AI dan Masa Depan Dunia Kerja

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang yang tertarik pada komunikasi, public speaking, dan pengembangan diri.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rere tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah membayangkan pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam bisa diselesaikan dalam beberapa menit dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)?
Sekarang, hal tersebut bukan lagi sekadar gambaran masa depan. AI sudah mulai digunakan untuk membantu menyusun dokumen, mengolah data, membuat materi presentasi, hingga menjawab pertanyaan pelanggan. Pekerjaan yang dahulu dikerjakan sepenuhnya secara manual kini dapat dilakukan dengan cara yang berbeda.
Perubahan ini tentu menarik. Pekerjaan bisa menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak banyak orang: apakah pekerjaan kita akan tetap dibutuhkan ketika teknologi semakin pintar?
Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri ketika cara bekerja terus berubah.
Bukan Sekadar Takut Kehilangan Pekerjaan
Coba bayangkan seseorang yang bekerja sebagai staf administrasi. Setiap hari, ia menghabiskan banyak waktu untuk memasukkan data, menyusun laporan, dan memeriksa dokumen. Ketika perusahaan mulai menggunakan sistem otomatisasi, sebagian pekerjaannya dapat diselesaikan lebih cepat.
Apakah itu berarti perannya sudah tidak diperlukan?
Belum tentu. Ia mungkin justru perlu mempelajari kemampuan baru, seperti memeriksa ketepatan data, menganalisis laporan, atau membantu menyelesaikan masalah yang muncul dalam proses kerja.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa teknologi tidak hanya berpotensi mengubah pekerjaan, tetapi juga mengubah keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankannya.
Tentu, dampaknya tidak sama pada setiap pekerjaan. Ada tugas yang dapat diotomatisasi, ada pula yang masih membutuhkan pertimbangan manusia, komunikasi, dan pemahaman terhadap situasi tertentu.
Karena itu, menurut saya, terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa semua pekerjaan akan hilang akibat AI. Namun, menganggap perubahan ini tidak akan memengaruhi dunia kerja juga bukan pilihan yang bijak.
Perusahaan Juga Harus Belajar Beradaptasi
Ketika membicarakan AI, kita sering berfokus pada apa yang harus dilakukan oleh pekerja. Padahal, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan perubahan.
Bayangkan sebuah perusahaan yang langsung menggunakan teknologi baru dengan harapan dapat menghemat biaya. Jika karyawannya tidak diberi pelatihan yang memadai, teknologi tersebut justru bisa menimbulkan masalah. Karyawan mungkin kesulitan menggunakannya, hasil pekerjaan bisa keliru, atau proses kerja menjadi tidak efektif.
Karena itu, perusahaan perlu memikirkan kembali cara mengelola sumber daya manusia. Bukan hanya berapa banyak karyawan yang dibutuhkan, tetapi juga kemampuan apa yang perlu dimiliki dan bagaimana kemampuan tersebut dapat dikembangkan.
Di sinilah perencanaan sumber daya manusia menjadi penting. Perusahaan perlu mengenali pekerjaan yang mengalami perubahan, mengevaluasi keterampilan karyawan, dan menyediakan pelatihan yang sesuai.
Alih-alih hanya berfokus pada pengurangan tenaga kerja, perusahaan juga dapat mempertimbangkan bagaimana teknologi membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik.
Bagi saya, penerapan teknologi akan lebih bermanfaat jika diikuti dengan persiapan manusia yang menggunakannya.
Tantangan yang Dihadapi Pencari Kerja
Perubahan ini juga menarik untuk dilihat dari sudut pandang pencari kerja, terutama lulusan baru.
Saat melamar pekerjaan, seseorang mungkin menemukan persyaratan yang semakin beragam. Selain kemampuan sesuai bidang yang dipilih, perusahaan juga dapat mencari kandidat yang mampu menggunakan perangkat digital, memahami data, berkomunikasi dengan baik, dan mempelajari hal baru.
Akibatnya, memiliki ijazah saja mungkin belum cukup untuk membedakan seorang kandidat dari pelamar lainnya. Pengalaman, keterampilan praktis, dan kemampuan beradaptasi juga perlu diperhatikan.
Namun, bukan berarti lulusan baru harus menguasai semua teknologi sekaligus. Langkah yang lebih realistis adalah memulai dari kebutuhan bidang pekerjaan yang ingin ditekuni.
Jika ingin bekerja di bidang administrasi, misalnya, kemampuan mengolah data, menggunakan perangkat perkantoran, menyusun laporan, dan memanfaatkan AI sebagai alat bantu dapat menjadi bekal awal.
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan memeriksa hasil pekerjaan. AI bisa membantu menghasilkan jawaban atau dokumen, tetapi penggunanya tetap perlu memastikan bahwa informasi tersebut benar dan sesuai kebutuhan.
Dengan kata lain, bukan sekadar bisa menggunakan teknologi, melainkan juga memahami kapan teknologi tersebut berguna dan kapan hasilnya perlu diperiksa kembali.
Apakah Semua Orang Harus Menguasai AI?
Menurut saya, tidak semua orang harus menjadi ahli AI. Kebutuhan setiap pekerjaan tentu berbeda.
Seorang akuntan, staf pemasaran, tenaga administrasi, dan tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab yang tidak sama. Karena itu, pemanfaatan AI juga perlu disesuaikan dengan bidang masing-masing.
Hal yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar dan memahami teknologi yang relevan dengan pekerjaan. Kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah juga tetap perlu dikembangkan.
Kita tidak harus mempelajari semuanya dalam satu waktu. Kita bisa mulai dengan mengenali tugas yang sering dilakukan, mencari tahu apakah ada teknologi yang dapat membantu, lalu mempelajarinya secara bertahap.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu seseorang beradaptasi tanpa harus merasa tertinggal hanya karena perkembangan teknologi terasa begitu cepat.
Masa Depan Kerja Bukan Hanya tentang Teknologi
Perkembangan AI memang membawa peluang sekaligus tantangan. Teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi, tetapi perubahan cara kerja juga menuntut kesiapan dari perusahaan dan tenaga kerja.
Laporan Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) mengenai AI generatif dan pasar tenaga kerja di ASEAN membahas besarnya paparan terhadap teknologi tersebut sekaligus pentingnya kesiapan menghadapi dampaknya. Paparan terhadap AI tidak otomatis berarti pekerjaan akan hilang, sebab dampaknya juga dapat berupa perubahan tugas dan cara bekerja.
Sementara itu, World Economic Forum (WEF) menyoroti pentingnya menjaga jalur pengembangan karier bagi pekerja pemula di tengah perkembangan AI.
Kedua pembahasan tersebut mengingatkan kita bahwa masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana manusia dan organisasi mempersiapkan diri.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat menghentikan perkembangan teknologi. Namun, kita tetap dapat memilih untuk belajar, meningkatkan keterampilan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
AI bisa menjadi alat yang membantu kita bekerja lebih baik. Akan tetapi, manfaatnya sangat bergantung pada cara kita menggunakannya.
Jadi, daripada hanya bertanya apakah AI akan mengambil alih pekerjaan kita, mungkin sekarang saatnya bertanya: keterampilan apa yang bisa kita pelajari hari ini agar lebih siap menghadapi dunia kerja esok hari?
Sumber referensi :
International Labour Organization (ILO) — Generative AI and Labour Markets in ASEAN: Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness.
World Economic Forum (WEF) — Artificial Intelligence and the Future of Entry-Level Work.
