Konten dari Pengguna

Melampaui Batas "Asal Ngomong" dalam Komunikasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanggoro Priaji Arzya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

berbincang dengan penuh etika dan substansi
zoom-in-whitePerbesar
berbincang dengan penuh etika dan substansi

Di masa kini yang serba digital, semua orang punya kesempatan, alat, dan kebebasan penuh untuk menyampaikan pendapat kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan akses ini sering kali memunculkan ironi modern: dunia terasa penuh dengan suara yang sangat banyak, tetapi justru mengalami krisis isi yang sangat serius. Kita tinggal di tengah derasnya informasi, di mana jutaan pendapat mengalir setiap detik, namun sering kali hanya menghasilkan kebisingan yang melelahkan, bukan sesuatu yang benar-benar menginspirasi.

Selama bertahun-tahun, seni berbicara di depan umum atau komunikasi publik seringkali dianggap dengan cara yang terlalu sempit. Keterampilan ini sering dianggap hanya sebagai cara untuk menunjukkan kemampuan dengan memperhatikan suara yang lancar, nada yang dibuat rapi, atau seberapa lama seseorang bisa berbicara di depan mikrofon tanpa kehabisan topik. Akibatnya, munculnya sebuah budaya yang bisa kita sebut sebagai "asal bunyi" (asal ngomong). Dalam budaya ini, prinsip utamanya adalah "yang penting lancar dan percaya diri"; urusan apakah ide yang disampaikan itu terasa penting, terstruktur dengan baik, atau justru membuat pendengar merasa bosan, biasanya dibiarkan di urutan terakhir.

Padahal, jika dilihat dari inti yang lebih sejatinya, komunikasi publik tidak dinilai dari seberapa ramai tepuk tangan yang diperoleh atau seberapa lama seseorang berbicara. Kualitas komunikasi diukur dari seberapa cepat dan jernih suatu ide yang rumit bisa dipahami, diserap, serta akhirnya mengubah cara orang berpikir.

Sebagai mahasiswa yang setiap hari berhadapan dengan berbagai dinamika akademik, kemampuan membaca informasi, dan berbagai teori sosial, saya mulai menyadari bahwa bisa berbicara dengan baik membutuhkan tanggung jawab intelektual yang sangat besar. Orang yang bisa berkomunikasi di zaman sekarang tidak dinilai dari berapa banyak kata yang ia ucapkan setiap menit, melainkan dari seberapa tepat dan jernih informasi yang ia bagikan kepada orang banyak. Seorang pembicara yang pintar tahu tepat waktu untuk memotong kalimat yang terlalu panjang, bisa menyederhanakan informasi statistik atau teori kompleks menjadi cerita yang mudah dipahami, serta memahami pentingnya menghormati waktu dan tingkat pemahaman pendengarnya.

Lebih dari itu, tanggung jawab moral seorang pembicara sekarang jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Di tengah semakin banyaknya informasi palsu dan rasa bosan yang terjadi di tengah masyarakat, setiap perkataan yang disampaikan di ruang publik memiliki dampak yang sangat besar dan terasa. Ketika seseorang berbicara tanpa dasar penelitian yang baik atau hanya untuk mendapatkan perhatian di dunia digital, dia sedang menciptakan suara yang mengganggu dan membuat situasi semakin memburuk. Komunikasi yang baik membutuhkan rasa empati yang tinggi artinya kita harus menyadari bahwa berbicara bukan hanya tentang menyampaikan pikiran atau keinginan sendiri, melainkan tentang mempertimbangkan apakah apa yang kita katakan benar-benar penting dan bermanfaat bagi orang lain.

Pergeseran tantangan ini semakin jelas karena batas antara panggung nyata dan layar virtual mulai memudar. Saat ini, berbicara di depan orang banyak tidak lagi selalu berarti harus berdiri di ruangan besar. Berbicara melalui kamera ponsel untuk rapat kerja profesional, presentasi akademik secara online, hingga berbagi pendapat di ruang digital membutuhkan tingkat keseriusan yang sama. Ketika hubungan fisik semakin langka dan jarak semakin jauh, yang tersisa dari seorang pembicara hanyalah kejernihan pemikiran dan kejujuran dalam menceritakan cerita berdasarkan perasaan. Jika komunikasi kita hanya berhenti pada "mengucap saja", orang yang sedang mengakses perangkat elektronik akan cepat menutup saluran atau beralih ke hal lain dalam hitungan detik pertama.

Oleh karena itu, saatnya kita mengubah cara berpikir tentang mendefinisikan ulang standar kemampuan berkomunikasi publik. Kita harus keluar selamanya dari perangkap gaya yang tidak berisi, dari retorika palsu yang tidak bermakna, menuju kualitas substansi yang mencerahkan.

Sebab pada akhirnya, komunikasi yang baik bukanlah tentang cara membuat diri kita terlihat paling cerdas, paling menguasai, atau paling menarik perhatian dalam sebuah ruangan. Komunikasi yang baik adalah tentang cara kita menghormati hak pendengar untuk pergi dengan membawa pemahaman yang berguna dan positif. Berbicara tidak hanya tentang mengeluarkan suara dari pita suara; berbicara adalah tentang cara kita menempatkan etika, kejernihan logika, dan makna yang hidup dalam setiap kata yang kita ucapkan kepada orang lain.