LDKM: Belajar Memimpin, Belajar Mendengarkan, dan Belajar Menghargai

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari dian yulia sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa bukan cuma soal bagaimana kita mendapat nilai yang bagus di kelas. Selama kuliah, ada banyak hal lain yang juga perlu dipelajari, terutama bagaimana kita berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Kita dituntut untuk bisa berkomunikasi, menghargai pendapat, dan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Hal seperti itu yang saya rasakan ketika mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa atau LDKM.
Sebelum mengikuti LDKM, saya sempat berpikir kalau kegiatan ini mungkin hanya akan berisi materi kepemimpinan dan tugas kelompok. Setelah saya mengikutinya secara langsung, ternyata semua asumsi saya salah. LDKM bukan hanya mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin, tetapi juga membuat saya belajar mengenal diri sendiri dan memahami karakter orang lain.
Menurut saya, menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu berada di depan atau menjadi orang yang paling banyak bicara. Seorang pemimpin juga harus bisa mendengarkan. Apalagi ketika bekerja dalam kelompok, setiap orang pasti mempunyai pemikiran dan pendapat yang berbeda. Perbedaan itu sebenarnya bukan masalah, justru perbedaan tersebut bisa menjadi bahan untuk mencari jalan keluar yang lebih baik.
Saya juga belajar bahwa mendengarkan orang lain ternyata tidak selalu mudah. Kadang kita terlalu sibuk dengan pendapat sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga mempunyai alasan dan sudut pandang masing-masing. Dari situ saya mulai memahami bahwa menghargai pendapat orang lain merupakan bagian penting dalam membangun kerja sama.
Selain soal kepemimpinan, LDKM juga mengajarkan saya tentang arti kerja sama. Saat mengerjakan tugas kelompok, tentu tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Ada perbedaan pendapat, pembagian tugas yang kurang sesuai, bahkan rasa lelah yang kadang membuat kita ingin menyerah. Tapi justru dari situ kita belajar bagaimana menghadapi masalah tanpa harus saling menyalahkan.
Menurut saya, karakter seseorang justru lebih terlihat ketika sedang menghadapi masalah. Saat semuanya berjalan lancar, bekerja sama mungkin terasa mudah. Tetapi ketika ada kendala, kita bisa melihat bagaimana seseorang menyikapinya. Apakah memilih menyerah, menyalahkan orang lain, atau mencoba mencari solusi bersama.
Hal lain yang cukup saya rasakan selama LDKM adalah belajar untuk berani berbicara. Sebagai mahasiswa, kita pasti akan sering berhadapan dengan diskusi, presentasi, maupun kegiatan organisasi. Karena itu, kemampuan untuk menyampaikan pendapat menjadi sesuatu yang penting. Namun, terkadang rasa takut salah membuat kita memilih untuk diam.
Bagi saya, keberanian untuk berbicara memang harus dilatih. LDKM menjadi salah satu tempat untuk belajar melakukan hal tersebut. Kita diberi kesempatan untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda. Dari sana saya belajar bahwa tidak masalah jika pendapat yang kita sampaikan belum sempurna, yang terpenting adalah ketika kita berani berbicara dan mau menerima masukan.
LDKM juga membuat saya sadar bahwa kepemimpinan sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kita mampu menyelesaikan tugas sendiri, membantu teman yang sedang kesulitan, berani mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat, sebenarnya kita sudah belajar menjadi seorang pemimpin.
Karena itu, menurut saya LDKM jangan hanya dianggap sebagai kegiatan kampus yang wajib diikuti. Kalau dijalani dengan serius, kegiatan ini akan memberikan banyak makna yang sangat berarti. Ada banyak hal yang tidak selalu kita dapatkan dari pembelajaran di dalam kelas, tetapi bisa kita rasakan melalui pengalaman langsung bersama orang lain.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang kita dapatkan, tetapi lebih dari itu, masa kuliah juga menjadi proses membentuk diri. Kita belajar menjadi lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Bagi saya, LDKM bukan sekadar kegiatan untuk belajar menjadi seorang pemimpin. LDKM juga menjadi tempat untuk belajar memahami diri sendiri, mendengarkan orang lain, dan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Karena sebelum belajar memimpin orang lain, kita harus belajar memimpin diri sendiri.
