Konten dari Pengguna

Anak Perempuan Serbabisa, Anak Laki-Laki Serba Dimaklumi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Neisha Azalia Zaheti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan sebagai boneka marionet yang melambangkan tekanan norma sosial. (Ilustrasi: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan sebagai boneka marionet yang melambangkan tekanan norma sosial. (Ilustrasi: AI)

Patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk larangan perempuan bersekolah atau bekerja. Kadang, ia tumbuh dari ruang makan keluarga, ketika anak perempuan diminta untuk membereskan piring sementara saudara laki-lakinya dibiarkan beristirahat. Kebiasaan kecil yang dianggap lumrah itu perlahan mengajarkan satu hal: pekerjaan domestik adalah tanggung jawab perempuan, sedangkan keterlibatan laki-laki hanyalah pilihan. Jika ketimpangan sudah diajarkan dari rumah, mengapa kita heran ketika ia terus hidup di masyarakat?

Sejak kecil, anak perempuan kerap diajarkan memasak, membersihkan rumah, hingga mengurus kebutuhan keluarga. Semua itu dianggap sebagai bekal kemandirian. Namun, dalam sebagian keluarga, tuntutan serupa tidak selalu diberikan kepada anak laki-laki. Perempuan yang mengerjakan pekerjaan domestik dianggap menjalankan kewajibannya, sementara laki-laki yang melakukan hal sama terkadang mendapatkan apresiasi lebih besar. Perbedaan standar inilah yang perlu dipertanyakan: apakah keluarga sedang mengajarkan kemandirian atau tanpa sadar membiasakan ketimpangan?

Dalam sosiologi pendidikan, keluarga merupakan ruang berlangsungnya pendidikan informal. Anak mempelajari nilai dan norma bukan hanya melihat nasihat, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari. Pembagian pekerjaan rumah, pemberian tanggung jawab, hingga cara orang tua menilai perilaku anak menjadi bagian dari proses pendidikan. Ketika perlakuan tersebut dibedakan berdasarkan gender, keluarga berpotensi menjadi tempat pewarisan ketimpangan sosial.

Fenomena ini dapat dipahami melalui pemikiran Ann Oakley dalam Sex, Gender, and Society (1972). Oakley membedakan jenis kelamin biologis dengan gender yang berkaitan dengan peran dan harapan sosial. Melalui proses sosialisasi gender, anak mengenal berbagai harapan dan kebiasaan yang oleh lingkungan sosial dilekatkan pada perempuan maupun laki-laki. Ketika anak perempuan lebih sering dibiasakan mengurus rumah, sementara anak laki-laki memperoleh kelonggaran, keduanya dapat membentuk pemahaman berbeda mengenai tanggung jawab domestik.

Perbedaan tersebut terkadang tercermin dalam penggunaan istilah membantu. Ketika anak laki-laki mencuci piring, tindakannya mungkin disebut membantu ibu. Sebutan ini tentu tidak selalu bermasalah karena setiap anggota keluarga dapat saling membantu. Namun, apabila istilah tersebut terus digunakan hanya untuk laki-laki, sementara pekerjaan yang sama dianggap kewajiban anak perempuan, muncul perbedaan makna yang patut dikritisi. Pekerjaan domestik seolah menjadi tanggung jawab utama perempuan, sedangkan keterlibatan laki-laki dipandang sebagai kontribusi tambahan. Persoalannya bukan pada kata membantu itu sendiri, melainkan pada pembagian tanggung jawab yang tersembunyi di balik penggunannya.

Ketimpangan pembagian pekerjaan domestik juga terlihat dalam data global. Laporan UNICEF berjudul Harnessing the Power of Data for Girls: Taking Stock and Looking Ahead to 2030 (2016) menunjukkan bahwa anak perempuan berusia 5-14 tahun secara keseluruhan menghabiskan 160 juta jam lebih banyak setiap hari untuk pekerjaan rumah tangga dibandingkan anak laki-laki seusianya. Kegiatan yang dihitung mencakup memasak, membersihkan rumah, merawat anggota keluarga, serta mengambil air dan kayu bakar. Temuan ini memperlihatkan bahwa ketimpangan tanggung jawab dapat muncul sejak masa kanak-kanak.

Melalui perspektif konflik dalam sosiologi pendidikan pembagian pekerjaan domestik tidak hanya berkaitan dengan siapa yang mengerjakan tugas rumah, tetapi juga siapa yang memperoleh lebih banyak waktu dan kesempatan. Ketika anak perempuan harus menyelesaikan pekerjaan domestik sebelum belajar atau beristirahat, sementara saudara laki-lakinya tidak menghadapi tuntutan serupa, kesempatan keduanya dapat menjadi tidak seimbang. Ketimpangan berlangsung bukan hanya karena adanya larangan, melainkan juga karena beban yang dibagikan secara berbeda.

Salah satu penyebab pola tersebut terus dianggap sebagai bentuk pendidikan yang benar adalah kebiasaan yang diwariskan antargenerasi. Sebagian orang tua mungkin memandang keterampilan domestik sebagai bekal penting bagi anak perempuan karena mereka sendiri dibesarkan dengan nilai serupa. Niat tersebut dapat berangkat dari kepedulian dan keinginan mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dewasa. Namun, niat baik tetap perlu disertai evaluasi terhadap cara tanggung jawab dibagikan. Sesuatu yang telah lama dianggap wajar belum tentu memberikan kesempatan yang setara.

Di sinilah kebudayaan bekerja melalui norma yang jarang dipertanyakan. Anak perempuan yang rajin mengurus rumah dapat dianggap telah dididik dengan baik, sementara anak laki-laki yang tidak terbiasa melakukannya masih memperoleh pemakluman. Standar berbeda ini berisiko membentuk pemahaman bahwa perempuan harus mampu mengurus dirinya sekaligus orang lain, sedangkan laki-laki tidak selalu dituntut mengembangkan kemampuan yang sama.

Mengubah pola tersebut bukan berarti mengurangi tanggung jawab anak perempuan atau mengalihkan seluruh pekerjaan kepada anak laki-laki. Setiap anak perlu mempelajari keterampilan hidup sesuai usia dan kemampuannya. Apresiasi juga penting diberikan kepada siapa pun yang belajar bertanggung jawab. Yang perlu diubah bukan kebiasaan memuji anak, melainkan standar penilaian yang membuat tindakan serupa dianggap luar biasa bagi satu anak, tetapi sekadar kewajiban bagi anak lainnya.

Pada akhirnya, keluarga perlu mempertanyakan kembali makna kemandirian yang selama ini diajarkan. Apakah anak perempuan sedang dipersiapkan menjadi mandiri, atau dibiasakan memikul tanggung jawab yang tidak dibagikan secara adil? Apakah anak laki-laki sedang diberi kebebasan atau justru kehilangan kesempatan mempelajari keterampilan dasar untuk mengurus kehidupannya sendiri?

Sebab, ketika anak perempuan dibiasakan memikul tanggung jawab yang lebih besar, sementara anak laki-laki tidak memperoleh tuntutan dan pembelajaran yang setara, pendidikan keluarga berisiko mewariskan ketimpangan, bukan membentuk kemandirian bersama.