Kenapa Menabung Terasa Lama, tetapi Untung Investasi Terlihat Cepat?

Mahasiswi semester 6 ITB Ahmad Dahlan Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Avita sari Aditiya P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menabung Rp100 ribu atau Rp200 ribu setiap bulan sering kali terasa tidak membawa perubahan yang besar. Saldo memang bertambah, tetapi kenaikannya berjalan pelan. Sebaliknya, di media sosial kita hampir setiap hari melihat cerita tentang keuntungan investasi, mulai dari portofolio saham yang sedang hijau, harga emas yang terus naik, hingga aset kripto yang kerap dikaitkan dengan keuntungan besar dalam waktu yang relatif cepat.
Lama-kelamaan, perbandingan itu sulit untuk dihindari. Di satu sisi, tabungan bertambah perlahan dari bulan ke bulan namun Di sisi lain, investasi terlihat mampu memberikan keuntungan yang besar dalam waktu yang jauh lebih singkat. Perbandingan inilah yang kemudian membuat banyak orang bertanya. "mengapa harus sabar menunggu tabungan bertambah jika investasi terlihat bisa memberikan keuntungan lebih cepat?"
Yang Sering Kita Lihat Hanya Hasilnya
Salah satu alasannya mungkin karena yang sampai kepada kita sering kali hanyalah hasil akhirnya.
Kita melihat seseorang membagikan keuntungan investasinya, tetapi jarang mengetahui berapa lama ia menunggu untuk mendapatkannya. Kita melihat angka keuntungan yang muncul di layar, tetapi tidak melihat berapa kali ia mengalami kerugian, salah mengambil keputusan, atau tetap konsisten menyisihkan uang setiap bulan meski hasilnya belum langsung terlihat.
Tanpa disadari, kita mulai membandingkan proses keuangan yang sedang kita jalani dengan hasil akhir yang ditunjukkan orang lain. Perbandingan inilah yang membuat menabung terasa terlalu lambat, sementara investasi seolah harus selalu memberikan hasil dengan cepat.
Dalam ilmu behavioral finance, ada konsep yang disebut present bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih menyukai hasil yang bisa dirasakan saat ini dibanding manfaat yang baru akan dirasakan di masa depan. Keuntungan investasi yang terlihat hari ini terasa jauh lebih menarik dibandingkan tabungan yang manfaatnya baru akan terasa beberapa tahun kemudian.
Akibatnya, tidak sedikit orang mulai mengejar instrumen yang dianggap mampu memberikan hasil lebih cepat. Ada yang membeli aset hanya karena sedang ramai dibicarakan, ada yang ikut berinvestasi karena takut tertinggal, dan ada pula yang berpindah-pindah instrumen karena merasa hasilnya tidak kunjung sesuai harapan.
Padahal, investasi tidak pernah benar-benar lepas dari waktu dan proses. Bahkan instrumen yang relatif stabil seperti emas membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Sementara itu, saham dan aset kripto yang sering dikaitkan dengan keuntungan besar justru memiliki risiko fluktuasi yang jauh lebih tinggi dalam jangka pendek.
Mungkin Masalahnya Bukan pada Menabung
Di titik inilah mungkin persoalannya bukan karena menabung terlalu lambat, melainkan karena kita mulai terbiasa melihat segala sesuatu bergerak dengan cepat.
Kita terbiasa melihat hasil orang lain setiap hari, tetapi lupa bahwa setiap orang memiliki titik awal, kemampuan, dan tujuan keuangan yang berbeda. Menabung memang tidak dirancang untuk membuat seseorang cepat kaya. Begitu juga investasi yang bukan jalan pintas menuju kebebasan finansial. Keduanya memiliki peran yang berbeda dan sama-sama membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasilnya.
Media sosial mungkin membuat kita merasa tertinggal. Namun, dalam urusan keuangan, yang terpenting bukan siapa yang lebih cepat sampai, melainkan siapa yang mampu bertahan menjalani prosesnya. Karena tidak semua orang harus tiba di tujuan pada waktu yang sama. di dalam mengelola keuangan, berjalan lebih pelan sering kali jauh lebih baik daripada berlari terlalu cepat lalu berhenti di tengah jalan
