Memandang Identitas Nasional dari Filosofi Rendang

My name is Siti Zahra Arfiani, student at Faculty of Medicine Jember University. I have an interest in culinary, reading, and travelling. Living with a grateful heart is my life motto.
Tulisan dari Siti Zahra Arfiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makanan adalah salah satu hal yang selalu melekat dalam kehidupan manusia. Ketika kita sedang makan, hampir semua topik pembicaraan bisa dibicarakan dengan santai. Mulai dari sosial, budaya, bahkan politik. Makanan juga bisa menjadi sumber memori dalam hidup seseorang. Ada beberapa hidangan yang biasa di santap saat perayaan hari raya tertentu dan bisa menimbulkan memori menyenangkan setiap menyantapnya. Bahkan, ada seseorang yang rela berkelana jauh hanya untuk berburu sebuah makanan dari daerah tertentu. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa makanan itu erat sekali kaitannya dengan kehidupan manusia.
Sepiring makanan tidak hanya memiliki nilai untuk memenuhi kebutuhan nutrisi manusia saja, tetapi dibalik semua itu, sepiring makanan juga memiliki nilai sejarah dan filosofinya tersendiri. Dalam satu piring makanan kita bisa melihat banyak hal mulai dari sejarah awal dibuatnya makanan tersebut, bagaimana proses pembuatannya, sampai cerita dari orang yang menyuguhkannya. Makanan yang ada di suatu negara lahir dan tercipta akibat adanya hasil kreativitas dan lintas kebudayaan. Adanya percampuran dan lintas kebudayaan inilah yang membuat setiap negara memiliki makanan atau hidangan khasnya masing-masing, termasuk Indonesia. Karena hal tersebut, bisa dikatakan bahwa makanan adalah salah satu produk kebudayaan dan merupakan salah satu identitas bangsa.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang memiliki keberagaman budaya yang sangat banyak. Adanya keberagaman budaya ini membuat Indonesia memiliki makanan tradisional yang sangat variatif dan memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas bangsa di forum internasional. Salah satu makanan dari Indonesia yang identik dengan identitas bangsa dan memiliki julukan ‘National Cuisine of Indonesia’ adalah rendang. Karena kelezatan dan kepopulerannya, rendang juga berhasil menempati posisi pertama sebagai makanan terlezat di dunia dalam sebuah poling bertajuk ‘World’s 50 best food’ yang diadakan oleh CNN Go. Hal ini tentunya membuat masyarakat Indonesia bangga dan menjadikan rendang sebagai pemersatu bangsa. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat rendang juga penuh dengan filosofi dan simbol yang diolah melalui proses tahapan tertentu yang membutuhkan kesabaran dalam mengolahnya. Hal ini membuat rendang memiliki unsur budaya dan filosofi yang kuat bagi bangsa Indonesia.
Pada saat negara Malaysia mengklaim sepihak bahwa rendang berasal dari Malaysia, ada sedikit kekesalan dan pergerakan dari masyarakat Indonesia yang bersatu untuk menjaga keidentitasan nasional dari rendang. Hal ini menunjukan bahwa rendang bisa menjadi penguat identitas nasional karena bisa dijadikan sarana untuk membayangkan adanya suatu rasa bersama yang mampu mewujudkan rasa persatuan. Dalam konteks persatuan, dari kasus diklaimnya rendang oleh warga Malaysia ini masyarakat Indonesia terbukti bisa berupaya untuk mempertahankan rendang sebagai identitas nasional dan pemersatu bangsa.
Identitas nasional itu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap masyarakat dan Identitas nasional bangsa Indonesia bisa terbentuk dari berbagai nilai kebudayaan dan keberagaman yang ada di setiap daerah yang nantinya dihimpun menjadi satu kesatuan hingga membentuk identitas nasional bangsa Indonesia. Yang paling penting dalam membangun identitas nasional yang kuat adalah senantiasa menjaga dan mempertahankan identitas nasional tersebut. Salah satu cara untuk mempertahankan identitas nasional adalah dengan mengembangkan nasionalisme dan pelestarian budaya yang bisa dilakukan dengan cara mencintai makanan daerah.
