Sikap Muslim terhadap Anjing (Perspektif Hadis)

Mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tulisan dari Mufilatur Rohma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan penuh dengan kelembutan.
Mengapa tidak ?
Hal ini dikarenakan Islam merupakan agama yang mengajarkan untuk tidak saling menyakiti siapapun dan apapun, terkecuali dengan batasan yang sudah dilandaskan sesuai syariat dan alasan-alasan yang lugas, tegas dan jelas.
Umat Islam diperintahkan untuk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang sekat-sekat perbedaan. Karena sejak awal, Islam telah mengenalkan dirinya sebagai agama yang rohmatallil'alamin yaitu agama yang damai yang mengajarkan umatnya untuk selalu menebarkan kasih sayang kepada siapapun, apapun dan di manapun.
Selepas dari makna ajaran kasih sayang, nyatanya hal itu tidak hanya tertuju kepada manusia namun juga kepada binatang yang sama halnya merupakan salah satu mahkluk hidup Allah di bumi.
Al-Qur'an juga telah memandu beberapa prinsip moral terhadap umat muslim dalam memandang dan berperilaku terhadap hewan. Seperti halnya pesan yang disampaikan dalam surat an-Nur ayat 41, didalamnya mengajarkan umat muslim untuk menghormati hewan yang juga sama termasuk makhluk ciptaan Allah SWT yaitu dengan cara memperlakukannya dengan baik, tidak menyakiti serta merendahkannya.
Bagaimanapun juga hewan sama seperti manusia sama-sama makhluk ciptaan Allah yang berhak mendapatkan perilakuan baik dan selayaknya. {Al-An'am;38}.
Selain itu berbuat baik kepada binatang juga merupakan salah satu jalan seseorang untuk mendapatkan pahala dan menjadikan dosa-dosanya gugur terhempas ampunan Allah.
Hal ini dikisahkan dari seorang laki-laki yang baru saja mengambil air dari sumur yang dijumpainya karena merasa sangat kehausan setelah melakukan perjalanan jauh, lalu ia menemukan seekor anjing sedang menjulur-julurkan lidah sembari memakan tanah yang lembab karena saking hausnya.
Karena melihat kondisi anjing yang sangat memprihatinkan, akhirnya laki-laki itu kembali masuk ke dalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, lalu ia memegangi anjing itu dengan tangan dan memberinya minum.
Dari peristiwa inilah kemudian Allah memberinya pahala dan mengampuni dosa-dosanya. Rasulullah bersabda bahwa setiap yang memiliki hati yang basah (makhluk hidup) ada (potensi) pahala. {Muttafaq 'Alaih}.
Di samping mengajarkan kasih sayang terhadap binatang, Islam juga telah menakrifkan dan membatasi akan ketentuan dalam memanfaatkan sekaligus berinteraksi dengan binatang.
Ketentuan itu misalnya dalam ajaran islam menghalalkan binatang ternak (QS. An-Nahl: 66, Al-Hajj:28, Al-Mu'minun:21) dan menggunakannya sebagai alat transportasi (QS. Al-Mu'min:79).
Selain itu ajaran Islam juga mengharamkan binatang kotor menjijikkan (QS. Al-A'raf:175), bangkai, darah, daging babi, daging yang disembelih selain menyebut asma Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas sebelum disembelih, bertaring dan bercakar (QS. Al-Ma'idah: 3).
Berbicara tentang binatang pada umumnya, binatang yang banyak mendapatkan dekret khusus dari islam yaitu anjing. Banyak sekali di dalam Al-Qur'an yang menerangkan akan pembatasan tersebut (QS. Al-Ma'idah:4).
Dengan adanya sumber kedua setelah Al-Qur'an, maka dapat ditarik kesimpulan pada dasarnya Islam melarang memelihara anjing, kecuali terdapat unsur kemanfaatan untuk kebutuhan-kebutuhan yang sangat diperlukan.
Selain hal tersebut Islam lebih cenderung untuk melarangnya. (HR. Muslim dan Abu Dawud) (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dari sumber diatas menyatakan bahwa di dalam Islam anjing tidak boleh dipergunakan kecuali terdapat manfaat tertentu yang bersifat halal seperti untuk membantu dalam pertanian, menggembalakan hewan/berburu, menjaga rumah dll. Karena jika tidak, maka selama dalam masa pemeliharaan tersebut pahala seseorang akan terkurangi setiap harinya sebanyak satu qirath.
