Konten dari Pengguna

Teman Kelas Tak Lagi Sekadar Teman: Mengapa Prestasi Bisa Memicu Persaingan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulfia Zikra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Hasil AI

Di ruang kelas, tidak semua persaingan diumumkan. Tidak ada garis start, tidak ada peluit, dan tidak ada papan skor. Namun, perbandingan tetap berlangsung: siapa yang nilainya lebih tinggi, siapa yang lebih aktif di organisasi, siapa yang lebih sering dipercaya dosen, siapa yang lebih banyak mengikuti kegiatan, hingga siapa yang lebih dulu mencapai sesuatu.

Yang menarik, persaingan semacam ini sering terjadi di antara orang-orang yang sebenarnya berteman.

Ketika seorang teman memperoleh prestasi, respons pertama yang muncul idealnya adalah ikut senang. Namun, tidak semua orang mampu merasakan hal tersebut dengan mudah. Bagi sebagian orang, keberhasilan teman justru dapat menghadirkan pertanyaan yang tidak nyaman kepada diri sendiri: “Kenapa dia bisa, sementara saya belum?”

Dari sinilah persoalan bermula. Prestasi orang lain yang seharusnya menjadi kabar baik dapat berubah menjadi ukuran untuk menilai diri sendiri.

Ketika keberhasilan teman menjadi cermin

Kita sering memahami diri melalui perbandingan dengan orang lain. Di lingkungan kampus, kecenderungan ini semakin mudah terjadi karena mahasiswa berada dalam ruang yang sama dan menghadapi tuntutan yang relatif serupa.

Mereka mengikuti mata kuliah yang sama, mengerjakan tugas dari dosen yang sama, dan memiliki kesempatan yang kurang lebih beririsan. Akibatnya, pencapaian teman menjadi sesuatu yang mudah diamati.

Ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai tinggi, memenangkan lomba, aktif dalam organisasi, atau berhasil menerbitkan tulisan, pencapaian tersebut tidak berhenti sebagai informasi tentang dirinya. Bagi mahasiswa lain, pencapaian itu dapat menjadi cermin untuk melihat posisi dirinya sendiri.

Masalahnya, tidak semua orang nyaman dengan apa yang mereka lihat di cermin tersebut.

Seseorang yang sedang merasa tertinggal dapat memandang keberhasilan temannya sebagai pengingat atas kekurangan dirinya. Dari sinilah rasa tidak nyaman bisa tumbuh. Bukan selalu karena ia membenci temannya, melainkan karena pencapaian orang lain membuatnya semakin sadar terhadap jarak antara kondisi dirinya saat ini dan kondisi yang ingin dicapai.

Dengan kata lain, terkadang yang kita lawan bukanlah keberhasilan teman, melainkan perasaan tertinggal dalam diri sendiri.

Persaingan yang tidak pernah dibicarakan

Berbeda dengan kompetisi resmi, persaingan antarteman kelas tidak memiliki aturan yang jelas. Tidak ada yang secara terbuka mengatakan sedang berusaha mengalahkan temannya. Persaingan itu justru muncul melalui hal-hal kecil.

Komentar yang meremehkan pencapaian, kebiasaan membandingkan diri, sulit memberikan apresiasi, atau perubahan sikap ketika seorang teman memperoleh keberhasilan dapat membuat hubungan yang awalnya terasa hangat menjadi canggung.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat merasa bahwa setiap pencapaiannya harus disembunyikan agar tidak memicu reaksi tertentu dari lingkungan pertemanannya.

Di titik inilah persahabatan kehilangan salah satu fungsi pentingnya: menjadi ruang yang aman untuk berkembang.

Padahal, lingkungan pertemanan seharusnya dapat menjadi tempat seseorang mendapatkan dukungan ketika gagal maupun ketika berhasil. Jika keberhasilan justru membuat hubungan menjadi renggang, ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar persaingan.

Ketika circle berubah menjadi sekat

Fenomena ini juga dapat dilihat dari semakin kuatnya budaya circle di lingkungan kampus.

Memiliki kelompok pertemanan tentu bukan sesuatu yang salah. Setiap orang memiliki tingkat kedekatan yang berbeda. Kita wajar merasa lebih nyaman bersama orang-orang tertentu.

Namun, persoalan muncul ketika kedekatan berubah menjadi eksklusivitas.

