Feature: Melihat Peran di Balik Layar Pertunjukan Teater Seruni

Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Moh Thollib tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pamulang - Di sebuah ruangan temaram, seorang anak perempuan berseragam SD berteriak histeris, lalu lari meninggalkan ruangan. Ia ketakutan melihat televisi yang ditontonnya tiba-tiba memerah seolah mengeluarkan darah. Sesaat kemudian, lampu ruangan menyala dan disambut meriah dengan tepuk tangan serta sorak sorai penonton.
Itulah adegan penutup pementasan drama Rumah Tanpa Bendera yang digelar oleh Teater Seruni. Memang cukup menegangkan. Apalagi jika melihat langsung pada adegan tentara dengan Marsinah. Sehingga banyak penonton yang ikut terbawa suasana. "Aku sampe mau nangis barusan," ujar Amanda Wulandari Ariyani (20 tahun), seorang mahasiswi Universitas Pamulang ini pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Pementasan yang disutradarai oleh Vishi Adianto Fazah (26) ini merupakan tugas akhir matakuliah Telaah Drama II yang diampu oleh Welcy Fine S.S., M.Hum. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Pamulang (Unpam) kelas 05SIDE001 pada sabtu, 20 Juni 2026, di Gedung A Kampus Victor.
Di tirai belakang pembatas panggung, Moh Thollib (24) sedang berdiri. Raut wajah pria yang berperan sebagai tim artistik sekaligus Korlap ini tampak tersenyum puas. Di tangannya tergantung beberapa properti hasil buatan tangannya sendiri yang telah dibereskannya dari panggung.
Bersama beberapa rekannya yang bekerja di balik layar, tentu tidak mendapat perhatian para penonton. "Kami kan kerjanya di balik layar, udah biasa kalo ga diliat publik," jawab Thollib. Mereka yang bekerja di balik layar walaupun tidak terlihat, tetapi perannya tidak kalah penting daripada aktor sekalipun. "Gaada tim produksi mereka mau ngapain di atas panggung," ujar Alfan Khoiron Subangi (22) selaku penata musik.
Berperan sebagai tim produksi tantangan terbesarnya bukan pada hari pelaksanaan, melainkan pada sebelumnya, yaitu tahap menyiapkan segala kebutuhan produksi. "Sampe pusing kemaren pas nyari kursi panjangnya. Sampe bawa dari rumah di Cikarang," jawab Thollib, mahasiswa sastra semester lima ini. Ternyata tidak sampai di situ kendala yang dihadapi oleh tim artistik ini, masih ada lagi. "Mana ban mobilnya bocor sampe dua kali dan harus ganti ban pas bawa kursi," tuturnya kesal.
Walaupun berperan sebagai tim produksi yang memiliki banyak tanggung jawab dan pekerjaan, Thollib tetap merasa senang dan bangga. "Dari awal memang aku yang minta buat jadi tim artistik." Demikian dirinya penuh dengan semangat. "Ini dijadiin pengalaman buat pelajaran ke depannya," tambahnya dengan penuh harap.