Lantas Harus Bagaimana Sikap Muslim terhadap Anjing?
Mayoritas ulama berpandangan bahwa semua bagian dari anjing, baik tubuhnya (jika basah) dan liurnya adalah najis. Disisih lain terdapat mazhab-mazhab yang memberikan pandangan lebih beragam.
Mazhab Hanafi misalnya, yang melihat air liurnya anjing hukumnya najis namun tubuhnya tidak. Lain halnya dangan mazhab Maliki yang berpandangan bahwa semua bagian dari anjing adalah suci.
Sementara di Indonesia yang banyak menganut mazhab Syafi’I berpendapat hal itu makruh ketika seorang muslim memelihara anjing untuk penjaga rumah, gembala, atau penjaga lahan.
Benarkah Malaikat Tidak Masuk pada Rumah yang terdapat Anjing?
Soal malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang didalamnya terdapat (memelihara) anjing (dipelihara tidak dengan tujuan halal).
Itu merupakan peringatan Rasulullah yang menyatakan bahwa seseorang tidaklah akan mendapat kebaikan, rahmat, keberkahan juga tidak mendapatkan pengampunan dari Allah SWT (HR. al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi dari Muslim).
Sebagian ulama berpendapat bahwa malaikat yang dimaksudkan disini adalah malaikat pembawa rahmat penurun wahyu yaitu Jibril, namun pada zaman sekarang proses penurunan wahyu sudah terputus.
Lantas berkenaan dengan hal tersebut apakah terdapat kemungkinan untuk malaikat bersedia masuk ke rumah lagi?
Malaikat adalah makhluk suci yang gemar beribadah. Malaikat masuk pada tempat-tempat yang baik dan suci pula. Malaikat tidak masuk pada tempat yang kotor, Rasulullah sendiri telah menyampaikan bahwa malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjingnya karena sifat kotor anjing tersebut.
Meskipun anjing adalah hewan yang kotor, alangkah baiknya sikap seorang muslim harus mencerminkan jati diri seorang muslim yang telah diajarkan dalam agamanya yaitu harus memiliki sifat lemah lembut, kasih sayang kepada siapapun meskipun hanya kepada seekor anjing.
Jangan sampai hal itu justru dapat mendiskreditkan islam yang mulanya islam banyak mengandung cinta terhadap sesama makhluk hidup.
Kisah Ulama' Sufi dengan Seekor Anjing
Terdapat sebuah kisah ulama sufi terdahulu bernama Abu Yazid Al-Busthami dan seekor anjingnya. Kisah ini mengandung banyak hikmah yang sangat menampar dan menyadarkan kita untuk tidak sombong dan menyucikan hati.
Suatu hari Abu Yazid mendapat ilmu serta pengalaman berharga dari seekor anjing di tepi jalan. Seperti biasa, Abu Yazid suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu beliau melihat seekor anjing yang sedang berjalan terus kearahnya. Ketika anjing itu sudah dekat dengan beliau, Abu Yazid spontan langsung mengangkat jubahnya khawatir akan tersentuh dengan anjing yang katanya najis itu.
Seketika anjing itupun berhenti dan terus memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar seakan anjing itu berkata padanya.
“Hai Syekh... tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalaupun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7 kali dengan air dan tanah, maka najis itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu merasa lebih mulia, lalu menganggapku anjing yang hina, maka najis yang menempel dihatimu itu tidak akan bersih walaupun engkau membasuhnya dengan 7 samudera lautan sekaligus.”
Mendengar itu, Abu Yazid langsung tersentak diam dan meminta maaf kepada anjing tersebut. Sebagai tanda permohonan maafnya yang tulus, lantas Abu Yazid mengajak anjing itu untuk bersahabat dan jalan bersamanya. Namun anjing itu menolak.
“Engkau tidak patut berjalan denganku. Karena engkau yang dimuliakan, semua orang akan mencemooh dan melempari aku dengan batu, Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku hina, aku juga tidak pernah memilih untuk menjadi sosok wujud anjing seperti ini, untuk itu aku selalu berserah diri pada sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku tidak menyimpan dan membawa sebuah tulangpun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum.” Kata anjing itu sembari meninggalkan Abu Yazid.
Cukuplah kisah ini yang dapat menyadarkan kita…….
