Sistem Pembinaan Ormawa Amburadul, Mahasiswa Ambruk

Orang Desa, Pengelola Media Online dan Mahasiswa S1 Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Gorontalo
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zulki Ahili tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Organisasi Kemahasiswaan (ormawa) di suatu perguruan tinggi dianggap sebagai suatu hal yang penting bagi mahasiswa dan perguruan tinggi tersebut. Sebab, ormawa memiliki peran sebagai wahana pendidikan mahasiswa khususnya dalam rangka pengembangan civic skills mahasiswa agar siap terjun ke masyarakat.
Perguruan tinggi atau kemudian akrab dikenal kampus menjadi tempat yang penting sebagai sarana untuk mengekspresikan minat dan bakat mahasiswa diwujudkan dengan hadirnya ormawa seperti BEM, DPM dan UKM/UKK. Semuanya memiliki muara yang sama yaitu pendidikan.
Namun, yang menjadi persoalan pelik di beberapa kampus adalah minat dan bakat kadang sulit tersalurkan karena masalah sistem pembinaan kemahasiswaannya tidak baik bagi perkembangan mahasiswa itu sendiri.
Lebih spesifik lagi bahwa esensi pendidikan yang diharapkan dari setiap kegiatan ormawa justru diabaikan, sehingga menciptakan dialektika mahasiswa yang tanpa arah.
Apalagi bagi kampus yang menggunakan sistem pemerintahan mahasiswa dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebagai pemuncak hierarki mahasiswa. Maka pertaruhannya adalah dinamika dan dialektika yang terjadi di dalamnya juga akan memberikan efek bagi mahasiswa, baik secara langsung maupun tidak.
Untuk itu pembinaan ormawa di lingkungan kampus menjadi suatu yang wajib dibenahi apabila ingin menghasilkan mahasiswa dengan kualitas yang diharapkan.
Tidak sedikit kampus yang remeh dan tidak mau memperhatikan jalannya sistem pembinaan ormawa sehingga menciptakan siklus dialektika mahasiswa yang amburadul. Dinamika yang terjadi di dalam justru tidak memiliki esensi dari pendidikan yang diharapkan yaitu salah satu di antaranya sebagai pengembangan civic skills.
Akibatnya, mahasiswa—dalam hal ini BEM—dipimpin oleh mereka yang bermodalkan nyali dan retorika saja, atau mungkin mereka yang berada dalam kendali "mahasenior".
Pada akhirnya siklus pembinaan mahasiswa yang justru diharapkan bisa menjadi wahana yang baik bagi perkembangan mahasiswa menjadi tumbalnya. Hal ini disebabkan karena BEM dan pemangku kebijakan yang sejenis melahirkan program "aku adalah..." dan atau "siap senior".
Kualitas ormawa baik itu BEM, UKM, atau lainnya bagi penulis ditentukan dengan sistem pembinaan ormawa yang ada di dalamnya. Bagaimana dialektika mahasiswa sekalipun berlarut-larut dengan banyaknya kepentingan bisa dikendalikan karena memiliki aturan main.
Banyak kita temui konflik yang terjadi namun tidak memiliki arah yang jelas. Uniknya lagi yang ada di kepala para "aktivis" hanya ada kata menang dan tidak memikirkan sebab asal muasal dari bobroknya konflik itu sendiri. Kebanyakan berada pada sistem yang amburadul.
Mereka bangga akan kemenangannya dengan sistem rimba, siapa kuat dia menang. Siapa yang berkuasa dia pemenangnya. Kelak mereka akan bercerita dengan bangga di hadapan "mahajunior" akan kemenangannya bersejarahnya itu, padahal sebenarnya yang mereka lakukan jauh dari nilai yang diharapkan.
Sistem pembinaan yang baik adalah yang memperhatikan bagaimana berjalannya proses kehidupan ormawa dengan satu tujuan yaitu semuanya bermuara pada nilai-nilai pendidikan sebagaimana layaknya kehidupan sekelompok orang yang ingin terus belajar.
Kampus harusnya menjadi tempat bagi mahasiswa dalam menyalurkan ide, inovasi, kreativitas, minat atau bakatnya. Sebagai contoh misalnya dalam sistem pemerintahan mahasiswa tidak bisa dihindari konflik kepentingan yang terjadi antara mahasiswa.
Namun apa peran kampus dalam hal ini pimpinan menanggapi konflik itu? Penyelesaian konflik? Ya itu jangka pendeknya. Namun yang harusnya dipikirkan adalah apakah konflik antar mahasiswa mengandung esensi pendidikan atau tidak? Mari lihat sistem pembinaan ormawa, apakah konflik di atas sudah sesuai aturan main atau tidak?
Kalau sesuai aturan main dan memiliki esensi pendidikan pimpinan kampus patut bersyukur bahwa mahasiswa saat ini sedang menempuh pendidikan yang baik sebagai persiapan mereka untuk terjun ke masyarakat dan bangsa namun.
Masalahnya adalah aturan mainnya tidak disusun, sistemnya amburadul, mahasiswa bingung, kampusnya berpikirnya jangka pendek dan imbasnya "ambruknya" mahasiswa.
