Cerita Perjuangan Tiga Tahun Angkatan Aljasiyah 10

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muwadaah, Hari Ketika Kenangan Menjadi Begitu Berarti
Ada masa ketika kita begitu ingin cepat menyelesaikan sebuah perjalanan. Namun, ketika akhirnya sampai di penghujungnya, justru ada perasaan berat untuk meninggalkan semua yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kita.
Perasaan itulah yang membuat muwadaah, atau perpisahan santri di pondok pesantren, memiliki makna tersendiri bagi saya dan teman-teman angkatan Aljasiyah 10.
Setelah menjalani perjalanan selama tiga tahun, muwadaah bukan sekadar acara penutup yang menandai berakhirnya masa belajar di pondok. Bagi saya, momen tersebut menjadi ruang untuk kembali mengingat perjalanan panjang yang telah dilewati bersama. Ada proses belajar, perjuangan memahami pelajaran, target yang harus diselesaikan, serta kenangan bersama teman-teman dan para guru yang menjadi bagian dari perjalanan itu.
Tiga tahun mungkin terdengar singkat ketika dikenang kembali. Namun, di dalamnya terdapat banyak proses yang tidak selalu mudah dijalani. Apa yang pada akhirnya terlihat sebagai sebuah pencapaian sesungguhnya memiliki cerita panjang di baliknya.
Sebagai bagian dari angkatan Aljasiyah 10, saya menyadari bahwa perjalanan menuju perpisahan ini bukan hanya tentang menyelesaikan pendidikan, melainkan juga tentang bertumbuh melalui ilmu, kebersamaan, dan pengalaman yang membentuk diri kami.
Tahun Pertama: Memulai Perjalanan dengan Khataman Juz Amma dan Tuhfatul Athfal
Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah pertama. Bagi kami, tahun pertama menjadi bagian awal dari proses mengenal kehidupan belajar di pondok sekaligus membangun kebiasaan untuk terus menuntut ilmu.
Pada tahun pertama, kami mengikuti khataman Juz Amma dan nadzom Tuhfatul Athfal. Kedua pencapaian tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan belajar kami.
Khataman Juz Amma bukan hanya tentang menuntaskan bacaan surah-surah dalam juz terakhir Al-Qur'an. Proses tersebut juga menjadi pengingat akan pentingnya membiasakan diri berinteraksi dengan Al-Qur'an, menjaga bacaan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kalam Allah.
Sementara itu, pembelajaran nadzom Tuhfatul Athfal memperkenalkan kami pada kaidah ilmu tajwid melalui susunan bait yang dipelajari dan diingat. Ilmu tersebut menjadi bekal untuk memahami bagaimana membaca Al-Qur'an dengan lebih baik sesuai kaidahnya.
Pada tahap ini, kami sedang membangun dasar. Apa yang dipelajari pada tahun pertama menjadi bagian dari perjalanan panjang yang masih harus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.
Ketika mengingatnya kembali, saya melihat bahwa setiap pencapaian memiliki arti tersendiri. Tidak semua proses dapat dilalui dengan mudah, tetapi setiap tahap memberikan kesempatan untuk belajar lebih disiplin, bersabar, dan menghargai proses.
Tahun Kedua: Melanjutkan Perjuangan dengan Nadzom Al-Imrithi dan Al-Maqshud
Memasuki tahun kedua, perjalanan belajar kami berlanjut dengan khataman nadzom Al-Imrithi dan Al-Maqshud.
Tahap ini menjadi bagian lain dari perjalanan Aljasiyah 10 dalam mendalami ilmu yang dipelajari di pondok. Nadzom Al-Imrithi berkaitan dengan pembelajaran ilmu nahwu, sedangkan Al-Maqshud dipelajari dalam tradisi keilmuan ilmu sharaf.
Bagi seorang santri, mempelajari kitab dan nadzom bukan sekadar berusaha mengingat susunan bait. Ada proses memahami materi, mengulang pelajaran, dan membangun ketekunan agar ilmu yang dipelajari tidak berhenti sebagai hafalan semata.
Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesabaran. Hasil yang terlihat pada akhir pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses yang dijalani sebelumnya.
Bagi saya, tahun kedua menjadi bagian dari perjalanan yang memperlihatkan bahwa belajar bukan tentang seberapa cepat seseorang menyelesaikan materi, melainkan bagaimana ia terus berusaha memahami dan memperbaiki dirinya.
Setiap tahap yang berhasil dilewati menjadi pengingat bahwa perjuangan kecil yang dilakukan secara berulang dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang lebih besar.
Dan tanpa terasa, perjalanan itu terus membawa kami mendekati tahun terakhir di pondok.
Tahun Ketiga: Khataman Al-Qur'an Binadzhor, Sebuah Pencapaian yang Berkesan
Tahun ketiga menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kami karena pada tahap ini kami mengikuti khataman Al-Qur'an binadzhor.
Membaca Al-Qur'an binadzhor berarti membaca dengan melihat teks mushaf. Dalam prosesnya, ketepatan bacaan dan penerapan kaidah tajwid tetap menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Bagi saya, khataman Al-Qur'an binadzhor bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan dari awal hingga akhir. Ada makna yang lebih dalam, yaitu bagaimana perjalanan belajar yang telah dilalui selama ini membawa kami kembali pada Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
Setelah melalui pembelajaran Juz Amma dan nadzom Tuhfatul Athfal pada tahun pertama, kemudian nadzom Al-Imrithi dan Al-Maqshud pada tahun kedua, khataman Al-Qur'an binadzhor menjadi salah satu pencapaian yang menandai perjalanan kami pada tahun ketiga.
