Konten dari Pengguna

Artificial Intelligence: Apakah A.I. Mampu Memiliki Kesadaran Emosional?

Erland Wennathan

Erland Wennathan

Murid SMAK IPEKA Tomang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erland Wennathan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.shutterstock.com/search/ai
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.shutterstock.com/search/ai

Dengan Artificial Intelligence (A.I.) sebagai salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat, banyak orang mulai khawatir atas kemajuan pesat yang dicapai oleh A.I. Dengan munculnya kekhawatiran ini, banyak orang bertanya-tanya jika A.I. bisa memiliki kemampuan untuk memiliki kesadaran emosional. Kesadaran emosional merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola bukan hanya emosi diri sendiri, tetapi emosi orang lain juga secara positif.

Banyak orang memperdebatkan apakah A.I. mampu menjadi makhluk yang hidup. A.I. dianggap banyak orang sebagai pintar. Ada eksperimen pemikiran dilakukan yang disebut “The Chinese Room Experiment” di mana seorang pria yang tidak bisa berbahasa Mandarin ditempatkan di ruangan dengan kamus lengkap. Dan di luar ruangan ada seorang pria bisa berbahasa Mandarin yang bertanya-tanya. Tugas orang yang berada di dalam ruangan ini adalah untuk menerjemahkan pertanyaan dan membuat kalimat dalam bahasa Mandarin menggunakan kamus. Tentunya orang yang bisa berbahasa mandarin tersebut berpikir bahwa orang yang ada di dalam ruangan dapat berbicara bahasa Mandarin.

Experimen ini dapat diterapkan untuk A.I. karena setiap kali seseorang meminta A.I. untuk melakukan sesuatu, A.I. tersebut menghasilkan respons dengan mengikuti serangkaian aturan. Kesadaran emosional itulah yang menjadikan kita manusia. Meskipun A.I. dapat dilatih untuk menunjukkan empati dengan mengenali situasi emosional, A.I. hanya sebuah program yang menjalankan perintah dan tidak bisa memahami konsep emosi.

Meskipun A.I. bisa mengalahkan manusia dalam seperangkat aturan, A.I. tidak bisa memahami konsep untuk memiliki kemampuan untuk menjadi kreatif dan inovatif seperti manusia. Karena itu manusia tidak bisa benar-benar digantikan oleh A.I. karena A.I. adalah sebuah alat yang dibuat untuk memudahkan tugas manusia dan bukan untuk menggantikannya. Dan menurut Dr. Dean Burnett, Artificial Intelligence mempunyai banyak implikasi besar, namun ketergantungannya pada logika akan membatasi serangannya ke beberapa industri. Dia juga menambahkan bahwa emosi juga mempunyai dampak dalam proses pembuatan ide yang membuat manusia inovatif dan kreatif. Dan semua ide A.I. berdasarkan logika yang diambil dari sumber-sumber yang sudah ada di internet.

Kesimpulannya, dengan cara kerja A.I. sekarang, A.I. tidak mungkin bisa memiliki kesadaran emosional karena perasaan itu sangat kompleks sehingga tidak bisa diprogram ke dalam A.I. Lalu, karena A.I. tidak mungkin bisa mempunyai emosi, A.I. tidak bisa membuat ide dengan cara yang sama seperti manusia dimana cara A.I. membuat ide dapat bertujuan untuk membantu manusia dan tidak menggantikannya.

Daftar Pustaka

BBC Studios (Executive Producer). (2015). The Chinese Room Experiment | The Hunt for AI [TV series]. BBC Studios.

Kay, L., & Walsh, C. (2024, July 26). AI will struggle to replace human creativity | News. Research Live. Retrieved October 14, 2024

Shutter shock. Artificial Intelligence