Konten dari Pengguna

Bersatu Mengakhiri Bullying demi Indonesia yang Cemerlang

Helen Alexandra

Helen Alexandra

Mahasiswa Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

·waktu baca 14 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helen Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak bersedih, korban bullying, stress. Foto: Unsplash/Kat J.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak bersedih, korban bullying, stress. Foto: Unsplash/Kat J.

Bullying dapat terjadi di berbagai lingkup kehidupan kita. Seperti misalnya di lingkungan tempat kerja, sekolah, keluarga, lingkungan masyarakat, dan lain sebagainya.

Bullying secara umum dapat diartikan sebagai perilaku agresif (penindasan atau kekerasan) yang dilakukan secara sengaja oleh individu atau kelompok yang kuat serta memiliki kuasa terhadap orang atau sekelompok orang yang dianggap lebih lemah dan biasanya pola perilaku ini dilakukan secara berulang kali dengan tujuan untuk menyakiti korban secara fisik maupun psikis (mental).

Bullying dapat diklasifikasikan dalam tiga karakteristik, yaitu perilaku negatif yang bertujuan untuk menyakiti atau membahayakan, perilaku yang dilakukan secara berulang, dan adanya ketidakseimbangan kekuatan serta kekuasaan antara korban dan pelaku bullying.

Karakteristik-karakteristik yang telah disebutkan inilah yang biasanya ada pada pelaku bullying. Adapun berbagai macam bentuk dari bullying di antaranya bullying fisik, verbal, bullying rasional dengan cara memusuhi atau mengucilkan, dan cyberbullying di dunia maya.

Jika menggali lebih dalam, salah satu lingkup kehidupan di mana bullying sering terjadi yaitu dalam lingkup pendidikan. Dari sekian banyak kasus yang pernah kita jumpai, tidak lain dan tidak bukan adalah pada lingkup pendidikan.

Sebagaimana dikutip dari republika. co.id, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mengaku bahwa mereka prihatin terhadap kasus-kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Berdasarkan data terakhir yang dimiliki oleh Kemendikbud Ristek, ada sekitar 24 persen satuan pendidikan yang cenderung rawan mengalami kekerasan di lingkungan pendidikan.

Masih mengacu dari republika.co.id, Anindito Aditomo selaku Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) pada Jumat (10/3/2023) mengatakan bahwa jumlah 24 persen ini belum banyak berubah. Memang secara angka/persentase, mungkin kecil. Tapi, 24 persen dari 300 ribu satuan pendidikan itu banyak sekali. Jadi hal ini luar biasa krusial.

Perlu diingat bahwa bullying berbeda dengan pertengkaran biasa, karena bullying tidak hanya sekadar menyerang fisik seseorang tetapi juga menyerang aspek psikis dalam diri korban.

Bullying sendiri tentunya tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa adanya faktor penyebab. Faktor utama yang memicu bullying di antaranya adalah pengaruh dari lingkungan sekitar.

Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

Dalam banyak kasus seseorang dapat menjadi pelaku bullying dikarenakan faktor peniruan, ikut-ikutan teman, adanya rasa tidak ingin dianggap lemah oleh teman dan kelompok pergaulannya, atau bahkan adanya rasa takut bahwa dirinya akan menjadi korban bullying. Hal ini memiliki keterkaitan yang dekat dengan harga diri, eksistensi diri serta pengakuan diri individu dalam lingkungan pergaulannya.

Apabila menelaah dari kasus yang telah terjadi, salah satu kasus miris yang menyayat hati datang dari Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat pada tahun 2022 silam. Seorang anak berinisial FH (11) yang menduduki bangku kelas 5 SD seringkali mengalami tindakan bullying secara fisik oleh sekelompok anak di sekolahnya.

Dikutip dari cnnindonesia.com, kasus bullying yang menimpa FH terjadi pada 14 Juni 2022. Kasus bermula ketika anak-anak selaku pelaku tersebut sedang bermain bersama FH.

Dikatakan juga bahwa rekaman yang telah disebarkan oleh para pelaku ke media online, mengakibatkan FH selaku korban mengalami depresi hingga jatuh sakit secara mental, yang pada akhirnya mengakibatkan korban meninggal dunia saat sedang dirawat di rumah sakit pada Minggu (18/7/2022).

