Konten dari Pengguna

Santri yang Menjalani Dua Peran, Menggapai Satu Tujuan

Rifqiyah Amani

Rifqiyah Amani

Mahasiswa Pascasarjana Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Santri di Pondok Pesantren Ath Thohiriyyah

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifqiyah Amani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Media Pondok Pesantren Ath Thohiriyyah
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Media Pondok Pesantren Ath Thohiriyyah

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus santri merupakan tantangan tersendiri. Di lingkungan pondok pesantren, keseharian dipenuhi dengan aktivitas padat seperti kuliah di pagi hari dan mengaji di malam hari. Hal ini menuntut kedisiplinan dan komitmen tinggi. Namun, pondok pesantren bukan hanya tempat belajar Agama, melainkan juga ruang untuk menempa karakter. Di sinilah banyak hal penting dalam hidup dipelajari, seperti mengelola waktu, membangun kebiasaan sabar, dan belajar hidup bersama dalam suasana yang penuh toleransi. Aktivitas harian seperti mengantri untuk makan, mandi, atau mencuci menjadi sarana pembelajaran tentang kesabaran dan tenggang rasa yang nyata.

Selain fokus pada pendidikan Agama, pondok pesantren juga menyediakan berbagai sarana untuk pengembangan diri. Latihan khitobah melatih kemampuan berbicara di depan umum, kegiatan hadroh dan tilawah menumbuhkan apresiasi terhadap seni Islami, sedangkan tim media pondok menjadi ruang untuk mengasah keterampilan menulis dan berfikir kritis. Aktivitas semacam ini membentuk pola hidup yang teratur dan efisien. Meskipun aturan cukup ketat, suasana kebersamaan dan dukungan antarsantri menjadikan setiap tantangan terasa lebih ringan. Semua itu secara perlahan menumbuhkan pribadi yang tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab.

Menempuh jalur kehidupan santri-mahasiswa bukan hanya pilihan akademik, melainkan juga proses pendewasaan diri. Kombinasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama membentuk pribadi yang utuh secara intelektual dan spiritual. Dalam suasana pondok, pengalaman hidup tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dirasakan secara nyata melalui nilai-nilai kebersamaan, kekuatan doa, dan gotong royong. Paradigma bahwa mondok membatasi eksplorasi diri terpatahkan melalui pengalaman langsung yang justru membuka banyak ruang untuk tumbuh. Pondok pesantren menjadi tempat lahirnya generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dengan ilmu yang luas dan akhlak yang kuat.