Konten dari Pengguna

Orang Tua Berpisah, Tinggal Bersama Nenek, Apa yang Terjadi pada Mental Anak?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulfia Zikra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Hasil AI

Perceraian sering kali dianggap sebagai akhir dari hubungan antara dua orang dewasa. Padahal, ketika ada anak di dalamnya, perceraian tidak pernah sesederhana “ayah dan ibu berpisah”.

Ada anak yang kemudian tinggal bersama nenek. Ada yang hanya tumbuh bersama ibu. Ada pula yang tetap memiliki kedua orang tua, tetapi tidak lagi mendapatkan kehadiran mereka seperti sebelumnya.

Bagi saya, bagian yang paling sering dilupakan dalam persoalan perceraian bukanlah bagaimana kehidupan ayah dan ibu setelah berpisah, melainkan bagaimana anak menjalani hidup setelah keluarga yang dikenalnya berubah.

Anak mungkin tidak ikut menandatangani keputusan perceraian. Ia tidak memahami seluruh masalah rumah tangga orang tuanya. Bahkan, ia mungkin belum cukup dewasa untuk memahami mengapa dua orang yang paling ia sayangi memilih untuk tidak lagi hidup bersama.

Tetapi anak tetap harus menjalani akibatnya. Di situlah persoalannya. Anak Tidak Selalu Mampu Mengatakan Bahwa Dirinya Terluka

Kita terlalu sering menilai kondisi anak berdasarkan apa yang terlihat.

  • Anak masih sekolah? Berarti baik-baik saja.

  • Masih bermain? Berarti tidak masalah.

  • Masih bisa tertawa? Berarti sudah menerima keadaan.

Menurut saya, cara berpikir seperti ini terlalu sederhana.

Anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengatakan bahwa dirinya sedang sedih, kecewa, bingung, atau merasa kehilangan. Perasaan tersebut bisa muncul dalam bentuk yang berbeda: menjadi pendiam, mudah marah, kehilangan semangat belajar, menarik diri dari lingkungan, atau justru berusaha terlihat sangat mandiri.

Tentu, tidak semua perubahan perilaku berarti anak mengalami gangguan mental. Kita tidak boleh sembarangan memberikan diagnosis.

Namun, kita juga tidak boleh menganggap remeh perubahan yang muncul setelah anak mengalami kehilangan besar dalam keluarganya. Sebab yang hilang bagi anak bukan hanya keberadaan seseorang di rumah. Yang hilang bisa berupa rutinitas, rasa aman, perhatian, dan gambaran tentang keluarga yang selama ini ia kenal.

Ketika Nenek Menjadi Orang Tua Kedua

Kisah anak yang kemudian tinggal bersama nenek sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Nenek sering kali menjadi sosok yang mengambil peran ketika orang tua tidak dapat hadir sepenuhnya. Ia memasak, merawat, menemani sekolah, mengingatkan belajar, bahkan menjadi tempat anak bercerita.

Bagi saya, peran nenek dalam situasi seperti ini tidak boleh dianggap kecil. Namun, kita juga tidak boleh menggunakan kasih sayang nenek sebagai alasan untuk mengabaikan kebutuhan emosional anak terhadap orang tuanya.

Seorang anak bisa menyayangi neneknya sekaligus merindukan ayah atau ibunya. Ia bisa merasa nyaman di rumah nenek sekaligus merasa kehilangan. Ia bisa bersyukur karena dirawat sekaligus bertanya dalam hati mengapa hidupnya tidak seperti teman-temannya.

Kita sering mengira anak hanya membutuhkan seseorang yang memenuhi kebutuhan fisiknya. Padahal, anak juga membutuhkan kepastian emosional: Aku masih disayangi. Aku tidak ditinggalkan. Aku tidak bersalah. Kalimat-kalimat sederhana seperti itu bisa sangat berarti bagi seorang anak yang sedang berusaha memahami perubahan dalam hidupnya.

Jangan Sampai Anak Menanggung Masalah Orang Dewasa.

Menurut saya, persoalan terbesar bukan hanya perceraian itu sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan adalah apa yang terjadi setelah perceraian.

  • Ketika anak dijadikan perantara antara ayah dan ibu.

  • Ketika ia diminta memilih salah satu. Ke

  • tika ia mendengar orang tuanya saling menjelekkan.

  • Ketika ia merasa harus membela salah satu pihak.

  • Atau ketika ia dibuat merasa bahwa perceraian terjadi karena dirinya.

