Yang Katanya Rumah: Tentang Mereka yang Menjadi Pulang

Mahasiswa di Malaka
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Navis Yusrizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apakah kalian pernah membayangkan dengan siapa kalian akan hidup dan berakhir dalam suatu perjalanan? Apakah dari perjalanan tersebut terdapat banyak orang baik, peduli, dan mendukung kamu? Atau malah dalam perjalanan tersebut, orang yang hidup dengan mu menjadi neraka untukmu?

Dalam suatu perjalanan yang aku tempuh, di tengah, aku menemukan sebuah tempat yang tidak tahu apakah tempat itu nyaman atau tidak bagi penghuninya. Sebuah tempat yang bila aku masuki, maka karpet yang hijau menyambutku, pagi yang berisiknya dipandu oleh dedaunan pohon jambu yang berjatuhan, dan aroma sedap yang berada di depan pagar. Sebuah tempat yang ku masuki bersama Alim untuk pertama kalinya, sembari menenteng sebuah koper berisi baju. Hangat sambutnya di depan pintu, memakai almamater biru, kulit putih, dan senyum kakunya menyambut kami. Dengan kaku dia menyapa, “Santri baru ya?”. Rifa’i namanya, pada saat itu dia mau berangkat ke sebuah desa untuk melaksanakan salah satu dari tridharma perguruan tinggi. Premis yang bagus menurutku untuk sapaan yang kaku tersebut.
Selang premis tersebut, tidak terasa dua tahun berlalu. Dalam dua tahun tersebut, menempati tempat ini, setiap waktunya memiliki episode. Setiap episode yang aku rasakan memiliki genrenya masing-masing. Banyak konflik dari kesalahpahaman yang terjadi pada kami. Semua kami perbaiki bersama dan tanpa disadari dari hal tersebut, kami telah tumbuh sebagai orang yang dewasa dan bijak. Pengalaman tersebut tumbuh dan telah membangun kami sebagai insan yang dewasa.
Pada seluruh episode yang ada, aku menemukan banyak sekali hal yang seru dan menarik. Episode-episode itu diisi oleh hal yang bahagia seiring dengan waktu yang terus tergerus dan pada akhirnya satu persatu pergi meninggalkan sesuatu yang ada.
Kepada Keluarga Dalam
Pertama, terimakasihku kepada Abi dan Umi, terhitung empat tahun di tanah rantau ini aku dipandu oleh Abi. Dua tahun di ma'had al-jami'ah saat beliau menjadi kepala pusat, dua tahun sisanya di tempat yang mau aku tinggalkan ini. Banyak sekali ilmu yang aku dapatkan darinya, hingga puncaknya kemarin. Berkat ilmu turats yang diajarkan di sini, itu menjadi wasilah bagiku untuk lulus dengan penelitian yang mengambil refrensi kitab-kitab klasik (turats). Terimakasih juga untuk Umi, selaku ibu bagi kami di sini, masakan umi adalah masakan yang sangat lezat, rawon, rendang, dan cumi yang tidak pernah akan kutemukan di manapun nanti setelah aku pergi. Umi, izinkan aku kembali dan menyantap masakan-masakanmu lagi Umi.
Bukan berarti Allah mengabaikan kalian ketika kalian tidak memiliki kegiatan di masa-masa aftergraduate, melainkan itu adalah bentuk perhatian dan cara Allah untuk mempersiapkan bekal kepada kalian, supaya kalian telah siap di waktu yang tepat. -K.H Akhmad Shodiq
Gus Mukti, Gus terimakasih telah mempercayakan beberapa hal kepadaku Gus, terasa berat jika akan mengingat kembali di saat kita berbincang tentang syawir, MAC, dan sorogan di balkon lantai dua. Terimakasih juga untuk ning Qonita, cilok buatan ning dengan bumbu kacang adalah hal yang tidak kalah spesial dari hidangan umi tadi, aku harap dapat kembali mencicipi itu lagi.
Terimakasih juga untuk ning Zian, semuga TPQ berjalan dan sesuai yang diharapkan ya ning. Berikut juga terimakasih kepada ning Mira, bestie seumuran beda satu bulan. Mir. Tapi Mir, banyak pelajaran yang bisa diambil dari Mira, salah satunya adalah prinsip yang dia pegang. Kemudian, teruntuk seluruh keluarga dalam di ma'had ini, terimakasih banyak.
