Konten dari Pengguna

Integritas, Jalan Sunyi Sebuah Pengabdian

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Integritas. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Integritas. Foto: Istimewa

Bila loyalitas datang dengan pakaian yang meyakinkan dan gegap gempita, integritas biasanya hadir dengan kesunyian. Ia tidak selalu muncul dalam pidato, spanduk, slogan atau upacara yang tertata megah.

Integritas bekerja dalam kesunyian, ketika seseorang memilih tidak mengambil sesuatu yang sebenarnya bisa ia ambil, ketika seorang pegawai menolak mengubah angka dalam laporan, ketika seorang aparat tidak menggunakan kewenangannya untuk menolong kerabat, atau ketika seorang bawahan tetap menyampaikan kebenaran meskipun tahu bahwa kejujurannya mungkin tidak akan disambut dengan senyuman.

Karena itu, integritas sering menjadi jalan sunyi dalam sebuah pengabdian. Jalan itu tidak selalu sepi hanya karena belum banyak orang yang mengenalnya.

Hampir semua orang memahami bahwa kejujuran, tanggung jawab dan konsistensi adalah nilai yang baik. Ia menjadi sepi karena tidak semua orang bersedia menanggung akibatnya. Integritas terdengar indah selama ia menjadi materi pelatihan. Persoalan dimulai ketika ia harus dipraktikkan di tengah perintah, tekanan, kepentingan dan risiko kehilangan jabatan.

Di lingkungan birokrasi, integritas kerap diuji bukan oleh perkara yang tampak besar, melainkan oleh kompromi yang terlihat kecil. Seseorang mungkin hanya diminta memajukan tanggal sebuah dokumen. Seorang pejabat pengadaan hanya diminta memberi sedikit kelonggaran.

Seorang staf diperintahkan menghapus satu kalimat dalam laporan. Seorang pemeriksa diminta tidak terlalu mendalami temuan tertentu karena dianggap dapat menimbulkan persoalan yang lebih luas.

Semua bermula dari kata “hanya”, hanya mengubah sedikit, hanya membantu teman, hanya sekali ini, hanya mengikuti arahan, hanya demi menjaga hubungan dan lain sebagainya.

Kata yang pendek itu dapat menjadi pintu masuk menuju ruang yang jauh lebih gelap. Sebab pelanggaran besar hampir tidak pernah lahir dalam satu lompatan. Ia tumbuh dari pembiasaan, dari batas yang digeser perlahan, dari suara hati yang berkali-kali diminta menunggu.

Dalam keadaan demikian, integritas bukan lagi konsep yang abstrak. Ia menjadi pilihan yang sangat konkret, “ikut arus atau berhenti”, “menerima atau menolak”, “diam atau berbicara”.

Masalahnya, sistem tidak selalu ramah terhadap orang yang memilih bersikap lurus. Dalam organisasi yang terlalu mengutamakan ketenangan semu, orang yang bertanya dapat dianggap mengganggu.

Mereka yang mengingatkan aturan dipandang kaku. Mereka yang menolak perintah bermasalah disebut tidak mampu bekerja sama. Sementara itu, orang-orang yang pandai menyesuaikan diri dengan kepentingan justru sering dianggap cakap membaca keadaan.

Kita akhirnya berhadapan dengan ironi. Mereka yang menjaga institusi dapat tampak seperti musuh institusi, sedangkan mereka yang memanfaatkan kelemahannya terlihat sebagai orang dalam yang paling setia.

Integritas memang tidak selalu memiliki banyak teman. Di lingkungan militer dan kepolisian, ujian itu memiliki bentuk yang lebih rumit. Struktur komando, disiplin, solidaritas dan jiwa korsa merupakan fondasi penting, tanpa itu, kesatuan akan kehilangan daya gerak.

Namun, struktur yang kuat juga dapat melahirkan tekanan yang kuat. Ketika perintah, kehormatan korps dan kebenaran berada pada arah yang berbeda, seorang anggota dapat terjebak dalam pilihan yang tidak sederhana.

Apakah ia harus diam demi kesatuan? Apakah ia harus mengikuti perintah meskipun nuraninya memberi tanda bahaya? Apakah kesalahan rekan harus disembunyikan demi menjaga nama baik lembaga?

Di sinilah integritas menemukan medan sebenarnya. Integritas tidak menuntut seseorang membenci institusinya, malah sebaliknya, ia lahir dari kecintaan yang dewasa kepada institusi.

Cinta yang sehat tidak menutupi luka, melainkan mengobatinya. Kesetiaan yang matang tidak menyembunyikan keburukan, melainkan mencegahnya menjadi penyakit yang lebih besar.

Seorang aparat yang melaporkan penyimpangan bukan sedang meruntuhkan kehormatan korps. Ia sedang berusaha menyelamatkan kehormatan itu dari kerusakan yang lebih dalam.

Seorang pegawai negeri yang menolak memanipulasi laporan bukan sedang mempermalukan pimpinannya. Ia sedang mencegah pemimpin tersebut mengambil keputusan berdasarkan kebohongan.

Namun, kita juga harus jujur bahwa tidak mudah meminta seseorang menjadi teguh apabila sistem membiarkannya berjuang sendirian. Integritas pribadi membutuhkan ekosistem kelembagaan.

Tidak cukup hanya memberi nasihat moral kepada pegawai, prajurit atau aparat, lalu membiarkan sistem promosi dikuasai kedekatan, pemeriksaan berjalan selektif dan pelapor pelanggaran kehilangan perlindungan.

