Membaca Skenario Perang Israel-Iran : Antara Proksi dan Distraksi

Dosen, Pemerhati Politik dan Isu-Isu Internasional, Program Doktoral Kajian Komunikasi Politik dan Diplomasi Universitas Sahid Jakarta.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Fathurrahman Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketegangan militer antara Israel dan Iran yang kian memanas sejak 13 Juni, menandai babak baru dalam percaturan geopolitik global. Perang ini bisa dibaca lebih dari sekadar konflik bilateral sebagai bagian dari dinamika kekuatan besar dunia, khususnya keterlibatan Amerika Serikat. Perang Israel-Iran merupakan episode terakhir membasmi‘’bahaya hijau’’ atau dalam perspektif Leon T.Hadar (1992) sebagai green peril yang selanjutnya aka bergeser ke ‘’bahaya kuning’’ (yellow peril).
Menurut Hadar, pasca perang dingin sebagai ancaman merah (red threat) lembaga kebijakan luar negeri Amerika Serikat telah mulai mencari musuh-musuh baru. Musuh yang berada di puncak daftar momok global baru yang potensial adalah ‘’bahaya kuning’’ yang berasal dari Asia Timur yang diduga mengancam keamanan ekonomi Amerika Serikat, serta ‘’bahaya hijau’’ (gree peril)-hijau adalah warna Islam. Bahaya itu dilambangkan oleh fundamentalis Muslim Timur Tengah–“Fundie,”untuk menggunakan istilah yang dicetuskan oleh The Economist–makhluk seperti Khemeini, dipersenjatai dengan ideologi radikal, dilengkapi senjata nuklir, dan berniat untuk melancarkan jihad kekerasan terhadap peradaban Barat. (Leon T. Hadar, The “Green Peril”: Creating the Islamic Fundamentalist Threat, POLICY ANALYSIS NO. 177, AUGUST 27, 1992)
Di balik operasi militer Israel terhadap Iran, diplomasi dan retorika ancaman, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: Apakah perang Israel-Iran merupakan perpanjangan revolusi ‘’Arab Spring’’ untuk mewujudkan ‘’The New Middle East’’ sebagai ambisi PM Netanyahu dan kepentingan AS di kawasan atau sebagai distraksi strategis AS karena Donald Trump belum bisa mengonfrontasi China sebagai ‘’bahaya kuning’’?
Proksi dan Distraksi
Satu pekan lebih perang terbuka Israel vs Iran berlangsung sejak serangan pertama Israel ke wilayah Iran (13/6/2025), belum ada sinyal kesepakatan akhir de-eskalasi, karena masing-masing baik Israel maupun Iran memiliki alasan ‘’menyerang’’ yang sulit dipertemukan. Hingga saat ini, Netanyahu masih meyakini dapat mengalahkan Iran melalui konfrontasi simistris.
Serangan yang dilancarkan Israel melalui kombinasi operasi udara dan intelijen—direspons langsung Iran dengan peluncuran drone dan rudal balistik-supersonik ke wilayah Israel. Rudal Sijjil yang mampu menempuh jarak hingga 2.000 km sudah menembus Tel Aviv dan merusak sejumlah gedung fasilitas militer Israel. Menariknya, dalam eskalasi perang yang semakin memuncak, Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel belum memutuskan secara tegas kebijakan politik luar negerinya terkait perang Israel-Iran.
Presiden Donald Trump justru menunggu waktu dua minggu untuk memutuskan apakah akan terlibat langsung mendukung Israel menyerang Iran atau memberi opsi perundingan-diplomasi-dengan Iran soal progam nuklir. Artinya, skenario ini bukan sekadar perhitungan waktu, tetapi terkait kalkulasi-kalkulasi taktikal strategis yang sangat detail untuk mengatur pergerakan militernya, logistik, dll. karena wilayah konflik secara teritorial berdekatan dengan basis pertahanan AS-pangkalan militernya di Uni Emirat Arab dan Qatar.
