Konten dari Pengguna

Anak-Anak yang Tak Pernah Dimandikan dan Lelaki yang Tak Pernah Dibesarkan

Muhamad Faiz Al Afify

Muhamad Faiz Al Afify

Pengepul ilmu di UIN SGD Bandung Santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Bandung Barat

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Faiz Al Afify tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

freepik. com/rumah kumuh
zoom-in-whitePerbesar
freepik. com/rumah kumuh

Beberapa tahun yang telah lalu, ketika langkah kaki saya masih saban hari menapaki lorong-lorong kampung sebagai pekerja sosial, saya pernah mendapat tugas dari pusat—sebuah kroscek data penerima bantuan sosial yang katanya telah disaring, katanya telah diverifikasi, katanya telah dipilah. Maka saya, seorang utusan dari sistem, datang sekadar membawa form, pena, dan sepasang mata.

Saya tidak sendirian. Warga setempat, seorang ibu yang biasa menjadi pengurus kegiatan warga, mengantar saya ke sebuah rumah. Rumah itu besar terlihat bahwa rumah itu pernah melambangkan kekayaan di zamannya, tapi waktu itu lebih menyerupai bangkai kayu yang belum dikubur. Dindingnya lesu, warnanya luntur, dan seluruh atmosfirnya menyampaikan keengganan untuk hidup. Di sanalah saya bertemu dengan seorang lelaki—tiga puluh lebih, mendekati empat puluh, tetapi tubuh dan matanya membawa beban usia yang seharusnya belum menjadi miliknya.

Pakaiannya kucel, bukan karena pekerjaan berat, tetapi karena malas yang telah menjadi kebiasaan, bahkan sekedar mengobrol dengan saya pun terlihag enggan dan minder. Di sekelilingnya, anak-anak kecil, dengan wajah berminyak, rambut berdaki, dan baju yang saya yakin tak pernah sekali pun mengenal sabun cuci. Mereka mengendus udara kotor yang sama yang memenuhi rongga rumah itu—udara yang membuat saya memilih untuk duduk di luar, bukan karena saya bersih, bukan pula karena saya takut kotor. Tapi karena hidung saya lebih dulu memberontak sebelum akal saya sempat memberi perintah.

Kemudian saya tahu lebih banyak. Si lelaki itu, kata si ibu yang mengantar, bukan hanya malas. Ia anti kerja keras. Tiap diajak kerja—kerja apapun yang menuntut tubuhnya mengalirkan keringat—dia lebih memilih menyerah. Lebih baik hidup dari gaji istrinya yang jadi pembantu rumah tangga di Jakarta dan pensiunan kedua orang tuanya yang dulu PNS (bisa di bayangkan betapa mewah surga materi yg ia dapatkan dulu, sebagai anak laki-laki satu satunya dari kedua orang tua PNS). Ia hanya nongkrong, menunggu waktu berlalu, membesarkan anak-anak yang dibiarkan tumbuh seperti rumput liar. Dibiarkan begitu saja—tanpa sabun, tanpa disiplin, tanpa kasih yang disalurkan lewat tangan ayah.

Lalu saya terdiam. Bukan karena heran, bukan pula karena marah. Tapi karena sebuah potret usang berkelebat dalam kepala saya. Ini bukan hanya soal satu lelaki pemalas. Ini adalah soal satu generasi yang dibesarkan dalam fatamorgana cinta orang tua—cinta yang memanjakan, bukan mendidik; cinta yang melayani, bukan membimbing. Cinta yang membuat anak-anak tumbuh menjadi raja kecil yang tak pernah belajar bagaimana menjadi rakyat, atau sekedar menjadi manusia.

Mungkin dulu lelaki itu tidak pernah diajarkan tentang tanggung jawab. Mungkin segala keinginannya dituruti, segala tangisnya dihibur, dan segala kesalahannya dimaklumi. Maka jadilah ia dewasa tanpa pernah tumbuh. Jadilah ia ayah tanpa pernah benar-benar menjadi anak lelaki yang dibesarkan untuk bertanggung jawab.

Untuk perempuan: berhati-hatilah memilih suami. Karena banyak lelaki yang tubuhnya besar, tapi jiwanya masih disusui.

Untuk orang tua: berhati-hatilah membesarkan anak. Karena memanjakan bukan mencintai. Karena jika tak diajarkan untuk bersusah, kelak mereka akan meminjam hidup dari orang lain, bahkan dari anak-anaknya sendiri.

Anak-anak itu—yang saya lihat hari itu—tidak salah. Mereka hanya lahir dari lelaki yang tak pernah jadi laki-laki. Dan negeri ini, pelan-pelan, terlalu penuh oleh orang-orang yang tak pernah dididik untuk menjadi manusia utuh—tapi dipelihara seperti binatang peliharaan, diberi makan, diberi hiburan, tapi tak pernah diberi tanggung jawab.

Dan saya, seorang pekerja sosial dengan selembar formulir di tangan, tahu persis: sistem boleh memberi bantuan. Tapi luka pola asuh tak bisa disembuhkan dengan bansos.