Ilmu Tak Selalu di Buku : Menemukan Makna dari Petuah Leluhur Madura

Mahasiswa Hukum Tata Negara STIT AL-IBROHIMY BANGKALAN
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Salamatur Rumsiyeh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tradisi Madura, ilmu tidak selalu dicari lewat buku atau bangku sekolah. Ia juga tumbuh dalam petuah, dalam laku hidup, dalam diamnya orang tua yang menatap sawah, atau dalam lisan seorang kiai kampung yang tak pernah menulis buku tapi dihormati oleh banyak kalangan. Di sinilah letak keunikan dan kedalaman makna ilmu dalam kearifan lokal Madura, ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi sesuatu yang berakar pada keberadaan, nilai, dan tindakan nyata.
Salah satu pilar budaya Madura yang mencerminkan nilai ini adalah ungkapan “Bhuppa’, Bhabbu’, Guru, Rato’”, yakni urutan penghormatan yang diberikan kepada ayah, ibu, guru, dan pemimpin. Guru di sini tidak hanya dimaknai sebagai pengajar formal, tapi siapa pun yang memberi pelajaran hidup, baik melalui kata maupun teladan. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah hasil dari relasi, bukan sekadar informasi. Ia muncul dari perjumpaan dengan orang lain, dari mendengarkan, dari menunduk dan merenung, bukan hanya dari membaca.
Petuah leluhur Madura kerap sederhana, tapi sarat makna. Misalnya, “Mon takabbur, tak ajem-ajem” (kalau sombong, tak akan awet). Kalimat ini seolah mengajarkan etika keberadaan: bahwa ilmu yang sejati melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Dalam filsafat, ini menyentuh pada dimensi ontologis, siapa manusia itu, bukan sekadar apa yang ia tahu.
Dalam konteks modern, ketika ilmu sering dikerdilkan menjadi gelar atau sertifikat, kearifan Madura justru mengingatkan kita bahwa ilmu adalah soal sikap hidup. Mengetahui banyak hal tidak sama dengan menjadi bijaksana. Maka, orang Madura lebih menghargai orang yang bisa menempatkan diri, tahu malu (malu’), tahu hormat, dan menjaga harga diri (ajhina), karena di situlah ilmu menjadi nyata.
Kini, saat arus informasi begitu deras, kita dihadapkan pada tantangan baru, bagaimana menjaga kedalaman makna ilmu agar tidak tergerus oleh kecanggihan teknologi. Di sinilah petuah leluhur Madura menjadi penting, untuk menyeimbangkan antara tahu dan menjadi, antara membaca dan memahami, antara pintar dan bijaksana.
Karena pada akhirnya, ilmu yang tak membentuk watak dan keluhuran, hanyalah deretan kata tanpa jiwa.
