Konten dari Pengguna

Kenapa Keranjang Belanja Selalu Bertambah Saat Ada Diskon?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Avita sari Aditiya P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi seseorang memegang telepon pintar/smartphone  yang menampilkan keranjang belanja online dengan promo diskon.(sumber:Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi seseorang memegang telepon pintar/smartphone yang menampilkan keranjang belanja online dengan promo diskon.(sumber:Dokumentasi pribadi)

Pernah berniat membeli satu barang, tetapi keluar dari aplikasi dengan lima barang di keranjang?

Awalnya hanya ingin membeli sabun mandi. Tapi begitu membuka marketplace, semuanya terasa seperti sekalian saja. Sampo sedang diskon, camilan ada cashback, Promo tisu beli satu gratis satu, bahkan botol minum yang sebenarnya tidak dibutuhkan pun ikut terlihat menarik karena sedang promo. Tanpa sadar, satu barang berubah menjadi daftar belanja yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Yang menarik, bukan hanya isi keranjang yang bertambah, tapi juga niat awal yang perlahan bergeser. Dari “aku butuh ini” menjadi “kalau tidak beli sekarang, nanti pasti rugi".

Di era marketplace seperti Shopee, Tokopedia, hingga TikTok Shop, pola ini semakin sering terjadi. Notifikasi flash sale, gratis ongkir, hingga hitungan mundur “berakhir dalam beberapa jam” Seolah mendorong kita untuk segera membeli tanpa sempat, mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Padahal sebelum melihat promo, barang-barang itu tidak pernah terasa mendesak. Tidak dibeli hari ini pun sebenarnya tidak masalah. namun, begitu ada diskon besar atau promo beli satu gratis satu, kita mulai merasa rugi jika melewatkannya.

Di titik inilah cara kita mengambil keputusan mulai bergeser. Bukan lagi tentang butuh atau tidak, tapi berubah menjadi sayang kalau tidak dimanfaatkan. Secara tidak sadar, kita sering lebih fokus pada besarnya potongan harga daripada uang yang benar-benar keluar dari dompet. Misalnya, barang seratus ribu rupiah menjadi lima puluh ribu. Otak langsung menangkap satu hal, hemat lima puluh ribu. Padahal tetap saja kita mengeluarkan uang untuk barang yang sebelumnya bahkan tidak ada di daftar belanja.

Fenomena ini dalam perilaku konsumen dikenal sebagai impulsive buying, yaitu keputusan pembelian yang dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan panjang. Yang membuatnya semakin kuat adalah cara promo itu dikemas. Flash sale, stok terbatas, hingga promo bertuliskan “ Diskon berakhir hari ini” menciptakan rasa urgensi, membuat kita merasa harus segera mengambil keputusan sebelum kesempatan itu hilang. Kalau dilihat lebih dalam, ini bukan sekadar soal diskon. Dalam behavioral finance, ada konsep yang disebut present bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memilih kepuasan yang bisa dirasakan sekarang dibanding manfaat di masa depan. Misalnya, saat melihat barang dengan diskon besar, kita lebih tergoda untuk langsung membeli karena merasa sedang mendapat keuntungan. Padahal, jika pembelian itu ditunda atau bahkan tidak dilakukan, uang tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting di kemudian hari. Meski godaan promo tidak selalu mudah untuk dihindari, bukan berarti kita tidak bisa mengatasinya. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan bertanya kepada diri sendiri sebelum membeli, "Kalau barang ini tidak sedang diskon, apakah saya tetap akan membelinya?" Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar barang itu memang bukan kebutuhan, melainkan hanya terlihat menarik karena sedang ada promo.

Di tengah semua notifikasi promo yang terus muncul, kita sering lupa berhenti sejenak dan bertanya, apakah barang ini benar-benar dibutuhkan atau hanya terasa sayang untuk dilewatkan. Padahal, tidak semua promo harus dimanfaatkan, dan tidak semua barang yang sedang diskon perlu dibeli. Uang yang sudah dikeluarkan tidak bisa kembali lagi, seberapa besar pun potongan harganya. Sebab, ukuran hemat bukan ditentukan oleh seberapa besar diskon yang didapat, melainkan oleh seberapa bijak kita memutuskan untuk membeli.