Konten dari Pengguna

Retaknya Kehangatan Keluarga: Luka Psikologis yang Tak Terlihat

Olivya Sifa Adni

Olivya Sifa Adni

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Ilmu Hadis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olivya Sifa Adni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keluarga sering disebut sebagai tempat paling aman dan penuh cinta. Namun, bagi sebagian orang, rumah justru terasa seperti ladang konflik, penuh ketegangan, bahkan menjadi sumber trauma. Ketidakharmonisan keluarga bukan hanya soal pertengkaran antara orang tua. Ia bisa menjelma dalam bentuk diam-diam yang dingin, ekspektasi yang membebani, hingga komunikasi yang tidak pernah benar-benar tersambung.

Sebagai mahasiswa yang tumbuh di tengah era digital dan tekanan hidup yang semakin kompleks, saya melihat betapa banyak teman saya, dan mungkin juga saya sendiri, pernah atau sedang hidup dalam keluarga yang tidak harmonis. Tapi sebenarnya, apa saja sih yang membuat hubungan keluarga bisa renggang seperti itu?

ilustrasi gambar orang tua yang sedang mengajak anaknya berbicara (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar orang tua yang sedang mengajak anaknya berbicara (Sumber: Shutterstock)

Faktor Penyebab

1. Kurangnya Komunikasi yang Sehat

  • Banyak konflik dalam keluarga sebenarnya bisa dicegah jika komunikasi antaranggota terjalin dengan baik. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap bahwa “anak harus nurut” tanpa benar-benar mendengarkan sudut pandang anak. Sebaliknya, anak yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri justru makin menjauh dari orang tua. Akhirnya, semua dipenuhi asumsi. Dari asumsi itulah konflik tumbuh.

2. Masalah Ekonomi yang Menekan

  • Masalah ekonomi sering kali menjadi pemicu utama keretakan rumah tangga. Ketika pemasukan tidak mencukupi kebutuhan, emosi lebih mudah meledak. Orang tua bisa saling menyalahkan, sementara anak-anak menjadi korban dari ledakan emosi yang bukan berasal dari kesalahan mereka. Kadang bukan karena tidak saling menyayangi, tetapi tekanan finansial membuat semua orang kehilangan kesabaran.

3. Perbedaan Nilai dan Gaya Hidup

  • Di era sekarang, perbedaan pandangan antara generasi orang tua dan anak semakin tajam. Anak dianggap terlalu bebas, sementara orang tua dianggap terlalu kolot. Jika perbedaan ini tidak dikelola dengan bijak, bisa berujung pada saling menjauh. Banyak anak memilih diam, menghindar, bahkan pergi dari rumah karena merasa tidak diterima.

4. Trauma yang Tak Pernah Diselesaikan

  • Sering kali, ketidakharmonisan tidak muncul secara tiba-tiba. Ada luka lama yang tidak pernah disembuhkan, ada konflik yang tidak pernah diselesaikan—hanya ditumpuk dan ditutup rapat. Akibatnya, emosi negatif terus menumpuk. Rumah terasa dingin, bukan karena kurang pendingin udara, tetapi karena terlalu banyak emosi yang dibekukan.

5. Ketidakhadiran secara Emosional

  • Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional. Banyak orang tua yang sibuk bekerja dari pagi hingga malam, lalu pulang ke rumah dalam keadaan lelah, tanpa energi untuk berbicara dengan anak. Di sisi lain, anak tenggelam dalam gawai atau lingkaran sosialnya sendiri. Akhirnya, meskipun tinggal serumah, mereka seperti orang asing.

Dampaknya? Luka Psikologis dan Generasi yang Penuh Kecemasan

  • Ketidakharmonisan dalam keluarga berdampak besar terhadap kondisi mental anak muda. Banyak yang tumbuh dengan rasa tidak aman, sulit mempercayai orang lain, bahkan takut berkomitmen karena pengalaman masa kecil yang penuh luka. Di kampus, saya sering melihat teman-teman yang terlihat ceria, tetapi menyimpan beban besar dari rumah.

Lalu, Apa Solusinya?

  • Membangun keluarga yang harmonis memang tidak bisa dilakukan dalam sehari. Namun, hal-hal kecil seperti mau mendengarkan, membuka diri untuk berdialog, saling menghargai, dan tidak menyimpan dendam bisa menjadi langkah awal. Anak perlu belajar memahami posisi orang tua, begitu pula sebaliknya. Jika diperlukan, jangan ragu mengikuti konseling keluarga. Itu bukan tanda kelemahan, justru langkah berani untuk memperbaiki.

Saya percaya, seberat apa pun konflik yang ada, setiap keluarga punya peluang untuk memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, rumah adalah tempat pertama kita belajar mencintai, mendengarkan, dan menjadi manusia. Jika rumah tidak bisa menjadi tempat pulang, ke mana lagi kita akan kembali?