Kelompok pertemanan yang terlalu tertutup dapat menciptakan batas sosial yang sulit ditembus. Ada “orang dalam” dan “orang luar”. Mereka yang berada di luar kelompok dapat merasa tidak dilibatkan, sementara mereka yang berada di dalam kelompok semakin nyaman berinteraksi hanya dengan orang-orang yang dianggap satu frekuensi.

Dalam lingkungan yang sudah dipenuhi perbandingan, batas tersebut dapat semakin kuat. Perbedaan prestasi, popularitas, aktivitas organisasi, atau kemampuan akademik berpotensi ikut membentuk hierarki sosial yang tidak pernah secara resmi dibuat, tetapi dirasakan oleh orang-orang di dalamnya.

Kampus akhirnya bukan hanya menjadi tempat mahasiswa bersaing dalam bidang akademik, tetapi juga tempat mereka mencari posisi dalam lingkungan sosialnya.

Persaingan tidak selalu buruk

Meski demikian, tidak semua persaingan harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif.

Persaingan dapat menjadi energi untuk berkembang. Melihat teman memperoleh prestasi dapat mendorong seseorang belajar lebih serius, mencoba hal baru, atau berani mengambil kesempatan yang sebelumnya dihindari.

Perbedaannya terletak pada cara kita merespons keberhasilan orang lain.

Ada orang yang melihat prestasi temannya dan berpikir, “Kalau dia bisa, mungkin saya juga bisa.” Ada pula yang melihatnya sebagai ancaman: “Kalau dia terus maju, saya akan semakin tertinggal.”

Dua respons tersebut sama-sama berangkat dari perbandingan, tetapi menghasilkan arah yang berbeda.

Yang pertama mengubah keberhasilan orang lain menjadi motivasi. Yang kedua dapat mengubahnya menjadi sumber frustrasi.

Karena itu, masalahnya bukan pada keberadaan kompetisi, melainkan ketika kompetisi membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai orang lain.

Tidak semua pencapaian adalah perlombaan

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam budaya kompetisi: hidup bukan perlombaan dengan satu garis finis.

Seseorang mungkin unggul dalam akademik, tetapi belum tentu unggul dalam bidang lain. Ada yang aktif berorganisasi, ada yang lebih fokus bekerja, ada yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, sementara yang lain memiliki kemampuan analitis yang kuat.

Bahkan di antara mahasiswa yang berada di semester dan kelas yang sama, perjalanan setiap orang tetap berbeda.

Sayangnya, media sosial dan budaya pencitraan semakin membuat perbandingan menjadi mudah. Kita melihat pencapaian orang lain dalam bentuk yang sudah jadi, tetapi jarang melihat proses, kegagalan, dan pengorbanan di belakangnya.

Akibatnya, keberhasilan orang lain terlihat seperti standar yang harus segera kita kejar.

Padahal, perkembangan diri tidak selalu harus diukur dari seberapa jauh kita berada di depan orang lain. Terkadang ukuran yang lebih relevan adalah seberapa jauh kita berkembang dibandingkan diri kita sendiri sebelumnya.

Teman Kelas seharusnya bukan lawan

Lingkungan pendidikan memang membutuhkan kompetisi. Tanpa kompetisi, seseorang mungkin kehilangan dorongan untuk berkembang. Namun, kompetisi tidak harus menghilangkan solidaritas.

Kita bisa berusaha menjadi mahasiswa yang berprestasi tanpa berharap teman gagal. Kita bisa merasa bangga atas pencapaian sendiri tanpa menjadikan pencapaian orang lain sebagai ancaman.

Begitu pula ketika melihat teman berhasil, kita tidak harus selalu membandingkannya dengan diri sendiri. Keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri kita.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah teman kita lebih unggul atau tidak. Persoalannya adalah apakah kita mampu tetap menghargai hubungan ketika pencapaian mulai berbeda.

Sebab, teman yang berhasil bukan berarti mengambil tempat kita.

Ia hanya membuktikan bahwa satu kemungkinan telah berhasil diwujudkan.

Dan mungkin, daripada sibuk mencari cara untuk mengalahkan teman, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk diajukan kepada diri sendiri:

“Setelah melihat keberhasilannya, apa yang ingin saya lakukan dengan diri saya sendiri?”