Konten dari Pengguna

Kuota Jumatan: Ketika Aku Sadar Suka Ambil Enaknya Aja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Dwi Pratikno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tepat pukul 11.30 WIB menunjuk jarum jam di tanganku. Terselip dipikiranku, “Wah, sudah waktunya bersiap jum’atan nih”. Bergegaslah aku meninggalkan pekerjaan dan berwudhu di kantor. Hari ini cukup cerah, seperti inilah kondisi Pangkal Pinang biasanya. Setelah berwudhu aku lanjutkan ke Pos Satpam tempat biasa karyawan lain berkumpul sebelum ke Masjid.

Sesampainya di pos satuan pengamanan, kulihat Kang Edi sudah menunggu sendirian sambil menghisap tembakau yang dibelinya. Aku bergabung dengan Kang Edi sembari menunggu Mas Rifki yang masih berwudhu. Setelah selesai, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke Masjid dekat kantor, baru berjalan sampai gerbang, ternyata ada temanku, Fajri, dengan gagahnya membawa motor dan berhenti di warteg. Kami ajak si Fajri ini untuk ikut sholat jum’at bareng kami.

“Hey Jri, ayo jum’atan” sahut Mas Rifki.

“Duluan Mas, gue masih ada kuota 2 kali lagi gak jum’atan” jawab Fajri.

Lantas, kami tertawa sepanjang perjalanan menuju masjid membahas kuota jum’atan ini. Pasalnya akupun dulu pernah berpikiran seperti itu, hehehe. Namun, itu sebelum aku mengenal logika atau sedikit belajar filsafat. Sepanjang perjalanan menuju masjid aku justru menjadi bertanya-tanya sebenarnya darimana sih pemikiran kuota ini bisa muncul? Kenapa kalau sholat jum’at itu gak boleh “bolong” lebih dari 3 kali, seolah-olah kalau 2 kali gak sholat jum’at itu gak masalah. Padahal sholat jum’at ini kan wajib. Namanya sholat wajib bukannya harus dilakukan ya? Kalau gak dilakukan berarti dosa dong ya kan? Terus kenapa jadi malah ada kuota-kuotaan begini?

Selepas aku sholat jum’at dan istirahat makan siang, aku coba buka-buka deh, saking penasarannya, apa sih yang menjadi dasar kuota-kuota-an ini bisa muncul. Aku cukup kaget karena bunyi haditsnya justru seperti ini:

“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih). dikutip dari laman Rumaysho.com

Hadits inilah yang kemudian menjadi rujukan kuota jum’atan tadi. Seolah masih aman dan gak akan ditutup Allah SWT pintu hati kita kalau belum 3 kali “bolong” jum’atannya. Aku makin tergelitik dan gak jarang ketawa sendiri, karena ini menunjukan kalau cara berpikirku dulu ternyata suka ambil yang enaknya aja hehehe.

Masih dari laman yang sama, kalau dibaca lebih seksama ternyata itu hadits untuk orang yang meninggalkan sholat jum’at. Terdapat hadits lain seperti ini:

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865)

Setelah baca hadits kedua di atas rasanya gimana? Masih kepikiran “bolong” jum’atan itu boleh? Apa enggak? Hehehe. Tenang aja boleh kok, asal kita gak sengaja lalai ya, alias kita punya udzur syar’i yang diperbolehkan seperti sakit misalnya yang tidak memungkinkan kita sholat jum’at.

Foto: Ilustrasi AI

Aku terus berpikir, ternyata aku ini suka ambil seenaknya aja hadits yang dianggap bisa mendukung pembenaran nalarku tanpa melihat hadits lainya. Jadi inget dulu Ibuku sering ngancam begini: “satuuuuu, duaaaaa, jangan sampai Ibu ngomong sampe tiga ya…” Kalau Ibuku sampai ngomong tiga, wah bisa bahaya buatku yang suka “ngeyel” ini. Disinilah letak kesadaranku muncul, ternyata kesalahan berpikirku cukup lucu sekaligus menyeramkan juga ya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau boleh “bolong” jum’atan 2 kali sedangkan jum’atan itu fardhu. Bukannya hadits itu ancaman kaya Ibuku tadi ya? Kalau fardhu berarti gak boleh kita tinggalin sekalipun.

Saat ini, aku justru lebih waspada lagi, jangan-jangan ada kesalahan berpikir seperti itu namun dalam bentuk lain. Teman-teman, melalui tulisan ini aku berharap kita bisa saling mengingatkan. Kesalahan berpikir seperti ini tidak bisa dianggap remeh. Aku memang bukan ahli ibadah, atau alim ulama yang berilmu tinggi. Namun, bukankah kita diberi akal supaya beribadah dengan benar? Bisa jadi jalan yang kita tempuh berbeda, karena perbedaan lingkungan, dan cara kita belajar. Namun, nampaknya kita perlu lebih komprehensif lagi dalam memandang Islam itu sendiri. Sehingga kita tidak dalam posisi membenarkan atau menyalahkan, tapi dalam posisi saling introspeksi dan mengingatkan.