi atau menipu pembeli mengenai barang-barang yang dijualnya. Karena keinginan untuk jujur menyebabkan seseorang selalu dapat dipercaya dalam setiap tindakan.
2.) Tidak melakukan sumpah yang berlebihan
Penjual harus menjauhi sumpah yang berlebihan dalam menjual suatu barang, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Berhati-hatilah terhadap sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan", meskipun hal itu dapat meningkatkan hasil penjualan tetapi akan mengurangi berkahnya.
3. Kesepakatan dari kedua belah pihak
Penjualan suatu barang harus berdasarkan kesepakatan bersama dari kedua belah pihak (penjual dan pembeli), atau dengan suatu usulan dan penerimaan. Kesepakatan bersama mengandung arti bahwa semua transaksi harus dilakukan atas dasar persetujuan bersama, bukan secara paksaan maupun penipuan.
4. Takaran, ukuran timbangan yang benar
Dalam perdagangan, timbangan yang benar dan tepat harus benar-benar diutamakan, penjual tidak boleh berbuat curang dalam menimbang atau menakar suatu barang.
5. Menghormati satu sama lain
Dalam berdagang, Nabi Muhammad SAW sangat menghormati dan menghargai hak dan kedudukan pembeli. Beliau melayani pelanggan sepenuh hati dan menganjurkan umatnya untuk menerapkan perilaku tersebut.
Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dipengaruhi oleh kepribadiannya yang dibangun nya atas dasar dialogis realitas sosial masyarakat zaman dahulu dengan dirinya. Kemampuan mengelola bisnis tampak pada keberaniannya.
b). Strategi bisnis Nabi Muhammad SAW
1). Siddiq
Siddiq berarti jujur atau benar, dalam menjalankan bisnisnya, Nabi Muhammad SAW selalu menunjukkan kejujuran dan meyakini betul bahwa membohongi para pelanggan sama dengan mengkhianati mereka. Mereka akan kecewa bahkan tertipu. Akibatnya, mereka tidak akan bertransaksi bisnis lagi.
2). Amanah
Seorang pebisnis haruslah dapat dipercaya, seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam memegang amanah. Dalam konteks ini, amanah adalah tidak mengurangi atau menambah sesuatu dari yang seharusnya atau dari yang telah disepakati. Itu bisa saja dilakukan oleh penjual dan pembeli, setiap seseorang yang diberi amanah harus benar-benar menjaga dan memegang amanah tersebut.
3). Fatanah
Fatanah berarti cakap atau cerdas. Pebisnis yang cerdas mampu memahami peran dan tanggung jawab bisnisnya dengan baik. Nabi Muhammad SAW sendiri mampu menunjukkan kreatifitas dan inovasi guna mendukung dan mempercepat keberhasilan.
4). Tabligh
Tabligh bisa mencakup argumentasi dan komunikasi. Penjual hendaknya mampu mengomunikasikan produknya dengan strategi yang tepat. Dengan sifat tabligh, seorang pebisnis diharapkan mampu menyampaikan keunggulan produk dengan menarik dan tepat sasaran tanpa meninggalkan kejujuran dan kebenaran (transparency and fairness). Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan dirinya sebagai pedagang yang argumentatif dan komunikatif. Sehingga banyak mitra bisnis dan pelanggan merasa senang berbisnis dengannya. Lebih dari itu, Nabi Muhammad SAW mampu memberi pemahaman kepada mereka perihal bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Ajaran agama Islam.
Kesuksesan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pebisnis merupakan satu kesatuan yang utuh dari kemandirian dan semangat berwirausaha. Kejujuran, amanah, kecerdasan, keterampilan, dan pelayanan yang baik, membangun jaringan dan kemitraan serta keselarasan dalam bekerja dan beribadah, suatu faktor penting dalam menggapai kesuksesan sebagai seorang pedagang.
Dalam konteks bisnis, sifat-sifat tersebut dasar dalam setiap aktivitas bisnis yang kemudian berubah sikap dasar manusiawi (fundamental human ethics) yang mendukung keberhasilan.
Ada beberapa prinsip Nabi Muhammad SAW yang bisa dijadikan teladan bagi para pebisnis untuk mencapai kesuksesan. Yaitu menghindari praktek riba, judi, maisyir. Serta ada beberapa kunci kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis yaitu : tabligh, Amanah, fatanah, siddiq. Oleh karena itu bahwa sangat penting dan sangat berperan untuk mengentaskan masalah-masalah ekonomi dan dapat memberikan banyak lapangan pekerjaan bagi orang lain, maka dianggap perlu bagi para pebisnis untuk meniru etika dan perilaku bisnis yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
