Mobil Listrik di Indonesia: Inovasi Zero-Emission, tetapi Menghasilkan Emisi?

SMA CITRA BERKAT
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Jovita Devy Oenjaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata bumi akibat penumpukkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang berlebihan di atmosfer. Data NASA yang menunjukkan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat 1,5° C sejak masa pra-industri menjadi bukti bahwa pemanasan global itu nyata. Karbon dioksida (CO2), gas metana (CH4), dan CFC merupakan contoh GRK yang memerangkap panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke luar angkasa. GRK dapat berasal dari alam dan manusia. Namun, seiring dengan peningkatan populasi, aktivitas manusia mendominasi penumpukkan konsentrasi tersebut. Data BBC menunjukkan bahwa karbon dioksida (CO2) sebesar 76,7% menjadi komposisi GRK yang mendominasi di mana 56,6% dari minyak fosil, 17,3% dari penebangan hutan, dan 2,8% bersumber dari hal lain. Fakta-fakta tersebut membuat masalah ini perlu menjadi perhatian bersama karena dampaknya mengancam kehidupan di bumi.
Meneliti lebih lanjut terkait faktor-faktor yang berkontribusi pada emisi CO2, menurut data Statista, diestimasi 48% nya berasal dari penggunaan mobil konvensional yang mana sumber BBM-nya berasal dari bahan bakar fosil. Hal tersebut mendorong banyak negara berlomba menciptakan inovasi berupa mobil listrik. Kehadiran inovasi ini dinilai dapat menjadi solusi menuju zero-emission sehingga banyak negara yang telah menargetkan penggunaan mobil listrik bahkan mulai berproses pada tahap pengalihan.
Norwegia adalah salah satu contoh negara yang sukses menerapkan inovasi mobil listrik untuk menurunkan emisi. Menurut Kompas, yang mengutip situs web Visit Norway mencatat bahwa jumlah kendaraan listrik di Norwegia pada 2023 mencapai 689.169 unit dengan 3.000 stasiun pengisian daya umum dan 7.753 pengisi daya cepat. Salah satu kunci keberhasilan mereka adalah penggunaan energi terbarukan sebagai sumber listriknya, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Selain itu, pemerintah juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Pemerintah Norwegia menerapkan beberapa kebijakan yang mendorong masyarakatnya untuk beralih, seperti pembebasan bea masuk, pajak, dan akses berbayar pada fasilitas jalan tol, parkir, hingga jalur bus.
Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia juga menjadi salah satu negara yang mengimplementasikan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi. Pemerintah telah menargetkan 15 juta kendaraan listrik pada 2030 dengan rincian 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit kendaraan listrik roda dua. Akan tetapi, pada kenyataannya, emisi dari tahun ke tahun terus meningkat. Jika seperti ini, apakah kendaraan berlistrik terkhusus mobil listrik masih bisa disebut sebagai solusi menuju zero-emission?
Penilaian yang ideal tidak dapat dilihat dari satu aspek saja sehingga ketika berbicara terkait “Apakah masih bisa disebut sebagai solusi?” perlu dianalisis lebih mendalam mengenai efektivitas dan efisiensinya. Hal tersebut meliputi fase produksi, fase penggunaan, dan fase setelah penggunaan.
Menurut data Elements, proses produksi mobil listrik menghasilkan 5 tCO2e dari produksi baterai dan 9 tCO2e dari produksi mesinnya. Data ini menunjukkan bahwa produksi mobil listrik menghasilkan emisi 40% lebih besar daripada produksi mobil hybrid (1 tCO2e dari baterai dan 9 tCO2e dari mesin) dan konvensional (10 tCO2e dari mesin). Baterainya tersusun dari kobalt, nikel, dan bahan tambang lainnya ternyata telah memperburuk tempat penambangan menjadi semakin rusak. Selain itu, sisi sosial juga perlu menjadi perhatian karena dalam proses menambang bahan masih menggunakan tenaga manusia yang mirisnya sering terjadi eksploitasi.
Pada fase penggunaannya, mobil listrik tidak menghasilkan emisi secara langsung karena tidak menggunakan mesin pembakar yang menghasilkan zat buang. Namun, secara tidak langsung, mobil listrik tetap menghasilkan emisi dari total siklus hidup sebesar 26 tCO2e dari produksi energi listriknya dan 1 tCO2e dari perbaikan. Hasil emisi ini bergantung pada sumber listrik yang digunakan. Emisi dari sumber listrik yang dihasilkan oleh Indonesia lebih tinggi dibandingkan emisi yang dihasilkan oleh Norwegia karena menurut data GoodStats (2024) menunjukkan bahwa 85% energi listrik di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil.
Pada fase setelah penggunaannya, mobil listrik berpotensi menghasilkan emisi terutama dari limbah baterainya yang menumpuk. Hal tersebut disebabkan oleh pengolahan limbah baterai yang kurang memadai. Jika tidak segera ditangani, limbah baterai yang termasuk dalam kategori sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) berpotensi menyebabkan kebakaran dan melepas racun ke alam yang bersifat bioakumulasi jika masuk dalam tubuh makhluk hidup. Sayangnya, saat ini belum ditemukan cara pengolahan baterai yang efektif dan efisien.
Kesimpulan & Solusi
Melihat realita di Indonesia, mobil listrik sepertinya belum bisa dijadikan sebagai solusi yang urgensinya harus diprioritaskan saat ini. Namun, melihat potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah, mobil listrik dapat dijadikan sebagai solusi jangka panjang yang berpotensi. Untuk itu, perlu dipikirkan terlebih dahulu mengenai beberapa hal seperti beralih ke energi terbarukan, penanganan limbah baterai, dan tata kotanya agar penggunaan mobil listrik sebagai solusi benar-benar efektif dan efisien.
Keberhasilan menuju Indonesia bebas emisi ditentukan oleh seluruh lapisan masyarakat baik pemerintah maupun masyarakatnya. Dalam hal ini, pemerintah perlu menyediakan fasilitas dan mendukung proses riset karena inovasi adalah kunci. Kemudian, tata kota juga perlu diperbaiki karena sarana dan prasarana yang memadai juga menjadi faktor pendukung. Selain itu, perbaikan dan peningkatan akses terhadap transportasi umum dapat memiliki efek emisi yang lebih kecil dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi. Secara kuantitatif, menurut artikel Betahita, “Peningkatan pangsa transportasi umum hingga 40 persen berkontribusi paling besar dengan potensi pengurangan emisi sebesar 101 juta ton.” Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus mendukung dan berperan aktif dalam proses ini, terutama generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa. Kesadaran tentang lingkungan perlu disadari sejak dini salah satunya dengan menerapkan pada materi sekolah dan gaya hidup ramah lingkungan. Mempromosikan jurusan tentang teknologi lingkungan mungkin juga akan berkontribusi karena para mahasiswa akan belajar untuk menerapkan teknologi untuk mengatasi pencemaran lingkungan, mengelola lingkungan, dan aksi pencegahannya.
Selagi menunggu prosesnya, langkah pencegahan sederhana yang dapat kita lakukan adalah menggunakan kendaraan dengan bijak seperti saat bepergian jarak dekat lebih baik berjalan kaki atau naik sepeda.
