Konten dari Pengguna

Satu Percakapan Sore yang Menampar Banyak Anak

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Raiyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana sore yang hangat antara ibu dan anak di teras rumah. Cahaya senja yang lembut menggambarkan kedekatan, perhatian, dan kasih sayang yang menjadi tema utama dalam cerpen "Sore Bersama Ibu" karya Annisa Hertami. Ilustrasi dibuat oleh penulis menggunakan aplikasi Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana sore yang hangat antara ibu dan anak di teras rumah. Cahaya senja yang lembut menggambarkan kedekatan, perhatian, dan kasih sayang yang menjadi tema utama dalam cerpen "Sore Bersama Ibu" karya Annisa Hertami. Ilustrasi dibuat oleh penulis menggunakan aplikasi Canva.

Di tengah ramainya media sosial dengan tren humor "chat AI lebih paham aku daripada orang rumah", ada satu karya sastra yang justru mengingatkan bahwa orang yang paling memahami kita mungkin bukan teknologi, melainkan ibu.

Cerpen "Sore Bersama Ibu" karya Annisa Hertami yang dimuat di Kompas menghadirkan cerita sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Tidak ada konflik besar, tidak ada tokoh superhero, dan tidak ada kisah cinta yang dramatis. Namun justru karena kesederhanaannya, cerita ini terasa nyata dan mudah menyentuh hati pembaca.

Saat ini banyak anak muda lebih sering berbincang dengan layar ponsel dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Fenomena itu bukan lagi hal yang asing. Kita bisa menghabiskan berjam-jam melihat unggahan orang lain, tetapi sering lupa meluangkan beberapa menit untuk mendengar cerita ibu di rumah.

Melalui cerpen ini, Annisa Hertami menghadirkan sosok ibu yang tidak banyak berbicara, tetapi selalu hadir dengan perhatian yang tulus. Kehangatan hubungan ibu dan anak dalam cerita menjadi pusat perhatian yang membuat pembaca sulit melepaskan diri dari alur yang dibangun.

Salah satu bagian yang menarik adalah ketika suasana sore menjadi ruang pertemuan antara anak dan ibunya. Sore yang biasanya dianggap sebagai waktu biasa, dalam cerpen ini berubah menjadi momen penuh makna. Pembaca diajak menyadari bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari percakapan sederhana yang selama ini dianggap sepele.

Kutipan dalam cerpen yang menggambarkan perhatian ibu menunjukkan bahwa kasih sayang tidak selalu diwujudkan melalui hadiah mahal atau kata-kata besar. Kadang, perhatian kecil yang dilakukan setiap hari justru menjadi bentuk cinta yang paling tulus.

Salah satu percakapan yang cukup membekas dalam cerpen ini adalah ketika ibu tetap menunjukkan perhatiannya melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana kepada anaknya. Meskipun terdengar biasa, dialog tersebut justru menggambarkan kedekatan emosional yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

"Sudah makan?"

"Sudah, Bu."

"Jangan lupa istirahat kalau capek."

Percakapan singkat semacam itu mungkin sering dianggap sepele. Namun, melalui dialog yang sederhana, Annisa Hertami memperlihatkan bagaimana kasih sayang seorang ibu sering hadir dalam bentuk perhatian kecil yang dilakukan berulang kali tanpa mengharapkan balasan apa pun.

Membaca cerpen ini terasa seperti sedang melihat kembali kehidupan kita sendiri. Banyak pembaca mungkin tiba-tiba teringat pada ibunya yang selalu menanyakan apakah sudah makan, apakah sudah beristirahat, atau apakah tugas kuliah sudah selesai. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dulu terasa mengganggu, ternyata merupakan bentuk kepedulian yang tidak semua orang miliki.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, karya fiksi lahir dari penghayatan pengarang terhadap kehidupan manusia dan disajikan dalam bentuk cerita yang mampu memberikan hiburan sekaligus pengalaman batin kepada pembaca. Cerpen "Sore Bersama Ibu" menjadi contoh bagaimana sebuah cerita sederhana mampu menghadirkan refleksi yang mendalam.

Melalui tema hubungan keluarga, Annisa Hertami mengangkat persoalan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Di era yang serba cepat, hubungan antara anak dan orang tua sering kali tergeser oleh kesibukan masing-masing. Banyak anak merasa tidak punya waktu, sementara orang tua hanya bisa menunggu kesempatan untuk berbicara.

Hal tersebut membuat cerpen ini terasa relevan dengan kondisi saat ini. Ketika banyak orang mencari tempat bercerita di media sosial, cerita ini justru mengingatkan bahwa rumah mungkin masih menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.

Dari segi struktur cerita, cerpen ini menunjukkan ciri khas cerpen yang memiliki satu fokus tema dan satu konflik utama. Nurgiyantoro menjelaskan bahwa cerpen cenderung menghadirkan satu tema yang dominan sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat terasa lebih kuat. Fokus tersebut terlihat jelas dalam cerita yang sepenuhnya menyoroti hubungan emosional antara anak dan ibu.

Selain itu, René Wellek dan Austin Warren menyatakan bahwa karya sastra mampu menciptakan ilusi kehidupan yang membuat pembaca merasa pengalaman dalam cerita benar-benar terjadi. Hal inilah yang membuat banyak pembaca merasa dekat dengan "Sore Bersama Ibu". Situasi yang dihadirkan bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi justru sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Menariknya, cerpen ini hadir di tengah tren konten digital yang sering menampilkan hubungan keluarga secara berlebihan demi mendapatkan perhatian publik. Berbeda dengan itu, Annisa Hertami memilih menyampaikan pesannya secara tenang dan alami. Tidak ada adegan yang dipaksakan untuk membuat pembaca menangis. Namun tanpa disadari, cerita ini mampu meninggalkan kesan yang mendalam.

Jika media sosial saat ini dipenuhi istilah healing, maka cerpen ini menunjukkan bahwa proses penyembuhan tidak selalu harus dilakukan dengan pergi jauh atau menghabiskan banyak uang. Kadang, duduk bersama ibu di sore hari dan mendengarkan ceritanya sudah cukup untuk menghangatkan hati yang lelah.

Pada akhirnya, "Sore Bersama Ibu" bukan hanya cerita tentang hubungan anak dan ibu. Cerpen ini adalah pengingat bahwa kasih sayang sering hadir dalam bentuk yang paling sederhana. Di tengah dunia yang semakin sibuk, cerita ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dan kembali menghargai orang-orang yang selama ini selalu ada di samping kita.

Sebab tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menikmati sore bersama ibunya. Dan mungkin, itulah alasan mengapa cerpen ini terasa begitu menyentuh.

Daftar Pustaka

Hertami, Annisa. 2024. Sore Bersama Ibu. Cerpen Kompas.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

René Wellek & Austin Warren. 2016. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.