Konten dari Pengguna

Mengubah Wajah Pendidikan Inklusif di Nganjuk dengan AI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

In House Training Pemanfaatan Aplikasi Gebang Tinatar untuk Pendidikan Inklusif di SMP Islam Plus An Nahdliyah Gobang
zoom-in-whitePerbesar
In House Training Pemanfaatan Aplikasi Gebang Tinatar untuk Pendidikan Inklusif di SMP Islam Plus An Nahdliyah Gobang

Pernahkah Anda mendengar keluhan guru yang kelelahan karena harus mengerjakan tumpukan administrasi hingga larut malam? Di saat yang sama, masyarakat menuntut guru untuk bisa memberikan perhatian penuh kepada setiap siswa di kelas, terutama di sekolah inklusif. Logikanya sederhana, bagaimana seorang guru bisa berempati dan memanusiakan siswanya, jika energinya sudah habis oleh tumpukan kertas kerja? Sehingga Pendidikan Inklusif sering kali terjebak pada pemahaman yang dangkal.

Masalah Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusif sering kali terjebak pada pemahaman yang dangkal. Banyak pihak mengira bahwa inklusi itu sekadar menempatkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di dalam ruang kelas reguler. Padahal, inklusi sejati adalah tentang memastikan setiap anak, baik reguler maupun yang berkebutuhan khusus, mendapatkan ruang untuk meledakkan potensi terbaiknya tanpa halangan.

Namun, realita di lapangan sangat keras. Mengurus keragaman anak dalam satu kelas membutuhkan Rencana Pembelajaran yang sangat rumit dan memakan waktu. Akibatnya, banyak sekolah inklusif yang akhirnya hanya berjalan "asal ada", sementara prestasi siswa regulernya justru tertahan.

Solusi Out-of-the-box dari Dusun Gobang

Menyadari krisis "kelelahan guru" ini, SMP Islam Plus An Nahdliyah Gobang, sebuah sekolah di Kabupaten Nganjuk, mengambil langkah radikal. Jika beban administrasi adalah musuh utamanya, maka teknologi adalah senjatanya.

Sekolah ini merancang dan mengembangkan "Gebang Tinatar" (Gerbang Edukasi An Nahdliyah Gobang, Sistem Pintar Administrasi dan Teknologi Pembelajaran). Sebuah aplikasi cerdas berbasis Artificial Intelligence (AI) dan bahasa pemrograman Python yang dikoding langsung oleh pimpinan sekolahnya.

Fungsi aplikasi ini sangat "savage" yaitu mengambil alih kerumitan draf administrasi guru. Hanya dengan memasukkan parameter dasar dan menekan satu tombol, aplikasi ini mampu menyusun Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM) yang inklusif dan detail dalam waktu kurang dari 3 menit! Tentu saja, sistem ini sudah disetel agar patuh pada regulasi kurikulum nasional terkini.

Dampak Nyata

Dampak dari aplikasi ini sangat luar biasa. Karena mesin telah mengambil alih pekerjaan kaku (administrasi), guru-guru di Gobang kini memiliki kemewahan yang sangat langka di dunia pendidikan yaitu Waktu dan Energi.

Waktu luang tersebut dialihkan sepenuhnya untuk mendampingi siswa secara langsung menggunakan pendekatan Universal Design for Learning (UDL). Di kelas, siswa bebas berekspresi. Yang kesulitan menulis, boleh presentasi lewat video. Yang hiperaktif, diberi pembelajaran berbasis proyek.

Hasilnya mematahkan stigma bahwa sekolah inklusif itu "lambat". Ketika anak berkebutuhan khusus difasilitasi dengan aman, anak reguler justru dilepas rantainya untuk berlari kencang. Buktinya?

  1. Siswa reguler sekolah ini berhasil meraih Juara 3 Nasional Lomba Robotika WIRC 2026 (kategori Robot Soccer Senior).

  2. Mencetak finalis OSN Matematika tingkat Provinsi Jawa Timur.

  3. Sekolah secara kelembagaan meraih penghargaan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Paripurna dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Apa yang terjadi di SMP Islam Plus An Nahdliyah Gobang adalah sebuah manifesto pendidikan. Inovasi ini membuktikan bahwa sinergi antara empati guru dan kecerdasan buatan (AI) mampu menciptakan keadilan yang nyata di ruang kelas.

Keadilan untuk bangsa ini tidak harus selalu menunggu kebijakan makro di tingkat pusat. Keadilan sejati bermula dari bangku-bangku sekolah di desa, di mana anak-anak dengan berbagai latar belakang duduk bersama tanpa stigma, didampingi oleh guru yang bahagia karena terbebas dari belenggu administrasi.