Kelebihan dan Kekurangan Digitalisasi Drama Pada Masa Pandemi

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Noni Fitriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pandemi covid-19 telah banyak mengubah kebiasaan masyarakat dunia, khususnya Indonesia. Masyarakat saat ini mulai terbiasa untuk menambahkan penyanitasi tangan ke dalam daftar barang yang harus ada di dalam tas ketika berpergian. Penggunaan masker juga merupakan era baru dari gaya hidup masyarakat Indonesia yang muncul semenjak adanya covid-19. Peningkatan sistem imun juga berbondong-bondong dilakukan, mulai dari mengonsumsi vitamin dan suplemen, hingga melalui kegiatan olahraga dan berjemur. Pandemi yang terjadi tentu saja tidak hanya membuat perubahan kebiasaan masyarakat dalam hal kebersihan dan kesehatan. Banyak sekali aspek-aspek lain yang terpengaruh cukup besar, salah satunya adalah aspek seni susastra. Dewasa ini, seni susastra Indonesia telah mengalami berbagai perubahan iklim dan situasi, hingga tiba pada situasi digital yang menghantui di manapun dan pada kegiatan apapun.
Drama merupakan salah satu bentuk seni yang telah lama mendiami khazanah kesusastraan Indonesia. Tidak seperti cerpen, puisi, pantun dan novel yang dapat disajikan tanpa pementasan (cukup dengan dibaca sendiri saja), drama justru lahir sebagai karya sastra yang sangat memerlukan pementasan dan penonton. Di tengah musim pagebluk atau pandemi ini, pementasan drama tentu saja mengalami banyak kesulitan. Diciptakannya banyak peraturan yang melarang adanya kerumunan dan kegiatan di luar rumah, peraturan tentang sejumlah tes kesehatan yang harus dijalani pra kegiatan, serta berbagai macam protokol yang ditetapkan pemerintah untuk menghalau laju perkembangan virus corona ini menyebabkan terhalanginya proses pementasan drama oleh para pegiat seni teater.
Pandemi covid-19 melahirkan sebuah tuntutan untuk melakukan segala kegiatan secara daring. Para guru dan siswa, mahasiswa dan dosen, serta para pekerja, semua melakukan rutinitasnya melalui gawai di rumah masing-masing. Tak ayal para pekerja seni atau seniman pada sanggar-sanggar teater juga melakukan hal yang sama. Dari sini, lahirlah berbagai kreativitas sebagai upaya untuk tetap dapat menyajikan drama sebagai pengisi kejenuhan setelah penatnya pembelajaran jarak jauh serta work from home. Era baru drama lahir dengan pendigitalisasian. Artinya, penyajian yang menggunakan sistem dan perangkat-perangkat digital hingga meluas ke media sosial.
Digitalisasi pementasan drama ini dapat dilakukan dengan diawali perekaman adegan oleh pemain, barulah kemudian video hasil rekaman itu dapat ditayangkan atau disebarluaskan melalui kanal youtube, zoom, google meet, laman facebook, atau melalui instagram serta media lainnya. Teknik berikutnya yang dapat dilakukan dalam rangka pementasan drama adalah dengan melakukan siaran langsung melalui media-media sosial yang telah disepakati.
Proses pementasan drama dengan cara seperti ini pada masa pandemi menjadi lebih mudah karena tidak perlu menyiapkan tempat yang sangat luas untuk para penonton dan juga panitia dan tim pementasan juga tidak perlu terlalu repot mengatur penonton ketika akan menyaksikan pementasan drama. Dalam digitalisasi pementasan drama dengan teknik rekaman baru kemudian penayangan, sutradara dan pemain serta tim dalam naskah tersebut memiliki kesempatan untuk merekam adegan berulang kali sampai mendapat kesepakatan "sempurna". Berbeda halnya dengan digitalisasi pementasan yang dilakukan dengan melalui siaran langsung, bila melalui siaran langsung sama artinya dengan penyajian secara langsung meski hanya disaksikan lewat monitor, hal ini membuat penyajian menjadi apa adanya. Di samping itu, tentu saja proses digitalisasi pementasan drama dengan teknik rekam—sebar atau rekam—tayang membutuhkan waktu yang lebih banyak daripada bila melakukan siaran langsung. Beberapa orang memandang hal ini tidak efektif namun sebagian lagi menganggap teknik rekam—tayang ini sangat efisien dan menguntungkan sanggar teater serta pihak terkait pementasan.
Berikut ini adalah beberapa sanggar teater yang pernah melakukan pementasan digital selama masa pandemi, di antaranya Teater Sativa yang menayangkan pementasannya Malam Jahannam di kanal youtube Ruang Sativa, Teater Koma yang menayangkan lebih dari 3 naskah selama masa pandemi dengan tajuk "Teater Koma Pentas di Sanggar", ditambah lagi kanal youtube Indonesia Kaya yang sangat aktif menyajikan berbagai pementasan digital, serta banyak sanggar teater yang juga melakukan hal yang sama.
Pandemi covid-19 telah berjalan hampir menuju tahun ketiga, tampaknya masyarakat sudah mulai terbiasa menjalani rutinitas pandemi yang semuanya serba virtual begini. Hal ini terbukti dari meski kadang mengeluh "jenuh", masyarakat justru bersyukur dengan adanya work from home atau pembelajaran jarak jauh karena dapat membuat kita dapat melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Hampir semua kegiatan dapat dilakukan berbarengan, misalnya memasak, mencuci hingga menonton. Meski dapat dibilang kurang baik, menonton pementasan drama digital di sela-sela work from home dan atau pembelajaran jarak jauh sangat manjur untuk menghilangkan kebosanan serta membangkitkan kreativitas.
Menonton adalah kegiatan yang digemari oleh banyak orang dari segala kalangan usia, terlebih pada remaja. Pada usia ini, remaja biasanya sangat menggemari tontonan-tontonan yang dramatis juga romantis, akankah remaja-remaja Indonesia juga menggemari drama-drama yang disajikan melalui pementasan teater? mari temukan jawabannya dengan mencoba menyaksikan berbagai pementasan drama di kanal-kanal youtube.
Sumber :
https://youtube.com/channel/UCbeGw21y4rKzVbK9mgtI3OA diakses pada 11 November 2021 pukul 23.30 WIB
https://youtube.com/c/TeaterKomaID diakses pada 11 November 2021 pukul 23.45
https://youtube.com/user/IndonesiaKaya diakses pada 12 November 2021 pukul 00.02 WIB