Di titik itu, anak bukan lagi sekadar berada di tengah konflik orang dewasa. Ia mulai ikut menanggung beban yang seharusnya bukan miliknya. Anak seharusnya tidak dipaksa menjadi hakim atas rumah tangga orang tuanya.

  • Ia tidak perlu tahu siapa yang paling salah.

  • Ia tidak perlu memilih siapa yang harus dicintai.

  • Dan ia tidak perlu menjadi tempat orang tua melampiaskan kekecewaan.

Orang tua boleh gagal sebagai pasangan, tetapi mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk tidak gagal sebagai orang tua.

Apakah Tumbuh Tanpa Orang Tua Akan Merusak Mental Anak?

Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Menurut saya, justru berbahaya jika kita langsung memberi label bahwa semua anak yang tumbuh tanpa orang tua akan memiliki mental yang rusak.

Tidak semua anak dari keluarga bercerai akan mengalami masalah psikologis. Banyak yang tetap mampu tumbuh dengan baik, memiliki hubungan sosial yang sehat, berprestasi, dan membangun kehidupan yang mereka inginkan.

Sebaliknya, tinggal bersama ayah dan ibu juga bukan jaminan seorang anak pasti bahagia. Yang lebih menentukan adalah kualitas hubungan yang diterima anak.

  • Apakah ada orang dewasa yang mendengarkan?

  • Apakah anak merasa aman?

  • Apakah ia mendapatkan kasih sayang yang konsisten?

  • Apakah ia memiliki ruang untuk mengungkapkan perasaannya?

  • Apakah ketika ia sedang mengalami kesulitan, ada seseorang yang mengatakan, “Tidak apa-apa, kamu boleh cerita”?

Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar menilai apakah sebuah keluarga terlihat “utuh” dari luar.

Kita Terlalu Cepat Menyebut Anak “Broken Home”. Istilah "broken home" sering digunakan untuk menggambarkan anak dari keluarga yang orang tuanya berpisah.

Masalahnya, istilah tersebut terkadang membuat anak seolah-olah menjadi “rusak” hanya karena keluarganya tidak lagi seperti keluarga pada umumnya.

Saya tidak setuju dengan cara pandang seperti itu. Keluarga boleh berubah bentuk, tetapi masa depan seorang anak tidak otomatis ikut rusak. Justru lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana anak menghadapi perubahan tersebut.

  • Guru dapat menjadi tempat anak merasa dihargai.

  • Nenek dapat menjadi sumber rasa aman.

  • Teman dapat menjadi ruang untuk merasa diterima.

  • Orang tua yang sudah berpisah tetap dapat memberikan kasih sayang.

  • Dan jika diperlukan, bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan ketika kondisi emosional anak mulai mengganggu kehidupan sehari-harinya.

Jadi, daripada terus memberi label “anak broken home”, bukankah lebih baik kita bertanya apakah anak tersebut mendapatkan dukungan yang cukup?

Anak Tidak Memilih Perceraian

Ada satu hal yang menurut saya tidak boleh kita lupakan: anak tidak pernah memilih perceraian orang tuanya.

  • Ia tidak memilih untuk tinggal bersama nenek.

  • Ia tidak memilih untuk melihat ayah dan ibunya dari rumah yang berbeda.

  • Ia juga tidak memilih untuk menjawab pertanyaan teman tentang mengapa orang tuanya tidak pernah datang bersama.

Karena itu, jangan meminta anak untuk menjadi pihak yang paling dewasa dalam situasi yang justru diciptakan oleh orang dewasa.

  • Biarkan anak tetap menjadi anak.

  • Biarkan ia menangis tanpa disebut lemah.

  • Biarkan ia bertanya tanpa dianggap merepotkan.

  • Biarkan ia merindukan orang tuanya tanpa membuatnya merasa bersalah.

Dan yang paling penting, jangan biarkan ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup layak untuk dicintai.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa yang paling menentukan masa depan seorang anak bukanlah apakah kedua orang tuanya masih tinggal dalam satu rumah.

Yang jauh lebih penting adalah apakah anak itu masih memiliki tempat yang aman untuk pulang. Karena rumah bagi seorang anak bukan sekadar bangunan. Rumah adalah perasaan. Perasaan bahwa ketika dunia terasa terlalu berat, masih ada seseorang yang akan berkata:

“Kamu tidak sendirian. Kamu tetap dicintai.”