Konten dari Pengguna

Di Tengah Keterbatasan, Saya Belajar Bahwa Kuliah Bukan Soal Gengsi

Aida Nur Himayati

Aida Nur Himayati

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aida Nur Himayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto: Diambil ketika selesai Penyaksian Uji WITNESS LSP
zoom-in-whitePerbesar
foto: Diambil ketika selesai Penyaksian Uji WITNESS LSP

Awalnya, saya benar-benar tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Kalau mengingat ke belakang, saya termasuk orang yang tidak punya rencana yang benar-benar jelas setelah lulus SMA. Bahkan untuk sekadar membayangkan bisa kuliah saja, dulu terasa seperti sesuatu yang jauh dan tidak pasti bagi saya.

Waktu saya masih kelas 3 SMA di Madrasah Aliyah Al Hikmah 1 Benda Sirampog Brebes, suasana sekolah mulai dipenuhi dengan pembahasan tentang masa depan. Teman-teman saya satu per satu mulai menentukan arah mereka. Ada yang sudah mantap ingin masuk kampus negeri, ada yang mengikuti berbagai jalur seleksi, dan ada juga yang sudah punya gambaran hidupnya ke depan.

Sementara saya, justru berada di posisi yang berbeda.

Saya bukan tidak ingin maju, tapi saya terlalu banyak mempertimbangkan kondisi di rumah. Sejak awal, saya sudah sadar bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak bisa dibilang mudah. Saat ada expo kampus di sekolah, saya melihat langsung bagaimana biaya kuliah dijelaskan satu per satu. Dari situ, saya mulai banyak berpikir dan bertanya dalam hati sendiri, “Apakah saya benar-benar mampu sampai ke titik itu?”

Ketika pengumuman SNBP keluar dan saya termasuk siswa eligible, seharusnya itu menjadi momen bahagia. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya bingung dan tidak percaya diri. Saya tetap mengisi pilihan kampus, memilih UNNES dan UNJ, tapi jujur saja itu bukan karena saya yakin, melainkan karena mengikuti arus teman-teman.

Hal yang sama juga terjadi saat SPAN-PTKIN. Saya mengisinya tanpa ekspektasi besar, karena di dalam pikiran saya saat itu, saya sudah membatasi diri sendiri untuk tidak kuliah.

Di tengah kebingungan itu, saya juga menjalani kehidupan di pondok pesantren. Bahkan saya dipercaya menjadi ketua pondok. Sebuah amanah, yang jujur saja sangat berat untuk saya yang saat itu masih SMA. Saya harus mengurus banyak santri, mengatur kegiatan harian, menyelesaikan masalah di pondok, dan tetap menjalani kewajiban sekolah.

Ada banyak momen di mana saya merasa lelah, bahkan kewalahan. Tapi saya tetap bertahan karena tanggung jawab itu sudah ada di pundak saya.

Sampai akhirnya, suatu malam saya dipanggil oleh umi nyai. Malam itu benar-benar menjadi salah satu momen yang tidak pernah saya lupakan.

Beliau menyampaikan sesuatu yang sangat besar bagi saya. Saya diminta untuk tetap di pondok, mengabdi, dan bahkan kuliah akan difasilitasi oleh beliau. Tidak hanya itu, saya juga diminta untuk ikut mengajar dan membantu mengelola lembaga pendidikan yang sedang beliau bangun.

Saya sangat tersentuh dengan kepercayaan itu. Tapi di sisi lain, saya juga jujur pada diri sendiri—saya merasa belum siap. Saya merasa kapasitas saya belum cukup untuk memikul semua tanggung jawab itu dalam waktu yang bersamaan.

Saya akhirnya berdiskusi dengan orang tua saya. Dan jawaban mereka sangat sederhana, tapi sangat menenangkan hati saya: mereka mendukung apa pun yang saya pilih, selama itu baik dan saya jalani dengan sungguh-sungguh.

Dari situ saya mulai belajar bahwa hidup bukan tentang memilih yang terlihat paling hebat di mata orang lain, tapi memilih yang paling mampu kita jalani dengan tanggung jawab.

Singkat cerita, saya lulus pada 11 Mei 2024. Setelah itu, saya pulang ke rumah dan menjalani hari-hari seperti biasa. Tapi ada satu fase di mana saya benar-benar merasa tidak tahu arah. Saya seperti berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Sampai akhirnya saya mulai banyak ngobrol dengan teman-teman yang sudah kuliah terlebih dahulu. Dari obrolan sederhana itu, saya mulai mendapatkan banyak sudut pandang baru.

Salah satu teman saya bercerita tentang kampus swasta yang menurutnya masih terjangkau dan cukup fleksibel. Awalnya saya tidak langsung percaya, karena jujur saja dulu saya termasuk orang yang punya pemikiran bahwa kampus swasta itu bukan pilihan utama.

Tapi setelah saya mulai mencari tahu sendiri, saya sadar bahwa pemikiran saya selama ini terlalu sempit. Saya mulai membandingkan beberapa kampus, mencari informasi biaya, sistem perkuliahan, dan peluang yang ada.

