Dari Rakyat untuk Rakyat: Mampukah MBG Mengubah Nasib Usaha Mikro di Indonesia?

Mahasiswa Universitas Pamulang, S1 Program Studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alexandria Kedhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun di balik peran besarnya, pelaku usaha mikro masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses permodalan, pemasaran, hingga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Di tengah kondisi tersebut, muncul Gerakan Ekonomi Rakyat (MBG) yang menawarkan pendekatan berbeda: membangun ekonomi dari bawah, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
MBG menjadi menarik karena hadir sebagai gerakan berbasis komunitas yang menekankan pada pemberdayaan, bukan sekadar bantuan. Selama ini, berbagai program pemerintah melalui instrumen seperti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara telah dialokasikan untuk mendukung UMKM, mulai dari bantuan modal hingga pelatihan kewirausahaan. Namun, dalam praktiknya, tidak semua pelaku usaha mikro mampu mengakses program tersebut secara merata. Hal ini menunjukkan adanya celah antara kebijakan yang dirancang di tingkat pusat dengan realitas di lapangan.
Di sinilah MBG mencoba mengambil peran. Dengan pendekatan berbasis komunitas, pelaku usaha mikro didorong untuk saling berkolaborasi, berbagi pengetahuan, dan memperkuat jaringan usaha. Pendekatan ini menjadi penting karena salah satu kelemahan utama UMKM di Indonesia adalah kurangnya konektivitas dan akses informasi. MBG tidak hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama yang memungkinkan pelaku usaha untuk berkembang secara kolektif. Selain itu, MBG juga mendorong pelaku usaha untuk lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital. Di era ekonomi digital, kemampuan untuk memasarkan produk secara online menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha. Namun, tidak semua pelaku usaha mikro memiliki literasi digital yang memadai. Melalui pendampingan dan pelatihan, MBG berpotensi membantu menjembatani kesenjangan tersebut.
Meskipun demikian, efektivitas MBG sebagai gerakan ekonomi rakyat tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keberlanjutan program. Gerakan berbasis komunitas sering kali bergantung pada partisipasi aktif anggotanya. Jika partisipasi menurun atau dukungan terbatas, maka gerakan tersebut berisiko kehilangan dampaknya. Selain itu, masih terdapat kesenjangan dalam hal akses terhadap sumber daya, baik dari sisi pendanaan maupun teknologi.
Di sisi lain, penting untuk melihat bagaimana MBG dapat bersinergi dengan kebijakan pemerintah. Program-program yang dibiayai melalui APBN seharusnya tidak berjalan sendiri, tetapi dapat berkolaborasi dengan gerakan masyarakat seperti MBG. Dengan adanya sinergi ini, jangkauan program dapat diperluas dan dampaknya menjadi lebih optimal. Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengembangan ekonomi.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari ekonomi publik, fenomena MBG memberikan perspektif baru bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus bersifat top-down. Justru, inisiatif dari masyarakat dapat menjadi kekuatan besar dalam mendorong perubahan ekonomi yang lebih inklusif. MBG menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberdayakan, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi agen perubahan.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai apakah MBG mampu mengubah nasib usaha mikro di Indonesia tidak dapat dijawab secara sederhana. Namun yang jelas, gerakan ini menawarkan harapan baru dalam pembangunan ekonomi berbasis masyarakat. Jika didukung dengan kebijakan yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, MBG berpotensi menjadi salah satu solusi dalam menciptakan ekonomi yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan di Indonesia.