Sebelum kematiannya, korban sempat mengaku ke T (39) selaku ibu kandungnya bahwa ia dipaksa untuk menyetubuhi kucing dengan dilihat langsung oleh temannya sementara dijadikan bahan ejekan dan direkam melalui ponsel oleh para pelaku.

Sebagaimana dikutip dari kompas.com, Hariqo Wibawa Satria selaku praktisi media sosial dari Komunikonten mengatakan, kasus ini merupakan tindakan cyberbullying yang berawal dari ketidakpedulian untuk menindaklanjuti kasus bullying yang sebelumnya telah menimpa korban.

Hariqo juga mengungkapkan cyberbullying berdampak pada psikis korban. Apalagi sebelumnya korban sering mengalami bullying oleh sekelompok anak di sekolahnya.

Diakui atau tidak, kasus ini menjadi bukti bahwa masih lemahnya pemahaman literasi digital di Indonesia. Upaya melindungi anak-anak dari kekerasan dalam dunia maya di tengah era digital harus dapat ditingkatkan.

Jasra Putra selaku bagian dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengatakan hal tersebut menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya orang tua. Bahwa memberikan ponsel kepada anak-anak tanpa adanya pemahaman terdahulu adalah berbahaya.

Selain itu, kasus ini semestinya mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya dinas pendidikan dan kominfo setempat. Belajar dari kasus ini, maka pemerintah perlu mengambil tindakan tegas dan melakukan regulasi yang menciptakan lingkungan digital ramah anak.

Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

Penggunaan ponsel secara tidak bijak ini merupakan salah satu faktor penyebab FH mengalami bullying. Adapun kemungkinan faktor berupa terpaparnya konten pornografi pada pelaku, sehingga mereka meniru dan mengimplementasikan hal tersebut dalam kehidupan mereka melalui bullying yang menimpa FH.

Terjadinya kasus bullying yang menyayat hati ini menjadi suatu kenyataan bahwa peranan orang tua sangat berperan penting dalam mendidik anak untuk memahami perilaku mana yang baik dan benar untuk dilakukan maupun ditiru sehingga anak tidak melakukan perilaku menyimpang seperti apa yang telah dilakukan teman-teman FH selaku pelaku kepada diri FH selaku korban.

Social Psychology Theory

Jika menelaah dari kacamata perspektif behavioristik, aliran behavioristik ini populer sekitar pada tahun 1920 hingga 1960 an silam. Fokus utama dalam perspektif behavioristik ini adalah untuk mengkaji perilaku individu dalam pola stimulus dan respons (S-R).

Hal yang menjadi fokus dasar yang dikembangkan dalam perspektif behavioristik sendiri adalah tentang perilaku yang dihasilkan dari pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar.

Adapun dua tokoh utama yang populer dalam perkembangan perspektif behavioristik yang erat kaitannya dengan pola perilaku dan berperan penting dalam pembelajaran ilmu psikologi, yaitu Albert Bandura dan Miller & Dollard.

Apabila melihat dari perspektif behavioristik milik Miller & Dollard, dikatakan bahwa bagaimana individu berperilaku biasanya tidak luput dari apa yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya. Melalui proses pengamatan atas tingkah laku individu lain maka seseorang akan meniru tingkah laku individu lain yang telah dilihat dan menjadikan individu tersebut sebagai role model atau panutan untuk bagaimana dirinya berperilaku.

Adapun buku Miller & Dollard yang diterbitkan sekitar pada tahun 1941 silam yang berjudul Social Learning and Imitation yang menjelaskan tentang beberapa hal terkait dengan imitative behavior seseorang.

Jika berbicara tentang meniru, kebanyakan atau bahkan semua dari kita pasti pernah melakukan peniruan untuk menyamai perilaku diri dengan individu lain di sekitar kita.

Eksperimen yang telah dilakukan oleh Miller & Dollard sendiri menghasilkan sebuah pernyataan, bahwa peniruan (imitasi) adalah hasil dari proses pembelajaran yang ditiru dari orang lain. Adapun 3 dasar mengenai imitative behavior seseorang menurut Miller & Dollard, yaitu sebagai berikut.

  1. Same Behavior, terjadi pada saat dua atau lebih individu merespon situasi yang sama dengan cara yang sama. Sebagai hasilnya, sekalipun tindakan mereka sepenuhnya terpisah satu sama lain, tapi bisa tampak seakan-akan yang satu meniru yang lainnya.

