Konten dari Pengguna

Ragam Tujuan Syair Arab dari Masa ke Masa

Kamila Putrilia

Kamila Putrilia

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kamila Putrilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Sumber foto: Dokumentasi visual berbasis AI, dibuat dengan ChatGPT berdasarkan konsep penulis, 2026.”
zoom-in-whitePerbesar
“Sumber foto: Dokumentasi visual berbasis AI, dibuat dengan ChatGPT berdasarkan konsep penulis, 2026.”

Syair memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Arab, sejak masa Jahiliyah, syair tidak hanya menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi semata, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, menceritakan berbagai peristiwa, serta menjaga kehormatan dan identitas suatu kabilah. Karena itu perkembangan tujuan syair tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang melahirkannya. Perubahan sosial, politik, budaya dan keagamaan dari satu masa ke masa lainnya turut mempengaruhi sudut pandang penyair dalam memandang kehidupan dan menentukan tujuan syair mereka.

Pada masa Jahiliyah, kehidupan masyarakat Arab sangat dekat dengan peperangan, perjalanan di padang pasir, hubungan antar kabilah, serta ikatan kekeluargaan. Keadaan tersebut menjadikan syair berkembang sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, seorang penyair memiliki kedudukan yang hampir menyerupai pemimpin bagi kabilahnya, bukan melalui senjata melainkan melalui kekuatan kata-kata. Syair tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan keunggulan kaum, mengabadikan keberanian, atau membela kehormatan kabilah semata, melainkan juga untuk membangkitkan semangat para pejuang sekaligus melemahkan mental musuh, sekaligus mengabadikan berbagai peristiwa dan sifat seseorang.

Dari kondisi tersebut, muncul berbagai tujuan syair yang dikenal pada masa Jahiliyah, di antaranya adalah Hamasah, Fakhr, Madh’, Hija’, Ghazal, Ritha’, dan Washf. Masing-masing tujuan memiliki fungsi yang berkaitan dengan pengalaman masyarakat pada masa itu. Hamasah misalnya, digunakan untuk menggambarkan keberanian dan kepahlawanan seseorang serta kepedulian yang berkembang pesat di masa perang antar kabilah, dengan adanya syair ini menambahkan semangat para pejuang serta melemahkan kabilah musuh, sehingga syair ini sangat berpengaruh dalam membela para pejuang serta mempertahankan kabilah, hingga lahirnya sejumlah karya sastra yang secara khusus menghimpun puisi-puisi kepahlawanan, seperti Kitab al-Hamasah karya Abu Tammam.

Fakhr digunakan untuk mengungkapkan kebanggaan terhadap diri sendiri maupun kabilah, terutama berkaitan dengan keberanian, kemurahan hati, kekuatan dan kehormatan, serta keunggulan lainnya yang dapat menampilkan sifat-sifat baik dari seseorang. Sementara itu, Madh’ berisi pujian terhadap seseorang karena kedudukan maupun perbuatan baik yang dilakukannya. Pujian tersebut dapat berkaitan dengan keberanian, kemurahan hati, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Salah satu contoh syair tersebut dari Zuhair bin Abi Sulma kepada Harm bin Sinan dan al-Harith bin Auf. Keduanya dipuji bukan semata-mata karena kedudukan atau kekayaan, melainkan karena usaha mereka mendamaikan dua kabilah yang sedang berperang dan menghentikan pertumpahan darah. Pujian tersebut menunjukkan bahwa syair juga berfungsi untuk memberikan penghargaan terhadap nilai-nilai seperti kemurahan hati, keberanian, kebijaksanaan, perdamaian, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Berbeda dengan Madh’, Hija’ digunakan untuk menyampaikan kritik atau celaan terhadap seseorang maupun suatu kelompok. Tujuan ini sering berkaitan dengan perselisihan pribadi maupun konflik antar kabilah. Melalui Hija’ penyair dapat menyerang kehormatan lawan, menunjukkan kelemahan mereka, atau mengungkapkan kekecewaan sekaligus mendorong kaumnya agar lebih berani dan peduli. Menariknya, celaan juga dapat diarahkan kepada kabilah sendiri apabila penyair merasa kaumnya tidak membelanya atau menunjukkan sikap lemah terhadap musuh. Karena itu, Hija’ tidak hanya menyimbolkan bentuk permusuhan, tetapi dapat berfungsi sebagai kritik terhadap yang dianggap tidak sesuai dengan nilai keberanian dan kehormatan masyarakat.

Selain itu, terdapat Ghazal yang membicarakan cinta, ketertarikan serta kerinduan dan menjelaskan hubungan emosional seseorang terhadap orang yang dicintainya. Pada masa Jahiliyah, Ghazal menjadi salah satu bentuk ungkapan puitis yang berkaitan dengan perempuan dan pengalaman cinta. Ghazal kemudian dikenal dalam dua bentuk, yaitu Ghazal fisik atau Ghazal yang menggambarkan penampilan dan kecantikan orang yang dicintainya, dan Ghazal Udzri’ yang lebih banyak mengungkapkan kerinduan, kesetiaan, pergaulatan rasa serta penderitaan akibat perpisahan. Perbedaan kedua bentuk ini memberikan ruang kepada para penyair untuk menjelaskan kedalaman emosi dan kesetiaan seseorang terhadap orang yang mereka cintai.

Tujuan lainnya adalah Ritha’, yaitu syair yang mengungkapkan kesedihan atas kematian atau kehilangan seseorang. Banyaknya peperangan pada masa Jahiliyah menyebabkan masyarakat mengalami kehilangan anggota keluarga, pemimpin, dan orang-orang yang mereka cintai. Oleh sebab itu, syair ratapan berkembang berkembang sebagai bentuk ungkapan kesedihan sekaligus penghormatan terhadap orang yang telah meninggal. Al-Khansa merupakan salah satu penyair perempuan yang terkenal dalam tujuan ini. Ia banyak menulis ratapan unruk saudaranya Sakhr, dengan menggambarkan keberanian dan kemurahan hatinya. Melalui puisinya, kesedihan pribadi berubah menjadi kenangan yang mengabadikan sifat-sifat baik seseorang.

Adapun Washf’ merupakan syair menggambarkan suatu objek, suasana, atau peristiwa secara terperinci, sehingga keadaan tersebut seolah-olah berada jelas di depan mata kita, para penyair biasanya melukiskan padang pasir, perjalanan, unta, hewan liar, dan berbagai keadaan yang mereka temuan dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang syair ini memiliki bahasa yang sulit dimengerti sebagai kiasan makna sehingga butuh waktu untuk bisa mendalami maknanya, melalui Washf’ syair menjadi sarana untuk menggambarkan lingkungan alam sekaligus pengalaman dan keadaan batin penyair. Dengan demikian, berbagai tujuan syair Jahiliyah memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan nyata masyarakat.

“Sumber foto: Dokumentasi visual berbasis AI, dibuat dengan ChatGPT berdasarkan konsep penulis, 2026.”

Syair Jahiliyah juga memiliki karakteristik tertentu dalam bahasa, pemikiran, serta bentuk penyampaiannya. Salah satu yang paling menonjol adalah pendekatan dan pengalaman nyata. Para penyair sering mengungkapkan sesuatu atau mengamati sesuatu secara langsung, sehingga memiliki hubungan yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan pun cenderung tegas, kuat dan imajinasi sesuai dengan tema yang digambarkan, dengan pemilihan kata metafora, ataupun perumpamaan sehingga memiliki makna yang luas. Dalam segi struktur, syair jahiliyah memiliki pola yang relatif serupa, di mana mereka mengenang tempat tinggal, beralih pada kisah cinta, perjalanan, dan gambaran kendaraan, setelah itu memasuki tema utama mereka dalam bentuk pujian, kebanggaan dan menutupnya dengan ungkapan hikmah. Meskipun demikian, pola tersebut tidak berlaku secara mutlak karena setiap penyair memiliki kecenderungan dan pengalaman yang berbeda.

Banyak dari penyair yang memiliki kecenderungan khusus, beberapa langsung mengungkapkan pemikiran mereka terhadap kemiskinan, kekayaan, hubungan masyarakat serta penolakan terhadap aturan sosial yang dianggap tidak sesuai. Maka dari sini, terlihat jika syair tidak sepenuhnya beragam, tetapi memiliki banyak variasi bentuk dan sudut pandang berbeda yang mencerminkan pengalaman mereka masing-masing. Perubahan tujuan syair semakin terlihat ketikan masyarakat Arab memasuki masa Islam. Kemudian syair berinteraksi dengan nilai-nilai keagamaan dan moral islam, sehingga mempengaruhi cara penyair dalam memandang kehidupan, kehormatan serta hubungan terhadap manusia.

Pada masa Umayyah, perkembangan syair dipengaruhi oleh kehidupan politik dan persaingan antar kelompok, syair dapat menjadi sarana untuk membela kelompok, menyampaikan kebanggaan, menyerang lawan, memperkuat posisi suatu kelompok dalam konflik politik. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan syair selalu berkaitan dengan keadaan masyarakat, syair pun turut menjadi media untuk menyampaikan aspirasi dan sikap terhadap berbagai persoalan.

Selanjutnya, pada masa Abbasiyah, kehidupan kebudayaan semakin berkembang luas sehingga kecenderungan sastra menjadi bervariasi. Syair tidak hanya berhubungan dengan persoalan kabilah, peperangan, atau politik semata. Ia berkembang mengikuti lingkungan kebudayaan dan kehidupan intelektual yang semakin menjalar luas. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan masyarakat dapat membuka ruang baru bagi para penyair untuk mengungkapkan pengalaman dan pemikirannya.

Perkembangan terus berlanjut hingga era modern, syair Arab tidak hanya menjadi sarana dalam mengungkapkan perasaan dan pemikiran, tetapi juga menyesuaikan diri dengan persoalan sosial, politik, budaya dan berbagai perubahan lainnya. Dengan demikian, perkembangan puisi tidak hanya berkaitan dengan perubahan pemilihan kata atau bentuk saja, melainkan mencerminkan perubahan cara masyarakat dalam memahami dunia dan mengungkapkan pengalaman mereka melalui karya sastra.

Dengan demikian, kami menyadari bahwa perkembangan tujuan syair Arab tidak hanya dilihat dari perubahan bentuk atau pemilihan kata, tetapi dari perubahan fungsi dan persoalan yang dibawanya, syair menjadi cerminan kehidupan masyarakat pada setiap zamannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan syair terletak pada kemampuannya untuk terus mengikuti perubahan zaman sekaligus mempertahankan perannya dalam media untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, dan pengalaman manusia.

Oleh: Afriza Alif Gunawan, Muhammad Rizki Akbar, Muhammad Faris Al-Haq, Kamila Putrilia Hidayati, dan Ibnaty Alya Rifdah.