Konten dari Pengguna

Jangan Ada Sengkuni di Antara Kita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Watak Sengkuni Hidup di Masyarakat. (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Watak Sengkuni Hidup di Masyarakat. (Foto: Istimewa)

Dalam kisah pewayangan, sebuah kerajaan tidak selalu runtuh karena serangan musuh dari luar. Kadang-kadang kehancuran justru bermula dari sebuah bisikan dari dalam istana. Suaranya tidak keras, tidak pula terdengar mengancam, datang sebagai nasihat, disampaikan dengan sopan, lalu dibungkus seolah-olah demi keselamatan dan kehormatan kerajaan.

Di situlah Sengkuni bekerja, dia bukan raja, tidak memiliki pasukan besar ataupun kesaktian yang menakutkan. Namun, ia mengetahui kelemahan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia paham siapa yang mudah tersinggung, siapa yang haus pujian, siapa yang takut kehilangan kekuasaan, dan siapa yang dapat dibuat marah hanya dengan sedikit hasutan. Modal utamanya bukan kekuatan, melainkan kecerdikan membaca ambisi manusia.

Karena itu, Sengkuni tidak pernah benar-benar jauh dari kekuasaan. Namanya mungkin berubah, pakaiannya berganti dan ruang tempat ia berbisik kini tidak lagi berupa istana. Akan tetapi, wataknya tetap sama, membuat penguasa merasa selalu benar, menjadikan lawan sebagai musuh, serta menyamarkan kepentingan pribadi sebagai kepentingan bersama.

Pertanyaannya kemudian bukanlah siapa Sengkuni dalam politik kita hari ini. Pertanyaan seperti itu terlalu mudah berubah menjadi tuduhan kepada orang tertentu. Pertanyaan yang lebih penting Adalah, mengapa watak Sengkuni masih memperoleh tempat yang begitu nyaman di sekitar kekuasaan?

Kekuasaan memang membutuhkan nasihat. Seorang pemimpin, setinggi apa pun kedudukannya, tidak mungkin memahami seluruh persoalan sendirian. Ia memerlukan menteri, staf ahli, penasihat, pemimpin partai, akademisi, pengusaha, tokoh masyarakat, dan orang-orang yang dipercaya untuk menyampaikan keadaan sebenarnya.

Namun, di antara mereka bisa muncul orang yang tidak menyampaikan kenyataan, melainkan hanya mengatakan apa yang menyenangkan telinga penguasa. Ketika rakyat mengeluh, ia mengatakan semuanya baik-baik saja. Ketika kebijakan menimbulkan masalah, ia menyalahkan komunikasi. Ketika kritik membesar, ia menyebutnya sebagai gerakan politik. Ketika kepercayaan menurun, ia mengusulkan pencitraan baru. Bukan masalah yang diselesaikan, melainkan kesan tentang masalah yang diubah.

Sengkuni modern tidak selalu membawa dadu seperti dalam kisah Mahabharata. Kadang-kadang ia membawa hasil survei, laporan yang telah dipilih, potongan video, pasukan akun media sosial, atau angka-angka yang dilepaskan dari kenyataan. Data tidak lagi dipakai untuk membantu penguasa memahami keadaan, tetapi untuk meyakinkannya bahwa keputusan apa pun telah memperoleh pembenaran.

Dalam politik digital, sebuah bisikan bahkan dapat diproduksi secara massal. Kebohongan diulang sampai terasa seperti kebenaran. Kritik diserbu sebelum sempat dipahami. Tokoh yang berbeda pendapat dipotong ucapannya, diragukan niatnya, lalu ditempatkan sebagai lawan negara. Masyarakat dibuat sibuk bertengkar, sementara persoalan yang sesungguhnya perlahan menghilang dari pembicaraan.

Dahulu, Sengkuni mengadu keluarga di dalam istana. Sekarang, ia dapat mengadu warga dalam ruang publik, kelompok agama melawan kelompok agama, pendukung pemerintah melawan pengkritik, pusat melawan daerah, mayoritas melawan minoritas, bahkan rakyat kecil melawan rakyat kecil lainnya. Setelah semua orang saling mencurigai, ia tampil menawarkan persatuan.

Kondisi politik kita memang tampak stabil. Kekuatan-kekuatan besar berada dekat dengan pemerintahan. Partai-partai yang dahulu berhadapan mulai duduk dalam lingkaran yang sama. Dalam batas tertentu, persatuan elite dapat membantu pemerintah bekerja tanpa terus-menerus diganggu pertengkaran politik.

Akan tetapi, stabilitas juga menyimpan pertanyaan. Jika hampir semua orang berada di dalam kekuasaan, siapa yang berdiri untuk mengawasinya? Jika kritik selalu dianggap mengganggu persatuan, dari mana penguasa memperoleh kabar bahwa ada kebijakan yang keliru? Jika dukungan politik terlalu mudah dipertukarkan dengan kedudukan, bagaimana publik membedakan pengabdian dari pembagian kekuasaan?

