5 Hal yang Saya Pelajari Setelah 5 Tahun mondok: dari ingin kabur hingga terlalu

Santri, penulis, pembelajar, dari pondok kecil plosok jawa, menulis tentang perjalanan, ilmu, dan makna.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Syahrul hikam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Nyaman dipondok.

Hari yang Saya Ingat Seperti Kemarin. Saya masuk pondok pada tahun 2015. Umur 14 tahun. Diantar orang tua dengan koper baju tiga pasang, sejadah bekas, dan uang saku Rp150.000 yang diselipkan di saku dalam. Saya ingat jelas suasana itu diawal mondok. Pagi yang cerah tapi terasa berat. Ibu menangis pelan di sudut mobil. Ayah hanya mengangguk, mati-matian menahan sesuatu. Saya sendiri berpura-pura kuat, padahal dalam hati sudah merencanakan cara kabur hehe. Hari pertama: saya ingin pulang. Hari ke-100: saya masih ingin pulang. Hari ke-365: saya mulai bertanya-tanya, mungkin ini tidak seburuk yang saya bayangkan. Hari ke-1000: saya sadar bahwa tempat inilah yang membentuk saya menjadi manusia yang sekarang. Hari ke-1825: saya menulis ini, dengan rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Berikut lima hal yang tidak pernah saya duga akan saya pelajari di sini. Lima hal yang, kalau saya tidakmondok, mungkin saya tidak akan pernah tahu. --- 1. Disiplin dari Mondok: Hadiah untuk Diri Sendiri Di awal mondok, bangun jam 3 pagi terasa seperti siksa duniawi. Tubuh saya yang biasa bangun jam 6 untuk sekolah dasar, tiba-tiba harus beradaptasi dengan jam yang bahkan burung pun masih terlelap. Yang lebih sulit dari bangun pagi: disiplin pikiran. Bayangkan ini: Anda baru saja selesai sholat subuh, mata masih mengantuk, dan Anda harus menghafal 10 baris kitab dalam bahasa Arab yang belum Anda kuasai. Di sekitar Anda, ada teman yang berisik, ada yang menguap, ada yang bahkan ketiduran dengan kitab terbuka di wajahnya. Tapi Anda harus fokus.Bukan karena ada ustadz yang mengawasi. Bukan karena ada hukuman kalau tidak hafal. Tapi karena Anda sadar: waktu ini adalah waktu Anda, ilmu ini adalah ilmu Anda, dan masa depan Anda ditentukan oleh apa yang Anda lakukan sekarang. Perlahan, tubuh menyesuaikan. Jam biologis berubah. Yang dulunya siksa, kini menjadi rutinitas yang dirindukan. Sekarang, bangun subuh adalah waktu saya paling produktif. Bukan karena terpaksa, tapi karena saya tahu: ada berkah khusus di waktu-waktu yang orang lain masih lelap. --- 2. Mondok Mengajarkan: Sendiri Tidak Selalu Kesepian Sebelum saya mondok, saya tipe orang yang mudah bergaul. Punya banyak teman. Saya pikir, kualitas hidup ditentukan oleh seberapa ramai lingkaran pertemanan saya. Pondok mengajarkan saya hal lain. Di sini, ada waktu-waktu harus sendiri: saat menghafal kitab di sudut perpustakaan, saat merenung di musola kecil selepas sholat, saat menulis buku harian di bawah lampu temaram asrama.
