Merayakan Warisan Budaya Lewat Sepotong Wajik Khas Klaten

Mahasiswa Pariwisata Universitas Budi Luhur
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Agik Faris Arsyadana Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis By: Agik Faris Arsyadana Ramadhan, Jasmine Qur'ani
Pada Jumat, 22 Mei 2026, Universitas Budi Luhur mendadak penuh dengan aroma autentik nusantara. Mahasiswa Prodi Pariwisata sukses menggelar event Gastronomi Tourism Budi Luhur. Lewat pameran makanan daerah ini, kami membawa misi besar: memperkenalkan kembali kuliner khas kampung halaman masing-masing.
Di stan saya, Wajik Khas Klaten menjadi bintangnya. Bukan sekadar membagikan camilan gratis, kami mengajak para pengunjung (mahasiswa UBL) menyelami kisah di balik kelegitannya. Mulai dari proses pembuatan, pengisian kuesioner, hingga membedah sejarahnya.
Tahukah kamu? Wajik legendaris ini sudah eksis sejak zaman Kerajaan Majapahit dan tercatat dalam naskah kuno Serat Nawaruci sebagai hidangan sakral dalam upacara penting. Secara filosofis, nama "Wajik" berasal dari bahasa Jawa “Wani Tumindak Becik” yang berarti "Berani Berbuat Baik". Kudapan berbahan ketan, gula merah, dan santan ini diolah dengan kesabaran hingga menghasilkan tekstur yang legit dan rasa manis yang pas.
Melalui acara ini, saya ingin mengetuk kesadaran generasi muda: Wajik bukan sekadar jajanan pasar jadul. Ia adalah warisan budaya, pelajaran hidup, dan simbol kebaikan yang harus terus hidup di masa depan. Yuk, cicipi sepotong warisan budaya kita!
