Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Indonesia dalam Sistem Presidensial: Tantangan dan Peluang
21 Juni 2024 14:39 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Fadhail Fieryansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Indonesia mengadopsi sistem presidensial sejak era reformasi 1998, menggantikan sistem parlementer yang pernah diterapkan sebelumnya. Sistem presidensial ini memiliki karakteristik di mana presiden memegang kekuasaan eksekutif penuh dan dipilih langsung oleh rakyat untuk masa jabatan lima tahun.
ADVERTISEMENT
Peluang Sistem Presidensial
Salah satu keunggulan utama sistem ini adalah stabilitas eksekutif. Presiden memiliki masa jabatan tetap dan tidak mudah digulingkan oleh legislatif, berbeda dengan sistem parlementer yang sering kali menghadapi ketidakstabilan karena mosi tidak percaya. Stabilitas ini memungkinkan presiden fokus pada pelaksanaan program jangka panjang, yang krusial bagi pembangunan negara.
Selain itu, pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat memperkuat legitimasi pemimpin terpilih. Ini mendorong partisipasi politik yang lebih luas dan memperkuat hubungan antara pemimpin dan rakyat, karena presiden bertanggung jawab langsung kepada konstituennya.
Tantangan Sistem Presidensial
Namun, sistem ini juga tidak lepas dari tantangan. Dualisme kekuasaan antara presiden dan legislatif sering kali menyebabkan kebuntuan politik. Karena keduanya dipilih secara terpisah, tidak jarang terjadi perbedaan pandangan politik yang dapat menghambat proses legislasi dan kebijakan.
ADVERTISEMENT
Selain itu, presiden sering kali harus membentuk koalisi dengan berbagai partai politik untuk memperoleh dukungan di parlemen. Koalisi ini bisa menjadi rentan dan tidak stabil, yang pada akhirnya dapat menghambat kelancaran pemerintahan dan pelaksanaan program-program prioritas.
Solusi Mengatasi Tantangan
Untuk mengatasi tantangan ini, penting untuk memperkuat mekanisme check and balance antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Penguatan peran DPR dalam mengawasi eksekutif serta independensi peradilan adalah langkah krusial. Selain itu, reformasi sistem pemilu yang mengurangi fragmentasi partai politik dapat membantu membentuk koalisi yang lebih stabil dan efektif.
Pendidikan politik bagi masyarakat juga perlu ditingkatkan agar rakyat lebih memahami sistem pemerintahan dan dapat berpartisipasi secara konstruktif dalam proses demokrasi. Dengan demikian, rakyat dapat menjadi pengawas yang efektif terhadap jalannya pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%