Seusai Diambil Alih Negara, TMII Bersiap Melejitkan Potensi Wisatawan Milenial

Ketua OPPINI (Forum Penilai Pemerintah Indonesia)
Konten dari Pengguna
24 Oktober 2021 21:53
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Alexander Ginting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seusai Diambil Alih Negara, TMII Bersiap Melejitkan Potensi Wisatawan Milenial (85659)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis
ADVERTISEMENT
Terbentang di atas lahan kurang lebih 250 hektare di daerah Jakarta Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata favorit bagi turis domestik maupun mancanegara. Berdasarkan data yang dirilis tahun 2020 oleh Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta diketahui bahwa TMII merupakan objek wisata unggulan daerah yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan setelah Taman Impian Jaya Ancol. Pada tahun 2018 tidak kurang dari enam juta wisatawan mengunjungi TMII, jumlah tersebut sedikit menurun di Tahun 2019 yang berkisar lima juta wisatawan, namun akibat wabah COVID-19 jumlahnya turun tajam pada tahun 2020 menjadi sekitar 1 jutaan wisatawan saja.
ADVERTISEMENT
Semenjak diresmikan pada tanggal 20 April 1975, TMII tetap menarik untuk dikunjungi karena keunikannya yang masih memegang teguh konsep sebagai ”Miniatur Nusantara”. Seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan wisata keluarga yang lebih efisien baik dari sisi waktu dan biaya, maka TMII juga melakukan inovasi dengan mengadopsi kemajuan teknologi dengan membangun berbagai wahana hiburan yang dapat dinikmati oleh pengunjung seperti teater, skylift, maupun berbagai wahana lainnya.
TMII dapat dikatakan sebagai kawasan/kompleks wisata yang paling lengkap di Indonesia. Di dalam TMII berdiri anjungan rumah adat yang mewakili keanekaragaman suku dan budaya dari seluruh Provinsi di Indonesia termasuk Rumah Adat Timor Timur yang kemudian berubah nama menjadi Museum Timor Timur karena Timor Timur telah resmi menjadi negara sendiri. TMII memiliki total koleksi rumah adat sebanyak 150 buah serta total koleksi benda etnografis yang lebih dari 10.000 buah di dalamnya. Selain kekayaan budaya, taman mini juga menyediakan wahana yang bersifat edukatif seperti berbagai museum seperti Museum Indonesia, Museum Phurna Bhakti Pertiwi, Museum Pusaka, Museum Penerangan, Museum Prangko Indonesia, dan lain-lain. Di TMII juga terdapat bangunan peribadatan yang mewakili berbagai agama dan aliran kepercayaan yang dianut oleh Bangsa Indonesia. Salah satu objek lain yang sangat diminati untuk rekreasi di TMII adalah tersedianya berbagai objek yang berisi kekayaan flora dan Fauna Nusantara seperti Taman Anggrek, Taman Burung, Taman Kaktus, Taman Melati, Akuarium Ikan Air Tawar, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Bagi wisatawan yang berkunjung Bersama keluarga, TMII juga menyediakan berbagai wahana permainan dan hiburan yang sangat menarik berupa Teater Keong Emas, kereta gantung, kereta api, mobil wisata, desa wisata, Among Puro dan sebagainya.
Pengalihan Pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah.
Sebagai lokasi wisata, TMII merupakan aset yang sangat berharga untuk digunakan sebagai paru-paru kota Jakarta, daerah resapan air, serta menjadi sarana olahraga dan sarana edukasi. Statusnya sebagai Barang Milik Negara (BMN) membuat sebagian penghasilan TMII menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) bagi negara. Dengan potensinya yang sangat besar, sangat layak jika TMII diharapkan mampu menyumbang pendapatan negara.
Sesuai Peraturan Presiden nomor 19 tahun 2021 tentang Pengelolaan TMII, pada hari Kamis tanggal 1 Juli 2021 Presiden Joko Widodo memutuskan mengambil alih pengelolaan TMII yang selanjutnya akan dikelola oleh pemerintah. Langkah tersebut dilakukan guna optimalisasi aset negara yang dilakukan Kementerian Sekretariat Negara. Selanjutnya, Kementerian Sekretariat Negara bersama dengan PT Taman Wisata Candi (PT TWC) Borobudur Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) meneken Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
ADVERTISEMENT
Manajemen pengelolaan TMII yang baru dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan kinerja dan inovasi TMII. Hal ini mutlak dilakukan agar dalam usianya yang sudah terbilang panjang, TMII tetap mampu merebut minat para wisatawan.