Pa Haji dan Ustadz Fajrin
Kedua, pa Haji dan ustadz Fajrin, terimakasih dan maaf ya pa Haji dan ustadz Fajrin kalau selama ini Navis kurang optimal. Momen ketika kami sowan ke rumah baru ustadz Fajrin akan selalu Navis ingat. Gelak tawa dan canda itu seperti kaset yang memutar bayang-bayang rindu. Terimakasih pa Haji dan ustadz Fajrin. Jangan lupa THR untuk mahasantri ya ustadz, sesuai janji sowan kemarin, hehe (bercanda ustadz).
Mahasantri Putra dan Putri
Kemudian teruntuk santri putra seluruhnya (terlalu banyak nama) jujur aku sangat bahagia dapat mengobrol satu persatu dengan kalian, bercengkrama, bersenja gurau. Walau terkadang kalian susah untuk dibangunkan subuh, turun ta’lim, ataupun lainnya. Terimakasih telah menghidupakan salah satu episodeku ini ya. Kesan yang baik dan komitmen jatuh bangun yang kalian miliki adalah sebuah pesan bagi ku.
Gapapa main game yang penting nugas jalan. -Najib (Peraih Nominasi Mahasantri Terbaik)
Juga untuk santri putri terimakasih juga karena telah menjadi wanita-wanita yang kuat dan hebat. Gelora sayyidah Nafisah dan Rabiatul Adawiyah melekat pada diri-diri kalian. Khususon Sabrina, terimakasih ya shabrina, sunshine. Proud of Shabrina yang udah jadi musyrifah.
Badan Pengawas Harian
Rekan sejawat dan seperjuangan, BPH (Awadh, Zamrul, Umi Widya, Aul, dan Riri), Riri as my wakil terimakasih ya ri kamu sangat-sangat kooperatif di dalam melaksanakan sebuah program kerja.
Awadh dan Aul terimakasih juga karena telah berlelah-lelah mengabsen santri putra dan putri. Awadh, perjalanan kita masih panjang dan belum selesai, buku kita belum selesai, jadi tidak elok untuk menutup buku kita di tulisan ini. Auliani Karim, Aul jangan segan sama aku lah Aul. Wanita baik yang sangat menganut adat minangnya (adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah).
Umi Widya dan Zamrul terimakasih juga sudah menjadi Sri Mulyani di tempat ini. Zamrul, terimakasih ya sudah mengarungi lautan ini bersama. Lautan selanjutnya akan menjadi sebuah kapal yang berbeda zamrul. Aku harap, kita bertemu di ujung muara nanti. Umi Widya terimakasih telah menjadi pencair suasana. Selalu dan tetap hangat ya Widya, kepada seluruh rakyat bumi.
Pada akhirnya, pikiran kita sendiri lah yang menakuti diri kita sendiri -Umi Widya (via whatsapp)
Peran mereka di sini pasti sangat berat. Banyak tanggungan pribadi ataupun tuntutan eksternal yang harus mereka laksanakan, lalu mengontrol itu semua agar tetap berjalan. Omongan orang dan sebagainya mereka hadapi. Mereka adalah sebagian dari orang yang selalu ada dalam episodeku ini, baik di awal ataupun pada penghujung episode Navis, orang yang bergerak bersama, namun beriringan keluar satu persatu di penghujung episode ini. Tidak berasa sebentar lagi, masing-masing akan menempuh jalannya masing-masing. Rasa terimakasih sepertinya tidak cukup untuk kalian. Terimakasih telah menemani dan berjalan bersama di penghujung episode seorang Navis. Tanpa kalian, semua tidak akan berjalan. Momen-momen kumpul bersama kalian akan selalu aku rindukan, DPR, waroeng steak, fathullah, dan banyak lagi. Please kita harus kumpul lagi suatu saat!
Kamar 5 (Rohingya dan Tiktokers)
Kamar 5 Rohingya dan Tiktokers (Hafidz, Irwan, Syauqi, Aufa, Ariya, Hilmi, Adlan, Fadhly, dan Rafi) terimakasih telah selalu memberikan energi positif. Terimakasih, energi positif itu telah membangun harmoni sosial di rumah ini. Benar kata orang, orang sekitar adalah orang yang mempengaruhi respons kita ke orang lain. Terimakasih.
Angkatan 21
Berikut Kawan-kawan MM 21 (Mulham, Biba, Mey, Syifa, Omah, Baiq, dll) terimakasih telah menjadi warna-warni yang saling melengkapi dan menghias chapter-chapter kehidupan di tempat “Yang katanya rumah”. Btw, Omah. Aku ga espect kamu sowanin aku setelah dari abi dan umi. Nilai yang mahal buat kamu Omah. Kita jarang bercengkrama, tapi nilai baik mu menjadikan dirimu berbeda. Tetap menjadi nilai baik di manapun omah!