Demokrasi tidak hanya membutuhkan orang yang bersedia bekerja sama. Demokrasi juga membutuhkan orang yang berani berbeda pendapat. Seorang sahabat kekuasaan bukanlah orang yang selalu berkata iya, melainkan orang yang berani mengatakan tidak ketika keputusan mulai menjauh dari kepentingan rakyat.

Di sinilah perbedaan antara penasihat dan penjilat menjadi penting. Penasihat bersedia kehilangan jabatan demi menyampaikan kebenaran. Penjilat bersedia mengorbankan kebenaran demi mempertahankan jabatan. Yang pertama membantu pemimpin melihat jalan, yang kedua membuat pemimpin merasa tidak mungkin tersesat.

Sayangnya, sistem politik sering lebih ramah kepada orang kedua. Orang yang memberikan peringatan dianggap tidak loyal. Mereka yang mengajukan keberatan dinilai tidak sejalan. Sementara itu, orang yang paling cepat memuji, paling keras membela, dan paling rajin menyerang pengkritik justru memperoleh tempat lebih dekat dengan pusat keputusan. Loyalitas akhirnya tidak lagi diukur dari kesetiaan kepada negara dan kepentingan rakyat, tetapi dari kepatuhan kepada orang yang sedang berkuasa.

Sengkuni tumbuh subur dalam keadaan seperti itu. Bukan karena ia terlalu kuat, melainkan karena lingkungan di sekitarnya memberinya kesempatan. Lebih berbahaya lagi ketika kepentingan negara, partai, keluarga dan usaha bercampur dalam satu ruang. Batasnya menjadi tidak jelas. Keputusan publik mudah dibaca sebagai kesepakatan elite. Jabatan negara dapat diperlakukan sebagai alat konsolidasi. Hukum yang seharusnya berdiri tegak berisiko berubah menjadi bahasa perundingan: keras kepada yang jauh, lentur kepada yang dekat.

Namun, barangkali tidak adil apabila seluruh kesalahan hanya kita letakkan di pundak elite. Sengkuni dapat hidup di sekitar kekuasaan karena sebagian wataknya juga tumbuh di tengah masyarakat.

Kita mengecam manipulasi, tetapi masih gemar menyebarkan kabar yang belum tentu benar selama menguntungkan kelompok sendiri. Kita meminta pejabat bersikap jujur, tetapi memaafkan kebohongan dari tokoh yang kita dukung. Kita menolak politik uang, tetapi menerima pemberian menjelang pemilihan dengan alasan itu hanya pengganti ongkos. Kita marah ketika hukum diperjualbelikan, tetapi mencari jalan belakang ketika berurusan dengan aturan.

Tanpa sadar, kita menolak Sengkuni sebagai tokoh, tetapi memelihara kesengkuniannya sebagai kebiasaan. Karena itulah ungkapan “di antara kita” memiliki makna yang lebih dalam. Jangan biarkan Sengkuni berdiri di antara pemimpin dan rakyat, menyaring setiap keluhan sebelum sampai ke telinga kekuasaan. Jangan biarkan ia berada di antara hukum dan keadilan, mengubah aturan menjadi alat transaksi. Jangan biarkan ia menyusup di antara perbedaan, lalu menjadikannya permusuhan.

Namun, yang tidak kalah penting, jangan biarkan ia tumbuh di dalam diri kita sendiri. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, negeri ini memiliki banyak ahli strategi, perancang kebijakan, komunikator handal dan orang-orang yang pandai membaca arah angin. Yang sering terasa langka adalah keberanian untuk berkata benar ketika kebenaran itu tidak menyenangkan penguasa.

Padahal, kekuasaan tidak selalu hancur karena musuh yang berdiri di luar pagar. Ia dapat runtuh karena terlalu percaya kepada orang yang duduk paling dekat dengan takhta. Orang yang setiap hari memujinya, menutupi kesalahannya, membesarkan ketakutannya, lalu meyakinkannya bahwa kepentingan kelompok adalah kehendak seluruh rakyat.

Kita membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi kekuatan itu tidak diukur dari kemampuannya membungkam kritik. Pemimpin yang benar-benar kuat justru berani mendengar kabar buruk, mengakui kekeliruan, memperbaiki keputusan dan menjaga jarak dari orang-orang yang hanya membawa pujian.

Kita juga membutuhkan elite yang mampu bekerja sama tanpa kehilangan kewarasan, berbeda pendapat tanpa menanam kebencian dan berkompetisi tanpa merusak persaudaraan. Sebab politik seharusnya menjadi jalan untuk mengelola perbedaan, bukan seni mengubah perbedaan menjadi permusuhan.

Jangan ada Sengkuni di antara kita, bukan hanya karena ia dapat mengadu antar saudara dan menghancurkan sebuah kerajaan, tetapi karena setiap bangsa yang membiarkan kebohongan menjadi nasihat, penjilatan menjadi loyalitas dan kepentingan menjadi kebenaran, sesungguhnya sedang menyiapkan kehancurannya sendiri, perlahan, dari dalam.