  2. Copying Behavior, terjadi pada saat individu berusaha untuk menyesuaikan perilaku semirip mungkin berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh modelnya.

  3. Matched Dependent Behavior, terjadi pada saat pihak yang kurang menyesuaikan tingkah lakunya (match) dan akan tergantung (dependent) pada pihak lain yang lebih mampu serta lebih dihormati.

Ilustrasi bullying di Korea Selatan. Foto: CGN089/Shutterstock

Apabila ditelaah dari perspektif behavioristik mengenai social learning theory milik Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963), mereka mengatakan bahwa teori ini merupakan perbaikan atas gagasan milik Miller & Dollard mengenai belajar melalui peniruan.

Bandura dan Walters menyatakan bahwa individu belajar dan berperilaku melalui peniruan dari apa yang telah dilihat dalam lingkungan sekitarnya, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun.

Dalam teori social learning, Albert Bandura juga menunjukkan bahwa adanya hubungan yang bersifat timbal balik yang terjadi secara berkelanjutan antara behavior (B), person (P), dan environment (E).

Tiga variabel tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga yang biasa disebut triadic reciprocal causation. Di mana variabel behavior sebagai perilaku yang dapat diperkuat pada setiap saat maupun situasi tertentu.

Kemudian variabel environment terdiri dari lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang ada di sekitar individu yang berpotensi untuk memperkuat rangsangan berperilaku seseorang. Selanjutnya variabel person yang mencakup semua karakteristik pribadi yang sudah ada sedari dini hingga sekarang. Karakteristik person memiliki peranan penting dalam menyebabkan bagaimana seseorang berperilaku.

Dalam konsepnya, Bandura juga menekankan bahwa adanya beberapa faktor efek modelling yang menjadi unsur utama karena lebih menitikberatkan pada munculnya asosiasi-asosiasi yang telah disesuaikan dengan model yang ditiru.

  • Efek modeling (modelling), peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi-asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.

  • Efek menghambat (inhibition), dalam efek ini adapun efek menghapus hambatan (disinhibition) dimana tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku model dihapus hambatan-hambatannya sehingga timbul tingkah laku baru yang dapat menjadi nyata.

  • Efek kemudahan (facilitation), dimana tingkah laku yang sudah lama dipelajari oleh peniru dapat muncul kembali secara mudah dengan mengamati tingkah laku model.

Dalam teorinya, Albert Bandura juga menetapkan bahwa ada beberapa faktor mengenai bagaimana proses modelling terjadi.

  1. Attention Processes, pada tahap ini individu akan memusatkan perhatiannya dalam mempelajari tingkah laku modelnya.

  2. Retention Processes, pada tahap ini individu menyimpan informasi yang telah diperoleh.

  3. Production Processes, pada tahap ini individu mempertahankan apa yang sudah diamati yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.

  4. Motivational Process, pada tahap ini diperlukan motivasi bagi individu untuk terus meniru perilaku yang telah dimodelkan.

Ilustrasi bullying di Korea Selatan. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock

Hal yang telah menimpa FH ini merupakan akibat dari perilaku menyimpang. Di mana pelaku bullying melakukan tindakan penindasan yang merupakan bentuk peniruan dari apa yang telah ia lihat dan pelajari secara digital. Dalam melakukan tindakan bullying, anak pasti tidak begitu saja melakukannya tanpa adanya peniruan dari apa yang telah dilihat oleh dirinya sebelumnya.

Jika membahas secara mendalam, berdasarkan faktor kurangnya literasi digital dan terpaparnya konten pornografi. Anak dapat saja meniru apa yang telah dilihat secara digital yang dilakukan melalui empat proses modelling milik Bandura.

Anak akan memusatkan perhatiannya pada perilaku, lalu menyimpan informasi tersebut dalam pemikirannya, mempertahankan informasi atau apa yang telah diamati dalam bentuk pengimplementasian tingkah laku dengan adanya motivasi.

Kecenderungan anak untuk berperilaku menyimpang disebabkan oleh adanya aspek hubungan timbal balik dalam bentuk triadic reciprocal causation, di mana behavior, environment, dan person saling berhubungan satu sama lain pada setiap diri individu untuk menentukan bagaimana individu berperilaku dari apa yang telah dipelajari dan diamati melalui lingkungannya.

