Konten dari Pengguna

Posisi Indonesia dalam Konflik Iran vs AS-Israel di Dunia Terfragmentasi

Endy Sagita

Endy Sagita

Profesional di sebuah korporasi, alumnus Paramadina Graduate School of Communications, memiliki personal interest pada komunikasi, komunikasi politik dan dinamika sosiokultural dalam kebijakan publik

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Endy Sagita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia Terfragmentasi dan Warisan Tembok Berlin

Posisi Indonesia dalam konflik Iran vs AS-Israel menjadi isu penting dalam dinamika dunia terfragmentasi saat ini. Keruntuhan Tembok Berlin pada tahun 1989 sering dipandang sebagai simbol berakhirnya Perang Dingin. Dunia terfragmentasi menjadi salah satu ciri utama dinamika global saat ini. Keruntuhan Tembok Berlin pada tahun 1989 sering dipandang sebagai simbol berakhirnya Perang Dingin dan kemenangan kebebasan. Namun dalam konteks dunia terfragmentasi,

peristiwa tersebut justru membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global yang lebih kompleks.

Dunia tidak lagi terbagi secara sederhana antara dua blok, melainkan terpecah dalam berbagai kepentingan yang saling bertabrakan. Tembok Berlin yang berdiri sejak 1961 sebelumnya menjadi simbol stabilitas global yang tampak kokoh, tetapi stabilitas tersebut sejatinya bersifat semu karena dibangun di atas pembatasan kebebasan individu dan tekanan politik.

Keruntuhan Tembok Berlin membuka era globalisasi, integrasi ekonomi, dan kebebasan politik. Namun, perkembangan ini juga melahirkan tantangan baru seperti ketimpangan ekonomi, konflik identitas, dan meningkatnya populisme.

Alih-alih menciptakan dunia yang stabil, sistem global justru bergerak menuju dunia terfragmentasi yang lebih kompleks. Konflik tidak lagi bersifat ideologis semata, tetapi melibatkan kepentingan ekonomi, energi, dan keamanan yang saling terkait.

Stabilitas Semu dalam Dunia Terfragmentasi

Dalam dunia terfragmentasi, konsep stabilitas mengalami perubahan makna. Pembangunan Tembok Berlin pada masa lalu tidak hanya bertujuan membatasi mobilitas warga, tetapi juga menjaga stabilitas politik dan ekonomi Jerman Timur.

Dalam jangka pendek, kebijakan tersebut berhasil menahan eksodus tenaga kerja dan memperkuat kontrol negara. Namun stabilitas ini tidak diiringi dengan kemajuan ekonomi yang signifikan. Ketimpangan antara Jerman Timur dan Barat semakin melebar, menunjukkan bahwa stabilitas berbasis pembatasan tidak bersifat berkelanjutan.

Pelajaran dari kondisi ini tetap relevan dalam dunia terfragmentasi saat ini: stabilitas tanpa kebebasan dan adaptasi hanya akan menunda krisis yang lebih besar.

Posisi Indonesia dalam Konflik Iran vs AS-Israel di Dunia Terfragmentasi

Dalam konteks dunia terfragmentasi, konflik Iran vs AS-Israel menjadi salah satu contoh nyata fragmentasi global saat ini. Konflik ini tidak hanya melibatkan aspek militer, tetapi juga kepentingan geopolitik yang lebih luas.

Posisi Indonesia dalam konflik Iran vs AS-Israel menjadi menarik sekaligus dilematis. Secara prinsip, Indonesia tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif dan mendorong penyelesaian damai melalui diplomasi.

Namun dalam praktiknya, muncul persepsi bahwa Indonesia cenderung lebih moderat dan tidak secara tegas mengkritik tindakan militer AS-Israel. Sikap ini menunjukkan adanya pendekatan pragmatis dalam menghadapi tekanan global, terutama dalam aspek ekonomi dan energi.

Dalam dunia terfragmentasi, kondisi ini mencerminkan bentuk baru dari stabilitas semu—bukan lagi dalam bentuk tembok fisik, tetapi dalam kompromi kebijakan yang rapuh di tengah tarik-menarik kepentingan global.

Tantangan Indonesia di Tengah Dunia Terfragmentasi

Dalam dunia terfragmentasi, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan strategis dalam lima tahun ke depan:

  1. Tekanan geoekonomi akibat konflik global

  2. Ketergantungan energi terhadap kawasan Timur Tengah

  1. Persepsi internasional terhadap posisi politik Indonesia

Jika tidak dikelola dengan baik, posisi Indonesia dalam konflik Iran vs AS-Israel dapat memengaruhi legitimasi kepemimpinannya di kawasan ASEAN.

Strategi Indonesia dalam Dunia Terfragmentasi

Dalam dunia terfragmentasi, konsep bebas aktif tidak lagi dapat dimaknai sebagai netralitas pasif. Indonesia perlu mengembangkan strategi yang lebih adaptif dan fleksibel dalam menghadapi dinamika global.

Pendekatan selective alignment menjadi salah satu kemungkinan, di mana Indonesia tetap independen tetapi mampu menyesuaikan diri dengan kepentingan nasional dalam situasi tertentu. Hal ini penting agar Indonesia tidak terjebak dalam posisi ambigu yang justru mempersempit ruang manuver diplomatiknya.

Kesimpulan

Dunia terfragmentasi menunjukkan bahwa stabilitas global tidak lagi ditentukan oleh batas ideologis yang jelas seperti pada era Tembok Berlin. Sebaliknya, dunia bergerak menuju sistem yang lebih kompleks dan penuh ketidakpastian.

Dalam situasi ini, posisi Indonesia dalam konflik Iran vs AS-Israel menjadi ujian nyata bagi konsistensi politik luar negeri bebas aktif. Tantangannya bukan hanya memilih posisi, tetapi mengelola persepsi keberpihakan di tengah tekanan global.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia berpihak, melainkan apakah Indonesia mampu mempertahankan arah strategisnya dalam dunia terfragmentasi.