Negara tidak boleh hanya memproduksi slogan tentang integritas. Negara harus menciptakan keadaan yang membuat orang jujur dapat bertahan. Sistem karier perlu dibangun berdasarkan prestasi dan rekam jejak, bukan hubungan personal.

Mekanisme pelaporan harus aman, pemeriksaan internal harus dipercaya. Hukuman tidak boleh tajam kepada bawahan dan tumpul kepada mereka yang memiliki jaringan kekuasaan. Jika kejujuran selalu dibayar dengan pengucilan, sementara kepatuhan terhadap penyimpangan diganjar kemudahan, jangan heran apabila orang-orang baik perlahan memilih diam.

Integritas memang berasal dari dalam diri, tetapi ia dapat dilemahkan atau dikuatkan oleh lingkungan. Karena itu, kita perlu berhenti membayangkan integritas hanya sebagai keberanian luar biasa yang dimiliki segelintir manusia istimewa.

Integritas juga hidup dalam kebiasaan sederhana. Datang tepat waktu, tidak menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi, tidak membocorkan informasi, tidak menitipkan kerabat dalam proses seleksi, tidak menerima pemberian yang berhubungan dengan jabatan, tidak memperlakukan masyarakat berdasarkan kedekatan, status ataupun kemampuan membayar.

Tindakan-tindakan itu tampak kecil, tetapi dari sanalah watak institusi dibangun. Sebuah lembaga tidak menjadi bersih hanya karena memiliki kode etik. Ia menjadi bersih ketika orang-orang di dalamnya menjalankan kode tersebut dalam keputusan sehari-hari.

Sebaliknya, lembaga tidak rusak hanya karena satu kasus besar. Kerusakan sering bermula ketika pelanggaran kecil dianggap biasa, lalu kebiasaan buruk berubah menjadi budaya.

Pada titik tertentu, integritas berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menjaga jarak dari kekuasaan yang ia miliki. Jabatan mudah menciptakan ilusi bahwa seseorang lebih penting daripada orang lain.

Seragam dapat melahirkan rasa bahwa kewenangan adalah keistimewaan pribadi. Meja kerja, pangkat, ajudan, fasilitas dan akses dapat membuat seseorang lupa bahwa semuanya diberikan bukan untuk meninggikan dirinya, tetapi untuk memperbesar tanggung jawabnya.

Kekuasaan tidak selalu merusak manusia dengan cara yang dramatis. Kadang-kadang ia hanya membuat seseorang merasa berhak memperoleh perlakuan khusus. Dari perasaan berhak itulah banyak penyimpangan menemukan awalnya.

Dalam perspektif pengabdian, jabatan bukanlah hadiah. Ia adalah Amanah, dan amanah memiliki tabiat yang berat, ia mudah diucapkan, tetapi tidak ringan ketika harus dijalankan dengan benar.

Di hadapan manusia, laporan mungkin dapat dirapikan, temuan bisa dikaburkan, kesalahan dapat ditutup dengan bahasa hukum dan administrasi. Namun, dalam keyakinan yang lebih dalam, tidak ada amanah yang benar-benar hilang dari catatan dan luput dari pertanggungjawaban.

Barangkali itulah sebabnya integritas selalu memiliki unsur kesendirian. Pada akhirnya, seseorang harus berhadapan dengan dirinya sendiri.

Tidak ada atasan, rekan ataupun institusi yang dapat menggantikan keputusan moral yang harus ia ambil. Ia sendiri yang mengetahui apakah sebuah tanda tangan diberikan karena kebenaran atau tekanan. Ia sendiri yang paham apakah diamnya merupakan kehati-hatian atau ketakutan. Ia sendiri yang mengerti apakah kekuasaan telah digunakan sebagai alat pelayanan atau sebagai jalan keuntungan.

Integritas bukan tentang tidak pernah takut. Ia adalah keberanian untuk tetap melakukan yang benar meskipun ketakutan itu ada.

Maka, jalan sunyi pengabdian bukanlah jalan orang-orang yang merasa paling suci. Ia adalah jalan manusia biasa yang terus berusaha menjaga dirinya agar tidak terbiasa dengan penyimpangan. Mereka mungkin tidak dikenal, namanya tidak muncul di berita, tidak ada panggung yang merayakan penolakannya terhadap gratifikasi, keberaniannya menjaga data atau keteguhannya dalam menjalankan aturan.

Namun, negara sebenarnya berdiri di atas pundak orang-orang semacam itu. Mereka adalah ASN yang tetap melayani dengan baik meskipun tidak mendapat perhatian, prajurit yang menjaga kehormatan tanpa mencari pujian, polisi yang menegakkan hukum tanpa menghitung keuntungan pribadi.

Mereka Adalah orang-orang yang memahami bahwa pengabdian bukanlah pertunjukan, melainkan kesediaan untuk tetap lurus ketika jalan yang bengkok menawarkan perjalanan yang lebih mudah.

Pada akhirnya, integritas tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang ramai. Terkadang ia justru membawanya ke jalan yang sepi, tetapi di jalan sunyi itulah pengabdian menemukan maknanya bahwa kehormatan sejati dibuktikan bukan dari seberapa nyaring nama kita diteriakkan oleh sejarah, melainkan dari seberapa tenang batin kita saat menyadari bahwa sebuah amanah telah dijaga hingga selesai tanpa pernah sekalipun melacurkan nurani.