Konten dari Pengguna

Ketika AI Datang, Perusahaan Jangan Lupa Menyiapkan Manusianya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggi Nadzwa Vannesha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi, dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Dokumentasi pribadi, dibuat dengan AI

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu teknologi, mulai dari pengolahan data hingga pekerjaan administratif. Perubahan ini membuat perusahaan tidak cukup hanya memikirkan teknologi apa yang akan digunakan, tetapi juga harus memikirkan bagaimana kesiapan sumber daya manusia yang akan menggunakannya. Di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) menjadi penting. Perencanaan SDM bukan sekadar menghitung berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan, tetapi juga memperkirakan kompetensi yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Ketika teknologi berkembang, kebutuhan kompetensi juga ikut berubah. Perusahaan yang tidak mempersiapkan perubahan tersebut dapat menghadapi kesenjangan antara kemampuan karyawan dan kebutuhan pekerjaan. Gambaran mengenai perubahan kebutuhan kompetensi juga terlihat dalam Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum. Laporan tersebut memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan mengalami perubahan hingga 2030. AI dan big data termasuk keterampilan yang diperkirakan semakin dibutuhkan, tetapi kemampuan seperti berpikir analitis, kreativitas, fleksibilitas, dan kemampuan belajar sepanjang hayat juga tetap penting. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak seharusnya hanya dilihat sebagai upaya menggantikan pekerjaan manusia. Perusahaan juga perlu melihatnya sebagai alasan untuk meningkatkan kemampuan karyawannya. Pelatihan dan pengembangan kompetensi dapat menjadi bagian dari perencanaan SDM agar karyawan mampu beradaptasi dengan perubahan. Dengan begitu, teknologi dan tenaga kerja dapat saling melengkapi dalam meningkatkan produktivitas perusahaan. Perencanaan juga perlu dilakukan sejak proses rekrutmen. Perusahaan tidak hanya membutuhkan calon karyawan yang memiliki ijazah atau pengalaman tertentu, tetapi juga orang yang mampu belajar dan beradaptasi dengan perubahan. Kemampuan menggunakan teknologi memang penting, tetapi kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah juga tidak kalah dibutuhkan. Artinya, perusahaan perlu melihat kebutuhan SDM secara lebih menyeluruh. Bagi tenaga kerja, perubahan ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan formal saja tidak selalu cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025 tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas berada pada angka 5,39 persen. Angka tersebut tidak berarti bahwa pendidikan tinggi tidak penting, tetapi menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi dan kesiapan memasuki dunia kerja juga perlu mendapat perhatian. Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya diikuti dengan perencanaan SDM yang matang. Perusahaan perlu mengetahui kompetensi apa yang dimiliki karyawan, kompetensi apa yang akan dibutuhkan, serta bagaimana cara menyiapkan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan tersebut. AI mungkin akan terus berkembang, tetapi manusia tetap menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan. Karena itu, perusahaan yang mempersiapkan teknologinya sekaligus mempersiapkan manusianya akan lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja.