Hilangnya Kekayaan Alam Indonesia

saya sedang menjalani studi saya yaitu pendidikan bahasa mandarin dan saya seorang mahasiswa universitas negeri jakarta (UNJ)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Gregorius Stevanus Radja Asimu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 1850, etnolog asal Inggris, George Samuel Windsor Earl, menggagas istilah Indunesians dan Melayunesians untuk menyebut penduduk di kepulauan Hindia. James Richardson Logan, pegawai pemerintahan inggris di Penang, menggunakan kata Indonesia yang merujuk pada Kepulauan Hindia, seperti yang dikutip oleh Kompas.com. Indonesia merupakan negara tropis yang terdiri atas ribuan pulau dan wilayah lautan yang luas (Maritim). Selain dikenal sebagai negara maritim karena mempunyai wilayah lautan yang luas, Indonesia juga mempunyai hutan hujan tropis terbesar ketiga setelah Brasil dan Kongo. Hutan-hutan di Indonesia membentang dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua). Namun beberapa tahun terakhir ini, Indonesia mengalami kebakaran hutan yang memusnahkan banyak kekayaan flora dan fauna. Hal itu terjadi karena 2 faktor, yaitu faktor alam dan faktor buatan (manusia).
Faktor alam terjadi karena alam yang bertindak sehingga kita sebagai manusia tidak bisa mencegahnya dan menyalahkan alam sebagai penyebabnya. Faktor alam memang jarang terjadi namun faktor buatan sering terjadi karena perbuatan manusia. Laporan National Geographic Indonesia yang mengutip data terbaru WHO menunjukkan bahwa "diperkirakan 80–95% kebakaran hutan di seluruh dunia diakibatkan oleh aktivitas manusia, seperti saluran listrik yang rusak, api unggun yang ditinggalkan, penggunaan peralatan, hingga pembakaran sengaja, ketimbang pemicu alami seperti sambaran petir." Laporan ini menunjukkan tingginya aktivitas manusia dan menjadi peringatan keras bagi manusia agar lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu yang berakibat jangka panjang seperti kebakaran hutan.
Hilangnya sebagian hutan-hutan di Indonesia sebagai paru-paru dunia merupakan perbuatan manusia, Sebagaimana tertulis dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan mengungkapkan bahwa "kegiatan konversi lahan perkebunan terjadi pada tahun 2015 yang dilakukan oleh PT Kaswari Unggul yang memiliki tujuan guna membuka lahan yang baru untuk usaha perkebunan kelapa sawit miliknya dengan cara melakukan pembakaran pada lahan tersebut." Pemerintah sering kali telat bertindak saat api sudah membesar dan langit memerah. Evaluasi dan penegakan hukum terhadap lahan yang terbakar jarang dilakukan sebagai upaya mengurangi dan mencegah aktivitas pembakaran hutan secara liar. "Karena kebakaran hutan dan lahan ini merupakan sebuah tabiat buruk yang seringkali dilakukan oleh masyarakat terutama perusahaan yang bergerak pada bidang perkebunan yang kerap kali melaksanakan kegiatan membakar hutan sebagai pilihan utama yang dilakukan untuk kepentingan membuka lahan yang akan digunakan untuk perkebunannya." Senada dengan itu, studi di Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan tersebut juga memperlihatkan penyebab dari persoalan lingkungan hidup yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
Kekayaan alam di hutan seperti flora dan fauna bahkan terancam punah karena kehilangan dan direbut habitat mereka untuk tinggal dan berkembang biak. Habitat mereka hilang karena aktivitas dan keegoisan manusia untuk memuaskan ego dan kepentingan pribadi. Sebuah riset dari Kompas.com menjelaskan bahwa "di Kalimantan, ada berbagai spesies endemik langka Indonesia seperti burung rangkong, kera bekantan, orang utan, pohon ulin dan banyak spesies anggrek terancam musnah karena akibat kebakaran." Hasil serupa juga ditemukan dalam akun instagram @conversationid yang menjelaskan spesies ikonik terancam hilang di muka bumi yaitu:
Orang utan Kalimantan : populasi orang utan memiliki variasi genetik dari hasil adaptasi lokal.
Bekantan & Trenggiling Sunda : rawa dan mangrove yang terbakar mempercepat kepunahan mereka bahkan belum sempat diteliti.
Enggang Gading (Rhinoplax vigil) : kerusakan hutan membuat genetik mereka menjadi berkurang.
Pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri) : tumbuhan ini adalah ikon Kalimantan dengan waktu pertumbuhan yang sangat lambat namun populasinya menurun.
dalam akun instagram @conversationid menjelaskan bahwa "satwa endemik seperti orangutan kalimantan, enggang gading, hingga pohon ulin tak hanya kehilangan rumah, tapi keragaman genetiknya semakin menurun akibat populasi yang terpecah."
Memiliki hutan-hutan yang banyak serta kaya akan flora dan fauna yang unik dan beragam merupakan hak yang harus kita terima sebagai warga negara Indonesia. Senada dengan itu, dalam Jurnal Kebakaran hutan dan deforestasi: menggali solusi berbasis teknologi dan komunitas menyimpulkan bahwa "Kelestarian ekosistem dan kesejahteraan publik saat ini terancam oleh tingginya angka deforestasi serta kebakaran hutan. Upaya mitigasi dan pemulihan lahan terdegradasi akan berjalan efektif melalui sinergi antara inovasi teknologi dan gerakan sosial. Melalui pemanfaatan citra satelit serta pemantauan udara, yang didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dalam reboisasi, pemulihan ekosistem dapat diakselerasi. Pola integratif ini mampu memperkokoh konservasi lingkungan sekaligus menguatkan peran masyarakat adat atau lokal sebagai pengelola utama hutan."