Abang-abang Sarjana
Bang Ulum, bang Miftah, bang Fikri, bang Fikri, bang Syahrial, dan freshgraduate lainnya. Terimakasih ya abang-abang, di episode yang hampir penghujung ini, aku merasakan apa yang kalian rasakan. Keluhan kalian tentang “Obrolan yang sudah tidak relevan” aku rasakan sekarang hehe. Lagi-lagi terimakasih atas seluruh pengalaman yang diberikan.
Penutup
Dan pada akhirnya, tiba sudah di penghujung paragraf di episode ini, di tempat “yang katanya rumah” aku pasti akan selalu ingat dengan kalian, orang-orang berharga yang pernah aku temui. Terimakasih telah mengawal perjalananku di sini, banyak pelajaran kehidupan dan kehangatan yang aku rasakan dari kalian. Rasa terimakasih aku sampaikan kepada kalian semua santri putra dan putri. Mohon maaf kalau nama kalian tidak tertulis.
Terakhir, tafsiran dari judul “Rumah” dalam cerita ini, sebenarnya itu adalah kalian, teman-temanku. Namun pada akhirnya, muncul sebuah pertanyaan. Apakah ketika tempat ini kehilangan kalian, tempat ini tetap bisa disebut sebagai "Rumah" ?
"Sejatinya kehilangan akan selalu menawarkan dua pilihan; lumpuh atau tumbuh, dan tiap insan berhak memilih untuk bersedih atau bahkan berseri." -Dikutip dari Utami
Ucapan terimakasih
Maulana Hafidz, Fidz, makasih ya. Nggak nyangka ternyata kamu pemain juga, haha. Agendakan Brebes sepiring bertiga ya! Nandi Hikmal , Nan, terima kasih sudah asik banget hehe. Taupik Siregar, Pik, makasih ya, udah jadi bagian penting dari semuanya. Rif’an, An, ayo ke UMJ bareng lagi! Elfan, Fan, makasih udah aktif banget ngurus Syawir. Faishal, Sal, walau udah boyong, tetep sering-sering ke tempat ini ya. Hilmi, Mi, ayo lah mi, bisa yuk. Agendakan kumpul lagi, mi! Fahmi, Mi, tetap ramah ya. Sejuk banget rasanya ada di dekat kamu. Najib, Jib, kalau ada yang sering pinjam motor, lapor ke ane aja ya haha. Zuhair, Hair, ngopi yuk! Makasih ya, Hair. Alif, Lif, ayo kajian lagi hehe. Kamu selalu ramah ke semua orang, Lif. Wira, Wiraaa, kita baru kenal tapi aura penasaranmu kuat banget. Pertahankan ya! Faiz, A-nya… AI wkwk. Nazdan, Jukik, semoga selalu FYP di hidup gua, hehe. Rasya, Rasya, ayo kita duduk sejam buat ngobrol. Pasti bakal kangen momen itu. Khatami. Thanks udah ngajak bokap nyokap duduk bareng buat ngobrol, hehe. Ibrar. Brar, terima kasih. Khidmatmu ke MM bukan sembarangan. Adlan. Dlan, makasih ya untuk hari yang singkat. Semirmu bakal selalu ngingetin aku. Fadhly. Brother MSAK, aku pasti selalu inget kamu, Fadly. Roshi. Selalu seperti Roshi ya! Jaga pergaulan, makasih sudah hadir, Roshi. Aldi Bekasi. Lawak selalu, Al, hahaha. Zidan. Dan, kembangin terus potensimu ya! Aldi Keamanan. Aldi, makasih udah nyambut gua waktu telat datang ke asrama. Kangen banget sih sama lu, Al. Labib. Bib, ada yang ngefans sama kamu tuh. Alam. Lam terimakasih sudah jadi teman mancing ya. Selalu rajin ya lam! Mubin. Terimakasih sudah jadi pelanjut koor Inggris yang lebih hebat. Tanzil, kapan kita bisa ketemu lagi ya nanti. Ilham, please enak terus masakannya. Wildan, bisa yuk Wil. Fikri Sidogori, ngopi lah fik. Thufail, please ramah terus ya! Azka, jujur kami ter Azka Azka. Faris, gua shout out ke lu ris, terus seperti itu ris. Gua udah absen satu persatu semuga tidak ada yang terlewat.
Berkesan banget bisa kenal kalian semua!
Note: Tulisan ini dibuat oleh penulis yang dalam keadaan mendung, namun warasnya dijaga oleh sekitarnya yang telah menjadi bagian dari rumah yang nyaman. Terimakasih asrama tercinta dan tentu orang-orang yang berada di dalamnya
(maaf kalau terdapat nama yang belum ditulis; baik di dalam paragraf ataupun ucapan terimakasih di akhir)