Namun sebelum akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk masuk kuliah, saya sempat bekerja terlebih dahulu selama kurang lebih 3 bulan di sebuah PT yang ada di Brebes. Saya bekerja di sana untuk membantu memenuhi kebutuhan pribadi saya ketika nanti mulai masuk dunia perkuliahan. Dari situ saya belajar banyak hal tentang tanggung jawab, disiplin waktu, dan bagaimana rasanya mencari penghasilan sendiri.

Pengalaman itu juga membuat saya semakin sadar bahwa saya tidak bisa terus bergantung, dan jika saya ingin kuliah, saya harus benar-benar mempersiapkan diri, bukan hanya secara mental tetapi juga secara finansial.

Setelah masa itu berjalan, saya mulai kembali mencari informasi lebih dalam tentang pilihan kampus. Saya tidak lagi melihat dari gengsi atau nama besar, tapi lebih kepada apa yang realistis dengan kondisi saya saat itu.

Sampai akhirnya saya menemukan Universitas Pamulang.

Yang membuat saya mulai tertarik bukan hanya karena biayanya yang lebih terjangkau, tapi juga karena saya melihat adanya kesempatan untuk tetap bisa kuliah tanpa terlalu membebani orang tua. Itu hal yang sangat penting bagi saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba.

Dan di sinilah perjalanan saya benar-benar berubah.

Namun perjalanan itu tidak langsung mudah. Bahkan sejak awal kuliah, saya masih berada dalam kondisi keterbatasan. Saya belum memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang perkuliahan dengan baik, dan kondisi itu berlangsung sampai sekitar semester 2.

Ada banyak hal yang harus saya sesuaikan. Ada kalanya saya merasa tertinggal, ada kalanya saya harus berjuang lebih keras dibanding orang lain, dan ada momen di mana saya merasa “kok saya masih di titik ini ya?”

Tapi justru dari situ saya belajar satu hal penting: kalau kita benar-benar mau berjalan, pasti selalu ada jalan.

Pelan-pelan saya mulai beradaptasi. Saya mulai mencoba membuka diri dengan lingkungan kampus. Saya mulai berani ikut kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.

Saya mulai mengikuti beberapa lomba. Awalnya saya ragu, bahkan takut gagal. Tapi saya tetap mencoba. Dari situ saya belajar banyak hal—tentang percaya diri, tentang proses, dan tentang tidak takut salah.

Di saat yang sama, saya juga mulai membangun sesuatu di luar akademik, yaitu di bidang makeup yang saya sukai. Awalnya hanya sekadar hobi dan coba-coba. Tapi lama-kelamaan saya mulai serius. Saya belajar bagaimana membangun branding diri, bagaimana mengenalkan kemampuan saya, dan bagaimana memulai sesuatu dari nol tanpa harus menunggu sempurna.

Di kampus, saya juga bertemu dengan dosen-dosen yang sangat baik. keberuntungan bagi saya bertemu dengan Bu Ari, Bu Candra, Bu Galuh, Bu Diah, dan Pak Reza beserta dosen yang lainnya. Mereka bukan hanya mengajar, tapi juga membimbing dan membuka wawasan saya lebih luas. Saya merasa didukung untuk berkembang, bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi juga sebagai pribadi.

Dari kampus ini juga saya mendapatkan kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya pernah diajak mengikuti kegiatan BNSP yang difasilitasi oleh kampus. Pengalaman itu sangat berharga bagi saya karena membuka wawasan baru tentang dunia kerja dan sertifikasi.

Selain itu, saya juga pernah mendapatkan beasiswa BTN dari kampus. Sesuatu yang dulu saya pikir hanya bisa dilihat dari cerita orang lain, ternyata saya juga bisa merasakannya.

Dari semua pengalaman itu, saya benar-benar sadar bahwa Allah selalu memberikan jalan, meskipun tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan sejak awal.

Ada jalan yang datang cepat, ada yang datang pelan, ada yang harus kita perjuangkan dulu baru kita bisa melihat hasilnya.

Tapi satu hal yang pasti: selalu ada jalan.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kuliah bukan soal gengsi.

Bukan soal negeri atau swasta.

Bukan soal siapa yang lebih dulu terlihat sukses.

Tapi soal bagaimana kita bertahan, bagaimana kita berproses, dan bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada.

Buat kamu yang sekarang masih berada di posisi ragu, bingung, atau merasa tertinggal—saya ingin bilang satu hal: itu bukan akhir dari cerita kamu.

Saya juga pernah ada di posisi itu. Saya pernah tidak punya arah, tidak punya fasilitas yang cukup, bahkan tidak percaya diri dengan masa depan saya sendiri.

Tapi ternyata, selama kita masih mau mencoba, selalu ada jalan yang terbuka.

Jadi jangan takut untuk melangkah.

Jangan takut memilih jalan yang mungkin tidak terlihat “paling hebat”.

Karena yang paling penting bukan di mana kamu mulai, tapi bagaimana kamu menjalani prosesnya.

Dan mungkin, dari langkah kecil yang kamu ambil hari ini, justru itu yang akan membawa kamu ke tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.

semangat yaa...