Membidik Pasar Kaum Milenial
Setelah hampir selama setengah abad menjadi ikon pariwisata Jakarta, TMII kini menghadapi tantangan yang lebih besar untuk meningkatkan jumlah kunjungan agar dapat lebih berkontribusi dalam menyumbang pendapatan negara.
Selain karena dampak wabah COVID-19, perubahan komposisi pasar juga diduga turut menjadi pemicu turunnya jumlah wisatawan ke TMII. Berdasarkan hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik diketahui bahwa komposisi penduduk Indonesia didominasi kaum muda generasi Z (Kelahiran tahun 1997 s.d. 2012) dan generasi milenial (Kelahiran tahun 1981 s.d. 1996). Gabungan jumlah kaum milenial dan generasi Z mencapai lebih dari 50% dari total jumlah penduduk Indonesia. Besarnya jumlah kaum milenial dan generasi Z di atas tentunya menjadi peluang pasar yang sangat menarik dalam bisnis, termasuk bagi TMII.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini TMII mungkin belum menjadi destinasi wisata favorit bagi banyak generasi milenial dan generasi Z. Hal ini dikarenakan masih rendahnya minat kaum milenial dan generasi Z di Indonesia untuk mengunjungi wahana-wahana budaya dan seni seperti anjungan provinsi dan aneka museum. Secara umum kaum muda (milenial dan gen Z) mewakili kelompok masyarakat yang energik, dengan mobilitas tinggi, berinteraksi dalam komunitas serta berpenghasilan menengah ke bawah. TMII perlu membuat terobosan agar kaum muda tersebut tertarik dan menikmati kunjungan ke TMII.
Manajemen dengan Inovasi
PT TWC memiliki visi untuk menjadikan TMII sebagai objek wisata yang lengkap. Penguatan identitas sebagai heritage destination yang menjual keindahan budaya nusantara diharapkan tetap menjadi magnet utama TMII. Untuk bisa menjangkau selera kaum muda, maka sajian budaya nusantara akan disajikan dalam kemasan yang lebih modern dan kaya teknologi. Salah satu event yang direncanakan untuk dikembangkan adalah "Indonesia Opera" yang diharapkan mampu menarik wisatawan mancanegara.
ADVERTISEMENT
Jurus lain yang dilakukan untuk mengembangkan TMII adalah dengan cara memanfaatkan luas areal terbuka TMII untuk berbagai pagelaran musik berskala nasional dan internasional. Jurus ini terbukti ampuh menarik banyak sekali wisatawan termasuk kaum muda ketika PT TWC menggelar Prambanan Festival dan Borobudur Festival. Aksesibilitas TMII yang sangat baik diyakini akan sangat mendukung pagelaran2 musik dan pertunjukan lain berskala besar di TMII.
Kontur tanah yang bergelombang yang kaya akan aneka flora termasuk beraneka jenis pohon-pohon rindang di lahan yang luas menjadikan TMII memiliki potensi yang sangat besar sebagai areal bersantai dan olahraga. Saat ini TMII masih kurang memiliki fasilitas olahraga untuk dinikmati wisatawan. Umumnya wisatawan yang berkunjung masih terbatas berolahraga ringan saja berupa lari pagi dan bersepeda dengan fasilitas sekadarnya. TMII masih sangat mungkin dilengkapi dengan berbagai fasilitas olahraga seperti lintasan jogging, skate board lines, jalur bersepeda, kolam renang, lapangan basket, bulutangkis dan sebagainya. Jika berbagai fasilitas tersebut sudah diwujudkan, maka peluang TMII untuk menggaet wisatawan terutama kaum muda akan terbuka lebar.
ADVERTISEMENT
Berbagai Inovasi di atas kiranya tidak hanya meningkatkan kinerja bisnis TMII, namun juga meningkatkan nilai TMII sebagai aset negara yang mampu memberikan manfaat bagi ekosistem dan kelestarian lingkungan serta mewujudkan TMII menjadi aset yang sangat bernilai karena menjadi sarana edukasi bagi kaum muda akan kekayaan budaya nusantara yang dapat meningkatkan rasa cinta Tanah Air dan merekatkan persatuan bangsa. Ke depannya, konsistensi dari pengelola yang baru akan menjadi kunci utama proses optimalisasi aset budaya yang dimiliki pemerintah. Dengan potensi nilai dan inovasi yang akan dikolaborasikan, TMII dapat berevolusi menjadi salah satu aset andalan pemerintah yang mampu terus menyumbang pendapatan dalam bentuk nilai ekonomis dan nilai non ekonomis.