Konten dari Pengguna

Purna Santri: Transisi Identitas atau Pendidikan yang Belum Menyentuh Hati?

Muhamad Faiz Al Afify

Muhamad Faiz Al Afify

Pengepul ilmu di UIN SGD Bandung Santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Bandung Barat

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Faiz Al Afify tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

canva ai generator
zoom-in-whitePerbesar
canva ai generator

Oleh: Muhamad Faiz Al Afify

Santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Bandung Barat

Pengepul ilmu di UIN SGD Bandung

Hampir setiap tahun, di bulan April hingga Juni, atau bulan Sya'ban sampai Syawwal di beberapa Pesantren. Ribuan santri di penjuru nusantara merayakan Haflatu takharruj atau Haflatu ikhtitam. Tangis haru, peluk perpisahan, potret kebersamaan, dan khutbatul wada' membuncah jadi satu suasananya begitu magis: telah selesai satu fase perjuangan menuntut ilmu. Lalu bermunculanlah caption di Instagram "Alhamdulillah ya Rabb, Aku lulus" dengan hastag #SantriNihai #SyukronUstadz.

Tapi sesudah itu?

Banyak yang perlahan kehilangan arah.

Dulu rajin tahajud, sekarang bangun siang.

Dulu rajin puasa sunnah, sebagian bahkan tak lagi puasa wajib.

Dulu Sholat adalah kewajiban, sebagian, solat pun terlupakan.

Dulu ngaji setiap hari, sekarang buka mushaf hanya saat butuh caption Instagram.

Dulu merasa "hamba", kini merasa "sudah bisa", sudah ahli dan sudah biasa.

Ini bukan sekadar fenomena kendor iman. Ini bisa jadi gejala transisi identitas yang rumit—atau lebih dalam lagi, sebuah sinyal mungkin banyak pendidikan yang belum sungguh-sungguh menyentuh hati.

Transisi Identitas: Dari Santri ke “Nobody”

Dalam psikologi perkembangan, fase usia remaja akhir dan awal dewasa merupakan masa identity exploration (Marcia, 1966). atau dalam kitab tarbiyyah wa ta'lim disebut tahawul min daur al murahaqah ilaa rajuliyyaj. Santri yang sebelumnya hidup dalam struktur pesantren yang ketat dan jelas, tiba-tiba berada dalam ruang bebas yang membingungkan.

Di pondok, identitasnya jelas: dia santri, punya jadwal, punya guru, punya komunitas spiritual.

Tapi ketika lulus, struktur itu lenyap, jadwal rutin harian tidak lagi ditentukan orang lain. Yang tersisa hanyalah "aku" dan kebebasan—yang pasti terasa seperti ruang kosong.

Dan saat seseorang tidak tahu siapa dirinya di luar struktur, banyak orang kehilangan arah. Maka tak heran jika sebagian purna santri justru menjauh dari kebiasaan spiritualnya. Ia sedang bingung: siapa aku tanpa pondok?tanpa ustadz? dan tanpa arahan kiyai?

Pendidikan: Telah Menyentuh Akal, Tapi Belum Menyentuh Hati

Ada adagium: pengajaran tanpa pendidikan hati akan melahirkan kehampaan. Mungkin kita terlalu sibuk mengejar hafalan, nilai, lomba khutbah, dan khataman. Dan prestise-prestise lainnya yang instagramable dan brosurable. Tapi lupa bahwa ruh pendidikan pesantren bukan sekadar transfer ilmu, tapi transformasi diri. Pendidikan bukan jualan yang perlu citra produk untuk menarik konsumen.

Paulo Freire menyebut pendidikan sejati harus membebaskan dan membangkitkan kesadaran kritis. Tapi jika yang dibangkitkan hanya hafalan dan kompetisi, bukan kesadaran akan makna hidup sebagai hamba, maka kita hanya menghasilkan produk santri, bukan jiwa santri.

Maka tidak heran jika setelah lulus, banyak yang merasa sudah selesai, padahal ruh santri itu justru baru diuji setelah keluar dari pagar pondok, lepas dari ikat aturan.

Mahfudzat yang Terlupa

Kita sering dengar di pondok:

"Man zaada ilmuhu wa lam yazdad hudaahu fa huwa lam yata'allam."

(Siapa yang ilmunya bertambah tapi tidak menambah petunjuknya, maka ia belum benar-benar belajar.)

Dan juga:

"Al-ilmu bilaa amalim, kasy-syajari bilaa tsamarin."

(Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.)

atau hadis Nabi

"man yazdad ilman wa lam yazdad hudan, lam yazdad minallahi illaa bu'dan"

"Siapa orang bertambah ilmu, tapi tidak bertambah hidayah, maka tidak bertambah hubungannya dengan Allah kecuali bertambah jauh"

Tapi seberapa banyak yang benar-benar meresapi kalimat-kalimat itu?

Mungkin karena terlalu sering dihafal, ia kehilangan makna. karena sering membaca, kita lupa memaknai. Seperti papan nama toko yang dibaca orang setiap hari, tapi tak pernah dimasuki.

Menanam Bukan Sekadar Menyiram

Kita perlu mengevaluasi sistem pendidikan kita, termasuk pesantren.

Apakah kita hanya menyiram daun—atau benar-benar menanam akar?

Mungkin saja ilmu yang tumbuh di kepala akan gugur saat angin bertiup. Tapi ilmu yang tumbuh di hati, akan jadi akar yang bersemai dalam jiwa.

Dan kepada para purna santri jangan pernah merasa selesai.

Santri itu bukan status, tapi cara hidup, cara berpikir, kesadaran dan karakter.

Menjadi santri adalah proses terus-menerus belajar, berbuat baik, memperbaiki diri, dan menjaga adab kepada makhluk dan kepada Khaliq meski tak ada ustadz yang melihat, karena sadar ada Allah yang Maha Melihat.

Bukan hanya karena takut melanggar peraturan pondok, tapi karena sudah terlatih mencintai kebaikan meski dalam sunyi, sepi dan sendiri.

Seperti kata pepatah Sunda:

“Nu hade mah moal leungit ku jaman.”

(Yang baik itu tidak akan hilang ditelan zaman.)

Maka pertanyaannya:

Kamu lulus menjadi santri, atau lulus berhenti jadi santri?