Piala Dunia 2026: Antara Sportivitas dan Industri Olahraga

Pemerhati Masalah Sosial Politik, Alumnus S2 Ilmu Politik UI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola. Ia adalah panggung terbesar tempat sportivitas, nasionalisme, hiburan, bisnis, politik, dan industri global bertemu dalam satu arena. Untuk pertama kalinya, Piala Dunia digelar bersama oleh tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen ini juga menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah, dengan 48 tim dan 104 pertandingan yang tersebar di 16 kota tuan rumah. FIFA mencatat laga pembuka digelar pada 11 Juni 2026, sedangkan final dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026 di New York New Jersey Stadium.
Dari sisi olahraga, Piala Dunia tetap menyimpan daya magisnya. Ia menghadirkan mimpi anak-anak kecil yang menendang bola di gang sempit, lapangan tanah, hingga akademi sepak bola modern. Di sana, nilai sportivitas menemukan bentuknya: kerja keras, disiplin, penghormatan terhadap lawan, kepatuhan pada aturan, dan kemampuan menerima kemenangan maupun kekalahan secara bermartabat.
Namun, Piala Dunia modern tidak lagi dapat dibaca hanya sebagai kompetisi olahraga. Ia telah menjelma menjadi industri raksasa. Hak siar, sponsor, tiket, pariwisata, merchandise, media digital, hingga iklan global menjadikan sepak bola bukan hanya permainan, melainkan juga komoditas ekonomi bernilai sangat besar. Bahkan menjelang pembukaan, Presiden FIFA, Gianni Infantino, harus menjawab kritik soal harga tiket dan isu visa, seraya menyatakan bahwa FIFA telah menjual lebih dari enam juta tiket dan permintaan melampaui ekspektasi.
Di sinilah dilema Piala Dunia 2026 muncul. Di satu sisi, sepak bola adalah bahasa universal yang mampu menyatukan manusia lintas bangsa, agama, ras, dan ideologi. Selama 90 menit, perbedaan politik dapat sejenak diredam oleh sorak-sorai pendukung, kreativitas pemain, dan drama di lapangan. Namun di sisi lain, sepak bola juga bergerak dalam logika pasar. Semakin besar turnamen, semakin kuat pula tekanan komersial yang menyertainya.
Sportivitas menempatkan manusia sebagai pusat permainan. Industri menempatkan permainan sebagai pusat keuntungan. Sportivitas bertanya: Apakah pertandingan berjalan adil? Industri bertanya: Seberapa besar pasar yang bisa diraih? Sportivitas menghormati lawan. Industri menghitung penonton, rating, sponsor, dan nilai jual. Keduanya tidak selalu bertentangan, tetapi ketidakseimbangan di antara keduanya dapat mengubah wajah olahraga menjadi sekadar tontonan ekonomi.
Piala Dunia 2026 memperlihatkan bagaimana sepak bola berada di persimpangan itu. Format 48 tim membuka kesempatan lebih luas bagi negara-negara yang sebelumnya sulit tampil di panggung dunia. Ini positif karena memberi ruang representasi yang lebih demokratis dalam sepak bola global. Negara kecil dapat membawa kebanggaan nasionalnya. Pemain dari liga yang kurang populer dapat memperoleh panggung internasional. Dari sisi sportivitas, perluasan peserta dapat dibaca sebagai upaya memperluas mimpi.
Namun dari sisi industri, penambahan jumlah tim dan pertandingan juga berarti penambahan durasi siaran, paket komersial, penjualan tiket, konsumsi media, dan peluang sponsor. Artinya, inklusivitas olahraga berjalan beriringan dengan ekspansi pasar. Pertanyaannya bukan "Apakah industri itu salah?", melainkan "Apakah industri masih tunduk pada nilai-nilai olahraga, atau justru olahraga yang tunduk sepenuhnya pada logika industri?"
Piala Dunia seharusnya tidak kehilangan roh dasarnya. Sepak bola besar bukan hanya karena stadionnya megah, sponsor yang berderet, atau angka penonton yang fantastis. Yang membuat sepak bola besar karena ia menghadirkan emosi kolektif yang jujur: harapan, air mata, kebanggaan, solidaritas, dan penghormatan. Ketika pemain membantu lawan yang terjatuh, ketika suporter memberi tepuk tangan kepada tim yang kalah secara terhormat, ketika wasit memimpin dengan adil, di situlah sportivitas menemukan maknanya.
Bagi negara-negara peserta, Piala Dunia juga merupakan ruang diplomasi simbolik. Bendera, lagu kebangsaan, dan identitas nasional tampil di hadapan dunia. Namun nasionalisme dalam sepak bola harus dijaga agar tidak berubah menjadi kebencian. Mendukung negara sendiri adalah wajar, tetapi merendahkan bangsa lain bertentangan dengan jiwa sportivitas. Piala Dunia seharusnya menjadi perayaan keberagaman, bukan arena permusuhan identitas.
Dalam konteks yang lebih luas, Piala Dunia 2026 memberi pelajaran penting: olahraga modern tidak mungkin sepenuhnya lepas dari industri. Namun, industri olahraga harus memiliki etika. Keuntungan ekonomi perlu berjalan bersama akses publik, keadilan, transparansi, perlindungan pemain, kenyamanan suporter, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Sepak bola boleh menjadi bisnis besar, tetapi ia tidak boleh kehilangan nurani.
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 adalah cermin zaman. Ia menunjukkan betapa kuatnya daya tarik sepak bola sebagai olahraga rakyat, sekaligus betapa besarnya kekuatan kapital dalam mengelolanya. Di antara sportivitas dan industri, tugas dunia sepak bola adalah menjaga keseimbangan. Industri boleh membesarkan panggung, tetapi sportivitas lah yang memberi makna pada pertandingan.
Sebab tanpa industri, Piala Dunia mungkin tidak sebesar hari ini. Namun tanpa sportivitas, Piala Dunia hanya akan menjadi pasar raksasa yang kehilangan jiwa.