Bagi Benjamin Netanyahu, konflik saat ini menjadi momentum politis dan strategis untuk menguatkan posisinya yang sedang menghadapi tekanan di dalam negeri. Bagi Presiden Trump, perang Israel – Iran juga bisa menjadi momentum untuk mengalihkan isu-isu kebijakan politik kontroversial di dalam negerinya dan menaikkan pamor AS sebagai juru damai di tengah berbagai konflik di belahan duia saat ini. Pada saat Amerika Serikat melakukan upaya diplomasi-negosiasi terkait program nuklir Iran, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu justru mendahuluinya dengan serangan-operasi militer ke wilayah Iran. Di sini, seperti ada ambisi dan kepentingan tersembunyi dibalik dua negara bersekutu di Timur Tengah tersebut menyerang Iran.
Setidaknya, ambisis Netanyahu menyerang Iran saat ini : pertama, untuk mencegah Iran menjadi negara nuklir di kawasan yang dapat mengancam eksistensi Israel. Apa yang dilakukan Netanyahu sebagai strategi pencegahan (deterrence), termasuk mencegah-menghentikan pengaruh regional Iran yang dapat mendukung kelompok-kelompok proksinya seperti Hizbullah di Lebanon, Milisi di Suriah, Irak, Hamas di Gaza dan Houthi di Yaman. Israel sangat khawatir Iran dapat menciptakan lingkaran milisi bersenjata di sekitar perbatasan Israel sebagai "poros resistensi". Pasca revolusi Arab Spring, bahaya hijau ( green peril) sebagaimana digambarkan Leon Hadar (1992) tinggal rezim Iran sebagai kekuatan anti Israel-AS yang belum dilumpuhkan di kawasan.
Kedua, operasi ini menjadi pesan kedigdayaan militer Israel kepada musuh dan sekutu bahwa Israel mampu melakukan operasi jarak jauh, presisi, dan rahasia, termasuk di jantung wilayah musuh seperti Iran. Hanya saja, kalkulasi Netanyahu meleset, karena ternyata kekuatan rudal Iran justru mampu melemahkan kekuatan Iron Dome yang menjadi kebanggaan Israel.
Ketiga, perang Israel-Iran saat ini dinilai sebagai distraksi strategis atau perang perantara (proxy conflict) Amerika Serikat pada saat pemerintahan Donald Trump belum atau tidak siap melakukan konfrontasi langsung dengan China. Amerika Serikat saat ini menghadapi dilema geopolitik ganda ; China dan Timur Tengah. Maka, konflik di Timur Tengah menjadi ruang ‘’manuver terbatas’’ AS untuk mempertahankan hegemoninya. Karena, dari sini, Amerika Serikat akan kembali menjadi digdaya sebagaimana kampanye Trump ‘’make America great again’’. Melemahkan Iran, secara perlahan berarti melemahkan kekuatan sekutu China yang selama ini melawan hegemoni Amerika Serikat.
Beberapa Sekenario
Misi Netayahu dalam perang ini sanga jelas, menyerang fasilitas utama nuklir Iran seperti : di Natans, Fordo dan Isfahan, serta membunuh ilmuwan nuklir dan elit Garda Revolusi. Maka, sebagai proksi dan sekutu di kawasan, Amerika Serikat akan membantu Israel secara logistik dan persenjataan, walaupun tanpa terlibat langsung secara konfrontatif dengan Iran. Dalam konteks perang Israel-Iran saat ini dan implikasinya, ada beberapa sekenario yang bisa dibaca.
Pertama, De eskalasi dan diplomasi: Banyak pihak seperti Rusia, China dan beberapa negara Arab-Islam lainnya seperti Indonesia menginginkan adanya de-eskalasi dan agar AS dan Iran kemabali ke jalur diplomasi. Hanya saja, tawaran yang disampaikan Presiden Trump kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khemenei (menyerah tanpa syarat) secara paksa menuntut Iran mengurangi, bahkan melucuti program nuklir dan militernya secara signifikan—tapi sangat kecil kemungkinannya bagi Iran untuk menerima “menyerah tanpa syarat” seperti yang diinginkan Presiden Trump.