Rangkaian tersebut membuat saya menyadari bahwa setiap tahun memiliki cerita dan pelajarannya sendiri. Ada ilmu yang dipelajari, ada proses yang harus dijalani, dan ada pencapaian yang menjadi pengingat atas usaha yang telah dilakukan.
Namun, menyelesaikan satu tahap pendidikan tidak berarti bahwa proses belajar telah selesai. Justru, setelah meninggalkan pondok, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga ilmu, mengamalkannya, dan terus memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari.
Muwadaah: Perpisahan yang Menyimpan Tiga Tahun Cerita
Setelah berbagai tahapan tersebut dilalui, tibalah kami pada muwadaah, momen perpisahan yang menjadi penanda berakhirnya perjalanan tiga tahun Aljasiyah 10 di pondok.
Perpisahan selalu membawa perasaan yang tidak sederhana. Ada rasa syukur karena telah sampai pada tahap ini, ada kebanggaan atas proses yang telah dilewati, dan ada pula kesadaran bahwa kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari rutinitas akan berubah.
Bagi saya, muwadaah bukan sekadar akhir dari sebuah masa pendidikan. Momen ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sejak tahun pertama hingga tahun ketiga.
Khataman Juz Amma dan nadzom Tuhfatul Athfal, khataman nadzom Al-Imrithi dan Al-Maqshud, hingga khataman Al-Qur'an binadzhor bukanlah rangkaian pencapaian yang berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari cerita panjang yang akhirnya membawa kami menuju perpisahan.
Di balik setiap pencapaian, ada proses belajar yang perlu dijalani. Di balik berakhirnya masa pendidikan, ada kenangan yang akan tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan.
Muwadaah mengajarkan bahwa tidak semua hal yang berharga dapat diukur melalui apa yang terlihat pada hari perpisahan. Ada pengalaman, kebiasaan, ilmu, dan hubungan yang terbentuk selama perjalanan, yang nilainya mungkin baru benar-benar kita pahami setelah waktu berlalu.
Bagi angkatan Aljasiyah 10, tiga tahun tersebut akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat diulang dengan cara yang sama.
Pesantren Bukan Sekadar Tempat Belajar, Melainkan Tempat Bertumbuh
Perjalanan tiga tahun ini membuat saya memandang pendidikan pesantren bukan hanya sebagai tempat untuk mempelajari kitab, menghafal nadzom, atau menyelesaikan target pembelajaran.
Pesantren juga menjadi ruang untuk membentuk kebiasaan, melatih kesabaran, dan belajar memahami bahwa setiap pencapaian membutuhkan proses.
Ilmu yang dipelajari tentu menjadi bagian penting dari pendidikan. Namun, nilai sebuah perjalanan juga terletak pada bagaimana proses tersebut membentuk cara seseorang memandang kehidupan dan menjalankan tanggung jawabnya.
Bagi saya, keberhasilan seorang santri tidak seharusnya berhenti pada pencapaian ketika masih berada di pondok. Ilmu yang telah dipelajari perlu dijaga, dikembangkan, dan diamalkan ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Karena itu, muwadaah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai momen untuk mengenang masa lalu. Perpisahan juga dapat menjadi pengingat bahwa ada tanggung jawab baru yang menanti setelah pendidikan selesai.
Apa yang telah dipelajari selama tiga tahun akan menemukan maknanya ketika dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui perilaku, cara memperlakukan orang lain, maupun kesungguhan untuk terus belajar.
Aljasiyah 10: Berakhirnya Kebersamaan, Berlanjutnya Perjalanan
Kini, ketika perjalanan tiga tahun itu sampai pada muwadaah, saya menyadari bahwa perpisahan bukan berarti seluruh cerita harus berakhir.
Ada kenangan yang akan tetap tersimpan, ada ilmu yang harus terus dijaga, dan ada perjalanan baru yang harus ditempuh oleh setiap anggota angkatan Aljasiyah 10.
Mungkin setelah meninggalkan pondok, jalan yang kami tempuh tidak lagi sama. Kami akan memiliki kesibukan, tujuan, dan pengalaman masing-masing. Namun, masa belajar yang telah dilalui bersama akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.
Saya berharap setiap pencapaian selama tiga tahun tersebut tidak hanya menjadi kenangan yang diceritakan kembali, tetapi juga menjadi bekal untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Pada akhirnya, muwadaah mengajarkan saya bahwa sebuah perpisahan tidak selalu berarti kehilangan. Terkadang, perpisahan adalah cara kehidupan mengingatkan bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri, dan setiap akhir membawa kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.
Untuk Aljasiyah 10, terima kasih atas perjalanan tiga tahun yang telah menjadi bagian dari cerita ini. Semoga ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, setiap usaha bernilai kebaikan, dan langkah setelah meninggalkan pondok selalu diberi kemudahan.
Sebab, tiga tahun boleh saja berlalu, tetapi pelajaran dan kenangan yang tumbuh di dalamnya akan selalu menjadi bagian dari diri kita.