Awalnya, keheningan itu menakutkan. Tapi lama-kelamaan, saya belajar: kualitas diri tidak ditentukan oleh jumlah teman, tapi oleh kedalaman hubungan dengan diri sendiri. Saya belajar mendengarkan suara hati saya sendiri. Belajar membedakan antara keinginan yang datang dari dorongan luar, dan keinginan yang benar-benar datang dari dalam. Belajar bahwa kadang-kadang, jawaban atas pertanyaan hidup tidak datang dari diskusi panjang dengan orang lain, tapi dari diam dan merenung sendiri. Bukan berarti saya anti-sosial. Saya masih punya teman baik, masih ngobrol, masih tertawa bersama. Tapi sekarang saya tahu: kebahagiaan sejati tidak bergantung pada kehadiran orang lain. ---
3. Ilmu Hidup dari Mondok, Bukan Mati yang Dihafal Dulu, waktu awal mondok, saya pikir menghafal kitab sama dengan pintar. Semakin banyak halaman yang saya hafal, semakin "hebat" saya. Salah besar. Saya ingat satu kejadian. Saya sudah hafal matan Al-Ajurrumiyyah hampir seluruhnya. Saya bangga. Lalu ada teman yang bertanya: "Kalau begitu, coba jelaskan ayat ini dengan grammar yang kamu hafal." Saya baca ayat itu. Saya tahu setiap kata. Tapi saya tidak mengerti maknanya. Malam itu, saya tidak bisa tidur. Saya baru sadar: yang saya hafal adalah bunyi, bukan makna. Yang saya kuasai adalah lidah, bukan hati. Sejak itu, saya mengubah cara belajar. Saya tidak lagi buru-buru menghafal. Saya pelan-pelan memahami. Saya tanya ustadz, diskusi dengan teman, cari referensi tambahan. Nahwu. yang saya pelajari sekarang bukan untuk pamer di depan orang. Tapi untuk memahami kalam Allah dengan lebih dalam. Untuk merasakan keindahan bahasa Arab yang menjadi wadah wahyu. Untuk hidup dengan lebih bermakna. Ilmu yang hidup itu seperti air: mengalir, meresap, mengubah bentuk apa yang dilewatinya. Ilmu yang mati itu seperti batu: keras, kaku, tidak berguna kecuali untuk pamer. --- 4. Mondok membuka mata: pengorbanan orang tua Baru setelah tiga tahun mondok, saya benar-benar paham. Saya ingat satu kali pulang. Malam sebelum berangkat, ibu menyiapkan makanan favorit saya. Ayah diam-diam mengecek motor, memastikan aman untuk perjalanan pagi. Lalu saya lihat sesuatu: tangan ibu. Kasar. Bekerja keras. Tangan yang dulu menggendong saya, kini menggendong beban hidup yang jauh lebih berat.
Saya tanya: "Ibu, uang saku saya Rp150.000 sebulan, dari mana?" Ibu tersenyum. "Alhamdulillah, cukup." Tapi saya tahu. Saya tahu dari tetangga bahwa ayah sering lembur. Saya tahu dari adik bahwa ibu mengurangi belanja pribadinya. Saya tahu bahwa Rp150.000 itu bukan nominal kecil bagi keluarga kami. Itu hasil jerih payah yang mungkin mengorbankan kebutuhan mereka sendiri. Sejak itu, saya berhenti meminta tambahan. Saya belajar hemat: makan secukupnya, tidak beli yang tidak perlu, menyisihkan sisa uang saku. Bahkan, saya mulai menabung dari Rp150.000 saya belikan kitab-kitab kecil yang murah, dan sebagian aku sisipkan dicelengan. Orang tua tidak pernah minta balasan. Tapi saya berutang kepada mereka: untuk menjadi anak yang berbakti, yang sukses, yang membuat pengorbanan mereka tidak sia-sia.
5. Setelah mondok saya punya dua rumah Saya masih ingat pulang tahun pertama mondok. Gembira. Bebas. Tidak ada jadwal ketat, tidak ada tugas kitab yang menunggu. Tapi setelah dua minggu, sesuatu yang aneh terjadi: saya rindu pondok. Rindu suara azan subuh yang menggema. Rindu bau kayu bakar dari dapur bersama. Rindu suasana keheningan malam saat semua orang tidur dan hanya saya yang masih menyalakan lampu kecil untuk menulis. Rindu dibangunin subuh gedar-gedor. Bahkan, saya rindu tugas kitab yang menumpuk. Rindu tekanan ujian yang memaksa saya belajar lebih keras. Rindu teman-teman yang kadang menyebalkan tapi selalu ada saat saya butuh.
Saya sadar: saya punya dua rumah. Satu tempat saya lahir, satu tempat saya tumbuh. Satu tempat saya diterima apa adanya, satu tempat saya dibentuk menjadi lebih baik. Rumah itu bukan hanya empat dinding dan atap. Rumah itu adalah tempat di mana Anda merasa: ini adalah saya, ini adalah tempat saya berkembang, ini adalah tempat saya ingin kembali. --- Kenapa Saya Bersyukur Tidak Jadi Orang Lain? Mondok bukan jalan yang mudah. Banyak yang masuk, banyak yang keluar. Ada yang tidak kuat disiplin, ada yang rindu rumah terlalu dalam, ada yang merasa tidak cocok. Tapi bagi yang bertahan, ini adalah investasi jiwa yang tidak ada bandingannya. Saya tidak tahu apa yang menanti setelah lulus nanti. Apakah saya akan melanjutkan ke universitas? Apakah saya akan mengajar? Apakah saya akan kembali ke kampung?
Tapi satu yang pasti: lima tahun di pondok ini saya beljar cara menjadi manusia yang lebih utuh. Manusia yang tahu disiplin walaupun masih belajar, yang nyaman dengan diri sendiri, yang menghargai ilmu, yang berbakti pada orang tua, dan yang punya dua rumah untuk selalu dirindukan. Saya bersyukur tidak jadi orang lain. Saya bersyukur menjadi saya yang sekarang. ---
Muhammad Syahrul Hikam hikam santri pondok pesantren sirojuththolibin Brabo Grobogan