Bagi Iran, menerima tuntutan AS untuk menyerah berarti suatu kekalahan dan kemenangan telak bagi Israel. Tentu ini bukan logika perundingan seimbang yang bisa diterima pemimpin tertinggi Iran saat ini Ayatollah Ali Khemenei. Maka, konflik-perang diprediksi akan berkelanjutan.
Kedua, Konflik meluas dan berkepanjangan: jika Israel terus menekan dan Iran membalas secara bertahap, bisa terbuka perang hybrid yang meluas bukan hanya di kawasan Arab-Timur Tengah, tetapi di tempat lain dimana ada kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya yang mendukung perang terhadap Iran.
Mengutip Kementerian Pertahanan Israel, The Times of Israel (20/6/2025), melaporkan bahwa 14 pesawat kargo yang membawa persenjataan dan peralatan militer untuk IDF mendarat di Israel (Kamis/19/2025) melengkapi 800 pesatawat cargo lainnya yang sudah tiba di Israel sejak pertama perang.
Pengiriman tersebut merupakan "bagian dari upaya untuk memperkuat kesinambungan operasional dan mendukung semua kebutuhan IDF, baik untuk mencapai tujuan perang maupun untuk meningkatkan kesiapan dan persediaan." Ini artinya, Israel sudah menyiapkan sekenario perang untuk jangka waktu yang lama.
Ketiga, Perubahan rezim: Beberapa jam setelah Israel menyerang infrastruktur pertahanan Iran, fasilitas nuklir dan komandan militer Garda Revolusi, termasuk ilmuwan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Neyanyahu menyampaikan pesan lewat pidato yang disiarkan bahwa serangan Israel bukan sebagai permusuhan terhadap rakyat Iran, tetapi sebagai serangan terhadap rezim Iran saat ini dibawah Ayatollah Alie Khamenei.
Netanyahu berharap rakyat Iran juga bisa menggulingkan rezim-pemerintah. Jika skenario ini yang terjadi, akan mengulangi sejarah penggulingan rezim Saddam Husein di Irak tahun 2003. Keputusan strategis yang disiapkan Presiden AS George W Bush (2001-2005, dan 2005-2009) untuk menumbangkan rezim Presiden Saddam Husein saat iu karena dituduh memiliki senjata pemusnah massal yang dapat mengancam stabilitas keamanan di kawasan, serupa dengan langkah Perdana Menteri Netanyahu ketika menyerang Iran saat ini. Perubahan rezim di Iran tidak menjamin terwujudnya stabilitas keamanan di kawasan, justru akan memunculkan faksi-faksi yang mengancam keamanan Israel dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
***
Perang Israel-Iran bukan sekadar lanjutan permusuhan lama, tetapi bagian dari pertarungan pengaruh posisi dan strategi global. Ketika Amerika belum sanggup secara terbuka menghadapi China, konflik ini menjadi distraksi strategis sekaligus medan uji pengaruh, baik bagi AS, maupun bagi kekuatan baru yang menantangnya. Dalam dua dekade terakhir, Amerika Serikat menggeser fokus strategisnya dari Timur Tengah ke kawasan Indo-Pasifik. China telah lama ditetapkan sebagai “rival sistemik” dalam strategi keamanan nasional AS.
Sebagai distraksi, perang ini menutupi kegagalan AS dalam menundukkan China lewat perang dagang, tarif dan teknologi. Ketika Taiwan, Laut China Selatan, dan pasar global terlalu berisiko untuk dikonfrontasi, medan pertempuran di Timur Tengah dianggap lebih terkendali. Sebagai strategi dual-track, AS ingin menjaga dominasinya di dua front sekaligus : melawan China sekaligus menekan mitranya (Iran) secara militer. Dengan membiarkan Israel bertindak sebagai “proksi ekskutor”, AS tetap digdaya tanpa menghabiskan biaya operasi militer langsung yang berbiaya dan beresiko tinggi.
Maka, dalam perang ini bukan hanya siapa meraih kemenangan, tetapi siapa yang benar-benar sedang mengendalikan arah dunia dari balik layar saat ini. (Fath)
