Belajar dari Si Open: Ketika Guru Hanya Menjadi Bahan Olok-Olok di Sekolah

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN JAKARTA
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ervina Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam salah satu cerita pendek karya Idrus yang berjudul Jalan Lain ke Roma, terdapat seorang tokoh bernama Open. Sebelum dia gonta-ganti profesi menjadi pengarang hingga tukang jahit, Open ini awalnya adalah seorang guru sekolah rakyat.
Bukannya dihormati sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, nasib Open justru malah apes. Setiap kali lewat, anak-anak nakal di kampungnya selalu menyoraki dan mengejeknya dari belakang "Selamat pagi, guru goblok... blok... bloook."
Suatu hari, kesabaran Open habis. Karena kesal terus-menerus diolok-olok, dia memukul salah satu murid nakal itu sampai telinganya berdarah. Hasil akhirnya yang bisa ditebak, Open langsung dipecat dari sekolah. Cerita fiksi yang ditulis puluhan tahun lalu itu meninggalkan satu kalimat tanya yang menyentil dari ibu si tokoh Open "Di mana letak keadilan? Anak boleh belajar terus dengan kebohongan ini."
Jika kita melihat kondisi pendidikan sekarang, kisah si Open ini rasanya bukan cuma sekadar cerita di dalam buku. Yang dialami Open justru makin sering kita lihat di dunia nyata, bahkan dikemas dalam konten media sosial.
Kasus SMA di Purwakarta dan Hilangnya Rasa Hormat kepada Guru
Baru-baru ini, media sosial ramai oleh video viral dari salah satu SMA di Purwakarta. Di dalam video itu, terlihat bagaimana suasana kelas berubah menjadi tidak sehat. Bukannya fokus belajar, beberapa murid malah sibuk merekam, menertawakan, dan memperlakukan guru mereka dengan sikap yang sangat tidak sopan. Kejadian di Purwakarta ini adalah versi modern dari anak-anak nakal yang meneriaki Open di pinggir jalan. Bedanya, jika dahulu Open diejek secara langsung tanpa direkam, murid zaman sekarang dengan bangganya mendokumentasikan tindakan tidak terpuji itu, lalu mengunggahnya ke internet demi mendapatkan views atau sekadar dibilang keren. Terdapat masalah besar yang sama antara nasib Open dan guru di SMA Purwakarta tersebut mengenai krisis rasa hormat (respek) kepada guru.
Posisi guru di sekolah sekarang sering kali serba salah, persis seperti Open. Jika guru diam dan sabar, mereka malah dijadikan bahan bercandaan yang kelewatan oleh muridnya sendiri. Tapi begitu guru mengambil tindakan tegas sedikit saja untuk mendisiplinkan, risikonya sangat besar mulai dari dilaporkan orang tua, ancaman hukum, sampai langsung dipecat dari sekolah.
Beban Guru yang Menanggung Semua Masalah Sosial
Kasus murid yang berani merundung guru di kelas bukanlah insiden yang tiba-tiba terjadi begitu saja. Ini adalah tanda bahwa ada yang salah dengan bagaimana cara kita mendidik anak di lingkungan keluarga dan sosial. Beban guru zaman sekarang sudah sangat berat. Mereka harus mengurus administrasi yang rumit, mengejar target kurikulum, dan sering kali harus bertahan dengan gaji yang pas-pasan. Di luar beban kerja itu, mereka masih harus menanggung beban mental untuk menghadapi penurunan moral murid-muridnya di kelas.
Ketika sekolah atau masyarakat menganggap enteng kasus seperti di Purwakarta dan cuma menganggapnya sebagai "kenakalan remaja biasa", kita sebenarnya sedang melakukan pembiaran. Kita sedang membiarkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang merasa bebas melakukan apa saja tanpa takut sanksi.
Jangan Sampai Pendidik Memilih "Jalan Lain"
Di akhir cerita, Open memilih menyerah. Dia melempar semua buku sekolahnya, keluar dari dunia pendidikan, dan mencari jalan lain untuk bertahan hidup karena merasa sekolah bukan lagi tempat yang menghargai harga dirinya.
Kita tentu tidak ingin melihat guru-guru hebat di dunia nyata akhirnya ikutan menyerah. Kita tidak ingin mereka kehilangan semangat mengajar hanya karena lelah mental menghadapi murid yang tidak tahu akan sopan santun. Kasus di SMA Purwakarta ini harus menjadi peringatan keras bagi orang tua, sekolah, dan pemerintah.
Menghormati guru tidak cukup hanya lewat melalui peringatan setahun sekali saat Hari Guru. Rasa hormat itu harus diajarkan setiap hari, mulai dari rumah melalui contoh konkret bagaimana orang tua menghargai orang lain. Jika kita terus membiarkan murid bertingkah semena-mena terhadap gurunya, jangan heran jika kualitas pendidikan kita jalan di tempat. Kita mungkin bisa mencetak anak-anak yang pintar secara akademis, tapi di saat yang sama, kita juga sedang membesarkan generasi yang dengan ringannya menertawakan orang yang telah memberi mereka ilmu.