Terjadinya bullying ini bisa juga dikarenakan oleh efek penguatan yang ada oleh sekitarnya. Anak-anak yang melihat bullying tanpa membantu atau menindaklanjuti ini merupakan salah satu bentuk dukungan di mana para pelaku bullying pasti merasa senang apabila korbannya tersiksa tanpa adanya bantuan secara sosial kepada korban.

Pelaku pun merasa tidak adanya punishment yang diberi ini merupakan bentuk reinforcement atau motivasi yang mendukungnya untuk terus berperilaku. Hal ini juga dapat memiliki kaitannya dengan peranan orang tua di rumah dan peranan guru di sekolah sebagai orang tua siswa untuk dapat memberi tindakan lebih lanjut pada pelaku.

Misalnya seperti pemberian pemahaman kecil tentang bagaimana jika pelaku menjadi korban, maka dengan itu pelaku mungkin akan lebih terbuka dengan memikirkan apa saja dampak yang terjadi apabila menjadi korban dalam bullying.

Tidak adanya tindakan lebih lanjut yang dapat dikatakan sebagai punishment ini—meskipun bukan dalam bentuk kata-kata—maka pelaku secara tidak langsung akan merasa didukung melalui perilaku yang ia dapat dari orang di sekitarnya. a melihat orang sekitar cenderung tidak merespons dan malas tahu sehingga merasa dikuatkan secara tidak langsung untuk tetap berperilaku.

Protect Your Loved Ones by Educating Them

Perilaku bermasalah seperti bullying dalam konsep behavioristik adalah perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan.

Perilaku bermasalah yang menyimpang ini mengacu pada perbedaannya dengan perilaku normal yang sesuai dengan norma yang ada, perilaku menyimpang ini dapat dilihat dengan munculnya konflik yang disebabkan oleh behavior (B) antara person (P) dengan environment (E).

Banyak orang tua secara sadar maupun tidak sadar lupa untuk memainkan peranan mereka sebagai orang tua untuk mendidik anak dengan baik dan benar. Tujuannya agar anak-anak tidak menyimpang dari norma-norma yang ada.

Ilustrasi bullying. Foto: Shutter Stock

Sebagai orang tua, baik di sekolah maupun rumah, seharusnya dapat mendidik anak dengan pemahaman mengenai apa yang baik dan benar sedari dini, menjelaskan tentang sebab-akibat perilaku buruk, mengawasi, serta mengarahkan anak agar terhindar dari perilaku menyimpang.

Tidak hanya itu, orang sekitar juga memainkan peranan penting dalam permasalahan ini. Mereka harus terbuka terhadap isu-isu seperti ini dengan saling membantu satu sama lain.

Ya, entah itu terbuka dengan melakukan aksi digital ataupun pemahaman langsung seperti seminar. Dengan begitu dapat memberi pemahaman secara luas bagi masyarakat untuk memberikan pemahaman bagi anak-anak mereka agar tidak melakukan perilaku menyimpang.

Solusi masalah pada kasus ini dapat diterapkan dengan melakukan pemahaman secara luas langkah demi langkah. Selain itu juga, dapat diterapkan dalam bentuk aksi nyata yang unik sehingga dapat menjadi sorotan masyarakat umum. Caranya dengan mengimplementasikan rasa peduli dan saling bahu-membahu terhadap sesama dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Perilaku yang ditampilkan, dapat diharapkan untuk menarik perhatian serta fokus masyarakat. Terlebih lagi bagi masyarakat yang masih dikategorikan anak-anak dan remaja yang memiliki pemahaman kurang mengenai isu-isu seperti ini. Diharapkan dari aksi ini anak dapat memfokuskan perhatiannya ke perilaku untuk dapat menjadi suatu model baginya untuk berperilaku.

Dari solusi masalah yang ada, ketika individu merasa perilaku yang ada menarik maka segala wujud informasi perilaku dari model disimpan dalam ingatan, lalu mempertahankan perilaku model dalam bentuk tingkah laku, dan kemudian tingkah diimplementasikan dalam bentuk aksi nyata dalam kehidupan melalui pemberian motivasi yang mendukung anak untuk dapat berperilaku.

Apabila anak dapat melewati empat proses modelling milik Bandura, maka anak dapat melewati setiap tahapan prosesnya dengan baik dalam bentuk pengimplementasian perilaku langsung dalam kehidupannya.

Adanya kelalaian orang tua dalam mendidik anak dengan tidak memberi pemahaman serta adanya penguatan/motivasi (reinforcement) ini merupakan dasar dari permasalahan mengenai kasus bullying ini.

