Konten dari Pengguna

Tersapa Tanpa Nama, Tersentuh Tanpa Sadar

Yunia Dwi Faradita

Yunia Dwi Faradita

Mahasiswa Universitas Jember

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yunia Dwi Faradita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Dari arah jalan pulang"

Pagi ini bukan sekadar tentang perjalanan, tapi tentang perjumpaan dengan hati yang bersinar dalam kesederhanaan. Di pinggir jalan, di sela langkah yang tak pasti, aku disambut oleh doa dari seseorang yang bahkan tak mengenalku.

sumber pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber pribadi

langkah yang terasa biasa justru membawaku pada pertemuan luar biasa. Di antara hiruk pikuk jalanan pagi, aku menjumpai sosok-sosok sederhana yang membuatku diam dalam kagum. Seorang bapak paruh baya, dengan wajah lelah tapi mata teduh, menyisipkan doa untukku tanpa diminta. Aku belajar hari ini: "kebaikan tak selalu datang dari yang dekat, tapi dari hati-hati tulus yang sering kita lewati tanpa sadar".

Kadang hidup memang suka ngasih kejutan, bukan dari hal-hal besar, tapi justru dari momen kecil yang nggak kita sangka-sangka. Pagi ini aku berangkat dengan langkah yang agak tergesa, sampai-sampai lupa pamit ke orang tua. Berawal dadi sini, perjalananku terkecoh dengan beberapa masalah mulai dari kendaraanku macet, sampai harus masuk bengkel dan akupun nemutuskan naik angkutan umum (bus) yang mana itu adalah pertama kalinya buat aku dan mau ngga mau aku harus nekat buat nungguin bus lewat sambil berdiri di pinggir jalan raya. Yaaa, mungkin itu jadi titik awal kenapa perjalananku kali ini terasa beda. Ada perasaan yang agak kosong di awal, tapi pelan-pelan diisi oleh banyak hal yang bikin hati hangat.

"menuju kehidupan rantau lagi"

Aku ketemu banyak wajah yang awalnya asing, tapi justru ngasih rasa nyaman yang susah dijelasin. Mereka bukan siapa-siapa, bukan orang penting atau tokoh besar, tapi mereka hadir dengan cara yang tulus. Ada satu momen yang paling nyantol di hati, waktu aku duduk nunggu di pinggir jalan, seorang bapak paruh baya lewat, senyum, lalu sempat nyapa "mau kemana?" selepas aku menjawab, beliau sentak bertanya lagi tentang segelintir perkuliahan lalu, menyambungnya dengan doa, “mandar mugi mbesok dadi uwong lan diparingi slamet sampek tujuan e ya, Nak.” Sesederhana itu. Tapi rasanya dalam banget.

Itu bikin aku mikir. Kadang, orang-orang yang paling menginspirasi itu bukan yang punya segalanya, tapi justru yang hidupnya sederhana, tapi hatinya luas banget. Mereka nggak kenal aku, nggak tau ceritaku, tapi mereka tetap bisa peduli. Mereka mungkin nggak punya banyak, tapi nggak pelit kasih kebaikan. Dan itu justru yang bikin aku diam-diam kagum dan belajar lebih banyak dari hari ini.

Perjalanan hari ini jadi semacam tamparan halus buat aku pribadi. Tentang pentingnya pamit, tentang nggak semuanya harus berjalan sesuai rencana, dan tentang bagaimana kebaikan itu ternyata masih hidup di jalanan, di sudut-sudut yang jarang kita perhatikan. Aku semacam dikasih pelajaran tanpa guru, cuma dari ketulusan yang nggak dibuat-buat.

Terima kasih, Pak. Terima kasih untuk doa yang mungkin cuma sepintas, tapi efeknya nyampe sampai hati. Terima kasih juga buat semua orang yang hari ini hadir dalam diam, tapi punya peran besar dalam menenangin perjalananku. Kalian mungkin disebut orang kecil, tapi di mataku kalian justru orang yang besar hatinya, besar jiwanya.

Hari ini aku belajar: bukan soal sampai di tujuan secepat mungkin, tapi soal apa dan siapa yang kita temui di sepanjang jalan. Kadang yang kita kira sepele, justru jadi bagian paling berarti dari cerita hidup kita.