Guru Ngaji Yang Dianggap Sebelah Mata

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Ilmu Hadis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Fathira Farhah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman, profesi guru sering kali luput dari sorotan utama. Mereka, para pahlawan tanpa tanda jasa, kerap dipandang sebelah mata; sebuah stigma yang sayangnya telah mengakar dalam benak sebagian masyarakat. Padahal, di balik kesahajaan dan rutinitas mengajar, tersimpan kisah-kisah luar biasa tentang dedikasi, perjuangan, dan dampak transformatif yang tak terhingga.
Mitos dan Realitas: Mengapa Guru Kerap Dipandang Sebelah Mata?
Ada berbagai faktor yang berkontribusi pada persepsi ini. Gaji yang sering kali dianggap tidak sepadan dengan beban kerja, kurangnya apresiasi publik, serta stereotip bahwa guru hanya "mentransfer ilmu" tanpa inovasi, menjadi beberapa di antaranya. Padahal, realitasnya jauh berbeda. Guru adalah ujung tombak pembangunan karakter bangsa. Mereka tak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga mendidik moral, menanamkan nilai-nilai luhur, dan membimbing peserta didik untuk meraih potensi terbaiknya.
Lebih dari Sekadar Mengajar: Peran Multifaset Seorang Guru
Seorang guru adalah multitasker ulung. Mereka bertindak sebagai motivator, konselor, inovator pembelajaran, hingga administrator. Di dalam kelas, mereka harus mampu menciptakan suasana yang kondusif, merancang metode pengajaran yang menarik, dan memastikan setiap peserta didik memahami materi. Di luar kelas, tak jarang mereka menjadi tempat curhat, sumber inspirasi, atau bahkan figur pengganti orang tua bagi sebagian peserta didik. Peran ini sering kali luput dari pengamatan, sehingga kontribusi mereka terasa biasa-biasa saja di mata publik.
Dampak Nyata yang Tak Terukur: Jejak Abadi Sang Pendidik
Meskipun sering dianggap remeh, dampak seorang guru sangatlah monumental. Mereka adalah arsitek masa depan, membentuk generasi penerus yang akan menggerakkan roda peradaban. Banyak tokoh sukses, ilmuwan hebat, atau pemimpin bijak yang mengakui bahwa titik balik dalam hidup mereka berawal dari bimbingan seorang guru. Jejak yang ditinggalkan seorang pendidik tidak selalu berbentuk penghargaan atau sanjungan, melainkan dalam bentuk erubahan positif pada diri peserta didiknya, yang pada gilirannya akan berdampak luas pada masyarakat.
Menebar Apresiasi, Menghapus Stigma
Sudah saatnya kita mengubah narasi ini. Bukan lagi saatnya memandang sebelah mata profesi yang begitu mulia ini. Apresiasi tidak harus selalu berupa materi, tetapi juga pengakuan atas kerja keras, dukungan moril, dan pemahaman yang lebih dalam tentang peran esensif mereka. Mari bersama-sama menebar apresiasi, baik itu melalui ucapan terima kasih sederhana, partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah, atau dengan mendukung kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan guru.
Dengan begitu, guru tidak lagi menjadi "guru biasa di mata dunia," melainkan guru yang diakui, dihargai, dan ditempatkan pada posisi terhormat yang memang selayaknya mereka sandang.