Sikap pembiaran tanpa menindaklanjuti dari lingkungan sekitar ini menjadi faktor yang menguatkan anak untuk terus berperilaku. Sebab, anak menganggap tidak ada ganjaran (punishment) ini sebagai salah bentuk dukungan karena lingkungan sekitar cenderung melihat saja. Mungkin bagi pelaku, hal ini sebagai penguatan bahwa mereka yang melihat juga baik-baik saja terhadap apa yang dilakukan.

Summary

Ajarkan anak untuk tidak tinggal diam dan berani mempertahankan kebenaran Foto: Shutterstock

Pada akhirnya, orang tua dan lingkungan sekitar anak merupakan salah faktor penting dalam mendidik anak untuk tidak melakukan perilaku menyimpang. Karena pada dasarnya, anak-anak harus diberikan pemahaman serta contoh terlebih dahulu agar tidak menyimpang dan meniru perilaku yang tidak benar.

Tidak hanya itu. Lingkungan serta orang tua tidak saja berperan dalam mendidik serta memberi pemahaman kepada anak sebagai bentuk tanggung jawab masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara.

Pemahaman yang ada ini merupakan tentang bagaimana cara berperilaku yang baik dan benar, baik secara secara individu maupun kehidupan sosial. Namun, juga harus berperan dalam mengarahkan dan memberi contoh langsung kepada anak agar anak memiliki pemahaman yang lebih terhadap apa yang diajarkan.

Adanya pemberian pemahaman dan pengarahan pada anak, diharapkan juga bahwa anak dapat berperilaku sesuai dengan norma yang ada sehingga tidak menyimpang. Perilaku yang menyimpang tidak hanya saja merugikan bagi lingkungan sekitar, namun juga bagi anak. Karena dapat merusak proses mental anak (bagi pelaku maupun korban).

Orang tua serta lingkungan sekitar berperan sebagai faktor penting dalam perkembangan anak mengenai bagaimana cara anak berperilaku dalam lingkungan.

Hal ini pun menjadi suatu tanggung jawab besar, khususnya bagi orang tua untuk dapat mendidik, memberi pemahaman mengenai apa yang baik dan buruk, pemahaman sebab-akibat dari perilaku buruk, bahkan hingga mengawasi dan mengarahkan anak agar senantiasa berperilaku dengan nilai-nilai moral yang ada dalam kehidupannya.

Sosok orang tua memegang peranan yang sangat penting. Sebagai orang tua pasti akan merasa sedih dan kecewa apabila tidak dapat mengawasi dan mendidik anak kita dengan baik sesuai dengan nilai moral yang ada.

Maka dari itu, kita harus dapat mengawasi serta memberi pemahaman yang baik pada anak. Karena apabila anak kita dapat tumbuh dan berkembang dengan menerapkan perilaku dan nilai moral yang baik, maka kita sebagai orang tua pastinya akan turut bahagia karena dapat membesarkan anak kita secara baik.

Tidak hanya itu saja, kita sebagai pihak-pihak yang menyaksikan juga harus dapat menindaklanjuti masalah agar masalah ini tidak semakin menjamur dari tahun ke tahun.

Dengan adanya pemahaman serta aksi nyata yang kita berikan bagi lingkungan sekitar diharapkan dapat memberi dampak bagi lingkungan kita untuk tidak melakukan perilaku menyimpang. Dengan ini juga diharapkan untuk bullying dan segala perilaku menyimpang tidak semakin menjamur dari tahun ke tahun dan dapat berkurang seiring perkembangan zaman yang ada.

Dari apa yang telah menimpa FH, kita juga dapat belajar lebih untuk memikirkan terlebih dahulu konsekuensi dari segala tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sosial kita. Karena penyalahgunaan kekuasaan dengan melakukan tindakan bullying ini secara langsung maupun tidak telah merusak kehidupan seseorang, baik dari aspek fisik maupun psikis korban.

Sebagai individu yang memiliki akhlak dan budi, kita sudah sepatutnya dapat menimbang mana perilaku yang baik dan benar dalam kehidupan.

Di akhir kata, kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus berani dalam mengambil aksi untuk menindaklanjuti isu-isu terkait perilaku menyimpang.

Say NO to bullying! Generasi Peduli untuk Indonesia Cemerlang.”