Konten dari Pengguna

Pasar Buku Kwitang Menghadapi Tantangan Zaman: Sebuah Feature

Moh Thollib

Moh Thollib

Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Thollib tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengunjung sedang melihat-lihat buku bekas di Pasar Buku Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (09/12/2025).
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung sedang melihat-lihat buku bekas di Pasar Buku Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (09/12/2025).

Jakarta – Dari bawah lampu merah jalanan Kramat Jaya, terlihat sebuah ruko seperti lorong memanjang berbentuk L. Sisi kanan dan kirinya penuh dengan buku. Tersusun rapi menjulang tinggi hingga menyentuh plafon. Semerbak aroma kertas tercium hingga ke tengah jalan seolah menyapa para pengunjungnya.

Itulah Pasar Buku Kwitang di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Tempat ini bukan hanya sebatas toko buku biasa, melainkan juga menjadi tempat yang memiliki banyak sejarah. Subhil Khair Tobing (55 tahun), salah seorang pemilik lapak di Pasar Buku Kwitang, bercerita bahwa dulu tempat ini sering didatangi tokoh-tokoh nasional. “Katanya, tokoh-tokoh sama presiden dulu sering beli di sini,” ujar bapak lulusan SLTA ini pada Selasa, 09 Desember 2025.

Aktifitas pasar buku ini dimulai sejak pukul sembilan pagi hingga magrib setiap hari. Di sini menjual berbagai jenis buku yang terbilang lengkap. “Secara umum. Mulai dari pelajaran anak SD, SMP, SMA, novel sama sejarah,” jawab Subhil Khair Tobing yang akrab disapa Bang Bill sambil menata buku-bukunya. M. Zuki (65), juga seorang pemilik lapak mengatakan walaupun dikenal sebagai pusat buku bekas, pasar ini juga banyak memiliki koleksi buku-buku terbitan baru. “Buku baru juga banyak,” ujarnya singkat.

Kebanyakan pengunjungnya adalah anak-anak muda gen Z, dan mahasiswa. Ketika melihat pengunjung, pemilik lapak tidak akan segan-segan menawarkan berbagai jenis buku di lapaknya. Harga bukunya tergolong murah, mulai dari Rp10.000-an sampai ratusan ribu tergantung jenis bukunya. “Kita fokus yang obral sepuluh ribuan,” jawab Bill. Sedangkan buku-buku yang paling laku dan banyak dicari adalah novel dan Sejarah. “Sekarang yang paling laku novel. Gen Z-nya kebanyakan suka novel,” Jawab Bill, seorang ayah dari dua anak ini.

Di sisi lain, pasang-surut berjualan buku bekas di ruko pinggir Jalan Kramat Raya ini banyak dialami oleh para pemilik lapak. Seperti yang dirasakan oleh Bill, pemilik Toko Buku Restu ini mengaku bahwa semenjak tahun 2015-an karena adanya HP di sini mulai sepi pembeli. Dirinya telah menjadi saksi hidup naik turunnya perjalanan Toko Buku Kwitang. "Saya dari tahun 91, berarti 34 tahun saya datang ke sini, toko ini udah ada semua," ujar Bill.

Namun, kabar baiknya adalah tahun belakangan ini Toko Buku Kwitang mulai kembali ramai oleh pengunjung. "Alhamdulillah, mungkin pada sadar sama terbuka anak-anak sekarang." jawab Zuki.

Terlihat diantara beberapa pengunjung, Avifah (18), seorang mahasiswi Unisma jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini sedang mengacak-acak tumpukan buku di depannya. "Lagi nyari buku pendidikan kaum tertindas," jawab mahasiswi semester satu ini. Dirinya yang dari Bekasi mengaku bahwa memilih jauh-jauh ke sini untuk berbelanja buku karena sekalian jalan-jalan. ”Karena sekalian jalan-jalan juga,” jawabnya singkat.

Melihat ini, pemerintah seharusnya lebih melek sedikit pada generasi mudanya yang mulai aktif membaca. Caranya dengan meringankan pajak buku atau memberikan insentif. Karena sudah rahasia umum mahalnya harga buku bagi seorang pelajar atau mahasiswa. Mereka biasanya harus menahan lapar dengan menyisihkan sebagian uang sakunya untuk bisa beli buku. Membeli buku bekas di Pasar Kwitang adalah jawaban sementara bagi mereka. "Kalau yang baru seratus dapat satu, kalo yang bekas bisa dapat 3-4 buku," ujar Avifah.