Review Novel Sastra Fiksi Robert Anak Surapati Karya Abdoel Moeis

Mahasiswa Sarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Dwi Norma Apriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Gugur Sebagai Pahlawan Yang Menyerang Bangsa Sendiri”

Buku novel sastra fiksi ini berjudul Robert Anak Surapati yang ditulis oleh Abdoel Moeis kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1953 dengan jumlah kurang lebih dari 150 halaman dan ukuran 14,8 x 21 cm dengan nomor ISBN 978-979-407-110-6. Selain berbentuk fisik, novel ini juga tersedia dalam bentuk digital karena wujudnya pada era sekarang sudah jarang dibaca bahkan diminati oleh masyarakat umum.
Ingin mengetahui kisah seorang pahlawan yang berbeda ini? Tapi jangan disamakan dengan orang-orang PKI dahulu ya, tentu sangat jauh berbeda. Novel sejarah dan percintaan yang bergenre fiksi dengan tebal kurang dari dua ratus halaman ini merupakan lanjutan cerita dari novel pertama Abdoel Moeis yang berjudul Surapati. Novel dengan latar belakang sampul berwarna jingga ini fokus membahas mengenai anaknya yang bernama Robert, yaitu bercerita tentang perjuangan seorang anak keturunan Jawa dan Belanda yang berperang melawan bangsa pribumi di tanah air kemudian gugur sebagai pahlawan. Selain itu di dalamnya juga terdapat kisah percintaan yang berakhir tragis.
Robert merupakan anak angkat dari pasangan saudagar kaya asal Belanda. Sedihnya dia baru menyadari bahwa dia bukan anak kandung dari saudagar Belanda itu setelah ditinggal wafat oleh sepasang suami istri tersebut, ayah angkatnya hanya meninggalkan sepucuk surat untuknya. Dan yang lebih menyakitkan, saudara angkatnya juga tidak menyukainya sehingga mereka tidak mengizinkan Robert untuk mendapatkan hak waris atas dirinya dari keluarga angkatnya. Robert juga memiliki seorang tunangan, namun karena suatu hal, dia terpaksa meninggalkan tunangannya tanpa kabar. Dalam novel ini dikisahkan Robert memiliki sifat berani dan pantang menyerah, karena setelah ditinggal wafat oleh orang tua angkatnya, dia memutuskan untuk berpetualang ke negeri orang untuk menghilangkan rasa sedih karena dia merasa tidak berguna lagi semenjak ditinggal wafat orang tua angkatnya.
Ketika sudah berada di negeri orang, secara tidak sengaja dia bertemu seseorang yang dikenalnya ketika sebelum berpetualang. Seseorang itulah yang mengantarkan ia untuk mulai melakukan petualangan yang sesungguhnya. Namun banyak sekali gejolak batin yang dihadapi oleh tokoh utama ini ketika dia ingin perperang membela bangsanya, Tak disangka dia juga bertemu dengan orang tua kandungnya yang masih hidup ketika dia ingin memulai petualangannnya. Dan pada akhirnya dia pun gugur sebagai pahlawan untuk membela bangsanya.
Bagian dari cerita yang paling saya sukai yaitu ketika Robert bertemu dengan ayah kandungnya, namun pada cerita itu Robert tidak bisa berkumpul dengan keluarganya Seperti yang terjadi pada cerita di dunia nyata karena keadaan yang telah mengubahnya.
Novel dengan latar Indonesia dan Belanda ini menarik sekali untuk dibaca, alurnya yang tidak bisa ditebak dan bikin penasaran menambah keseruan alur novel yang bergenre fiksi ini. Selain dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, banyak sekali pelajaran yang pembaca dapatkan dari novel lanjutan seri kedua karya Abdoel Moeis ini. Dan juga disuguhkan dengan gejolak batin yang dialami tokoh utama seolah kita sebagai pembaca juga ikut merasakan.
Buku berjumlah dua puluh dua sub bab ini mengandung pesan yang dapat kita teladani yaitu kita harus berani mengambil keputusan, rela berkorban demi bangsa dan negara, kita sebagai manusia harus menjadi pribadi yang baik dari sebelumnya, berbakti serta menyayangi keluarga selagi masih ada serta memegang teguh janji yang sudah kita pegang teguh.
