Konten dari Pengguna

Cinta Nurbaya Terhimpit Utang dan Kekuasaan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meisya Mawadah Nuralifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kolase bergaya vintage yang dibuat menyerupai editan Canva, memadukan buku Sitti Nurbaya, suasana Minangkabau, dan simbol cinta serta kekuasaan uang yang menggambarkan kisah kasih tak sampai.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kolase bergaya vintage yang dibuat menyerupai editan Canva, memadukan buku Sitti Nurbaya, suasana Minangkabau, dan simbol cinta serta kekuasaan uang yang menggambarkan kisah kasih tak sampai.

Cinta tidak selalu kalah karena dua orang berhenti saling menyayangi. Dalam novel Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, Marah Rusli memperlihatkan bagaimana utang, kekayaan, dan tekanan sosial dapat mengubah hidup seseorang, bahkan sampai merenggut kebebasannya untuk memilih pasangan.

Cerita berpusat pada Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, dua anak muda yang saling mencintai. Namun, hubungan mereka menghadapi jalan buntu ketika Baginda Sulaiman, ayah Nurbaya, terjerat masalah utang kepada Datuk Meringgih. Laki-laki kaya itu kemudian menjadi sosok yang menentukan nasib Nurbaya. Demi menghadapi kesulitan keluarganya, Nurbaya berada dalam keadaan yang membuatnya harus mengorbankan cintanya.

Ketika Uang Menentukan Nasib

Salah satu hal yang paling kuat dalam novel ini adalah cara Marah Rusli menggambarkan kekuasaan uang. Datuk Meringgih bukan sekadar tokoh kaya, melainkan gambaran seseorang yang dapat memanfaatkan keadaan orang lain demi kepentingannya sendiri. Kekayaan memberinya pengaruh, sementara keluarga yang terdesak utang semakin kehilangan pilihan.

Gambaran itu terasa jelas melalui kalimat, “Bukankah besar kekuasaan uang itu?” dan “Dunia ini berputar mengelilingi uang” (Marah Rusli, 1992, hlm. 15–16). Dua kutipan tersebut menunjukkan bahwa uang dalam cerita bukan hanya alat untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga dapat menjadi sumber kuasa atas kehidupan orang lain.

Nurbaya pun tidak bisa dipandang sekadar sebagai perempuan yang mengalami kisah cinta tragis. Ia berada dalam situasi ketika kepentingan keluarga dan tekanan keadaan membuat keinginannya sendiri sulit diperjuangkan. Di sinilah pembaca dapat melihat betapa beratnya posisi perempuan ketika keputusan tentang hidupnya lebih banyak ditentukan oleh orang lain.

Tragedi yang Masih Dekat dengan Kita

Menurut saya, bagian paling menyedihkan dari kisah Nurbaya bukan hanya cintanya yang tidak berjalan sesuai harapan, melainkan keadaan yang membuatnya tidak benar-benar bebas menentukan masa depan. Novel ini juga mengingatkan bahwa orang yang memiliki kekayaan dan kedudukan belum tentu menggunakannya dengan bijaksana.

Konflik dalam novel semakin terasa ketika Samsulbahri menghadapi kenyataan bahwa Nurbaya telah menikah dengan Datuk Meringgih. Dalam percakapan tentang seseorang yang dihukum atas pembunuhan, muncul pertanyaan, “Akan tetapi benarkah ia bersalah dalam pembunuhan itu?” (Marah Rusli, 1992, hlm. 126). Pertanyaan tersebut turut membuka persoalan tentang kebenaran dan keadilan yang tidak selalu mudah ditemukan.

Ada pula kalimat Samsulbahri, “Rupanya pengharapan yang putus itu, boleh memberi bahaya, yang amat sangat kepada manusia” (Marah Rusli, 1992, hlm. 126). Kalimat ini menggambarkan betapa beratnya kehilangan harapan ketika seseorang harus menerima kenyataan yang menyakitkan.

Sementara itu, tekanan ekonomi keluarga tergambar dalam ucapan Sutan Mahmud, “Kalau tak dapat kupinjam padanya, tentulah aku akan terpaksa menjual sawah pusaka” (Marah Rusli, 1992, hlm. 16). Kutipan tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan uang dan utang menjadi bagian penting dalam konflik cerita.

Melalui Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, Marah Rusli menghadirkan kisah yang lebih luas daripada percintaan dua anak muda. Novel ini berbicara tentang ketimpangan kuasa, tekanan keluarga, dan kebebasan memilih. Meski berasal dari masa yang berbeda, persoalan itu tetap mengundang pembaca untuk bertanya: apakah seseorang benar-benar bebas menentukan hidupnya ketika keadaan ekonomi dan kekuasaan orang lain ikut mengendalikan pilihannya?