Konten dari Pengguna

Cara Peternak Sapi Kerap Madura Menuju Kontes Kerapan Sapi

Samsukdin

Samsukdin

Saya Samsukdin, Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Universitas Trunojoyo. Saat ini saya semester 7 dan mengikuti riset bersama dosen terkait sapi Madura.

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Samsukdin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sapi Kerap Madura yang dipajang di halaman rumah peternak. Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sapi Kerap Madura yang dipajang di halaman rumah peternak. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sapi Madura merupakan salah satu sapi lokal Indonesia dan banyak ditemui di wilayah Madura, Jawa Timur. Sapi Madura dibagi menjadi beberapa jenis antara lain sapi sonok, sapi kerapan dan sapi konvensional (sapi potong Madura dan sapi Madrasin). Peran ternak sapi Madura bagi peternak salah satunya sebagai ajang olahraga dan sumber daya hiburan misalnya kerapan sapi.

Kerapan sapi merupakan sebuah kontes sapi kerap (sapi Madura jantan) yang dinilai dari kecepatan larinya. Kerapan sapi sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Madura dan rutin digelar setiap tahunnya. Kontes kerapan sapi dibedakan menjadi beberapa tingkatan, dimulai dari tingkat dasar yaitu kawedanan, kabupaten hingga tingkat karesidenan.

Tingkat kawedanan yaitu kontes sapi kerap yang setara dengan tingkat kecamatan. Peserta kontes berasal dari daerah yang bersangkutan dan peternak dari daerah lain tidak diperkenankan untuk mengikutinya. Pemenang kontes kawedanan berhak memperoleh tiket untuk mengikuti kontes tingkat kabupaten.

Tingkat kabupaten atau disebut Bupati Cup merupakan kontes sapi kerap yang pesertanya berasal dari pemenang di tingkat kawedanan. Pemenang kontes Bupati Cup selanjutnya berhak mengikuti kontes karesidenan. Presiden Cup atau kontes karesidenan merupakan ajang karapan sapi yang diikuti oleh pemenang kontes kabupaten di empat wilayah, meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Teknik pemeliharaan dan perawatan sapi kerap berbeda-beda antara peternak yang satu dengan yang lain. Menurut Yunus selaku peternak sapi kerap menjelaskan perawatan yang dilakukan terhadap sapi kerapnya yaitu pemberian pakan, pembersihan sapi dan kandang dan latihan fisik.

Pemilik enam ekor sapi kerap tersebut juga menambahkan terkait jamu dan latihan sebelum kontes. Jamu yang diberikan berupa telur ayam, dimana satu ekor sapi kerap diberikan 50 butir telur setiap hari. Sementara, latihan yang dilakukan meliputi latihan fisik dan tren di lapangan, stadion sapi kerap dan di Katol, Bangkalan.

Informasi lain terkait sapi kerap juga disampaikan oleh peternak kelompok Sapurata asal Blega, Bangkalan. Sapi kerap yang dimiliki ini didatangkan dari Pulau Sapudi, Sumenep.

“Kalau saya untuk meningkatkan kualitas sapi kerap yang dilakukan yaitu pemberian pakan dan jamu, dipijat, dimandikan dan dilatih setiap hari. Pakan yang diberikan berupa daun lamtoro dan tebon jagung. Sementara, jamu yang diberikan berupa telur ayam dan ramuan seperti jahe, kunyit, temulawak, temukunci dan lain sebagainya. Latihan fisik atau tren dipersiapkan minimal dua minggu sebelum kontes kerapan sapi. Semakin tinggi biaya pendaftaran kontes, maka semakin besar hadiahnya,” jelasnya.