Konten dari Pengguna

Karyawan Resign Cepat? Jangan Salahkan Mereka, Cek Manajemen SDM Ini!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanggoro Priaji Arzya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Unsplash/Turn Over Meeting
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Turn Over Meeting

Pernah nggak sih kamu merhatiin fenomena karyawan resign cepat? Baru masuk dua atau tiga bulan, eh... tiba-tiba udah nyerahin surat resign. Atau yang lebih bikin elus dada, pas sesi wawancara kelihatannya mantap dan meyakinkan banget, tapi begitu diterjunkan ke lapangan, kinerjanya jauh dari harapan. Jujur, refleks pertama manajemen biasanya gampang banget, langsung ngecap anak-anak zaman sekarang nggak tahan banting atau mentalnya lembek. Tapi kalau kita mau jujur dan coba narik benang merahnya ke belakang, masalahnya sering kali bukan di mereka. Masalah sebenarnya ada di rantai pengelolaan Manajemen SDM kita sendiri yang bolong-bolong dari awal. Merekrut orang itu kan sebenarnya nggak simpel cuma sekadar, "Wah, ada posisi kosong nih, yuk sebar info lowongan!" Di mataku, ada empat mata rantai SDM yang saling mengikat. Kalau salah satu aja retak, ya ambruk semua.

Akar Masalah Karyawan Resign Cepat dari Sisi SDM

1. Analisis Pekerjaan

Foto: Unsplash/Job Analysis

Ini penyakit yang paling sering aku temuin. Banyak perusahaan keburu-buru bikin iklan lowongan tanpa benar-benar membedah apa yang dibutuhkan. Akibatnya? Job description-nya jadi abstrak banget, atau malah syaratnya ketinggian dan nggak realistis. Pas karyawan baru masuk, ekspektasi mereka A, tapi di lapangan malah dituntut ngerjain B, C, sampai Z. Ketidakjelasan peran begini nih yang bikin orang stres di minggu-minggu awal dan akhirnya milih kabur. Padahal kuncinya cuma satu: bedah dulu fungsi jabatannya, hitung beban kerja riilnya, dan cari kompetensi yang benar-benar pas.

2. Perencanaan SDM

Foto: Unsplash/Planning Job

Ibarat kata, jangan asal buka lowongan kalau hitung-hitungannya belum matang. Kalau perencanaannya berantakan, ujung-ujungnya cuma dua: kalau nggak tim yang ada kelelahan karena overwork, ya perusahaan tekor karena rekrut orang yang sebenarnya belum butuh-butuh amat. Kita harus tahu pasti hitungan kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) di internal. Tambah orang itu harus sesuai dengan arah pertumbuhan bisnis, bukan cuma aksi panik gara-gara ada yang mendadak keluar.

3. Proses Rekrutmen

Foto: Unsplash/Recruitment

Rekrutmen itu bukan lomba menyebar jala seluas-luasnya, tapi soal gimana kita bisa narik perhatian kandidat yang tepat. Kalau analisis pekerjaan dan perencanaannya udah beres dari awal, pesan di iklan lowongan kita bakal jauh lebih jujur, jelas, dan memikat buat orang-orang yang berkualitas. Kita juga bisa pakai saluran rekrutmen yang pas sambil nunjukin kultur kerja perusahaan yang sebenarnya. Jadi dari awal, calon pelamar udah dapet gambaran yang realistis.

4. Tahap Seleksi

Foto: Unsplash/Selection

Ini benteng pertahanannya. Seleksi tuh sering gagal gara-gara pewawancara cuma ngandalin feeling atau "firasat" pas ngobrol, tanpa ada tolok ukur yang jelas. Harusnya, kita pakai metode wawancara berbasis perilaku biar kelihatan gimana cara mereka nyelesaiin masalah di masa lalu. Dan ingat, yang diuji jangan cuma skill teknisnya aja, tapi juga cocok nggak nilai-nilai pribadinya sama budaya kerja di tempat kita.

Jadi kalau ditanya gimana cara nahan supaya karyawan nggak cepat resign, jawabannya jelas nggak cukup cuma dengan menaikkan gaji atau nambah fasilitas kantor. Kita harus benerin dari akarnya. Hubungkan keempat rantai tadi mulai dari analisis pekerjaan, perencanaan, rekrutmen, sampai seleksi menjadi satu kesatuan yang utuh.

Saat perusahaan tahu pasti apa yang dibutuhkan, merencanakannya dengan matang, menjaring kandidat secara jujur, dan menyeleksinya dengan terukur, orang-orang yang masuk nanti bukan cuma sekadar "bisa kerja", tapi juga bakal betah dan tumbuh bareng perusahaan.